
Masih di dalam rumah sakit,
Miguel masih duduk dengan melipat tangan nya sambil menyandarkan kepala nya dinding
menunggu.
Kabar dari siapapun yang akan keluar dari pintu dihadapan nya yang sekarang masih tertutup.
Menunggu dengan pengharapan
lahirnya putra mahkota tanpa harus dilakukan operasi.
Pria ini selalu mampu menyelesaikan masalah tetapi sedikit pengecualian untuk hal semacam ini.
Kelahiran pura mahkota yang di luar perencanaan.
***
Sementara di dalam ruangan,
"Bagilah rasa sakit itu dengan ku. " Menatap nanar istrinya
"Lakukan apapun, jangan menahan nya sendiri. " Hazelo menghujani Gabriella dengan kecupan.
Gaby tidak lagi membalas, tubuhnya sudah lemah. Wajahnya pun pucat pasi. Hanya satu keinginan nya,
Yaitu memberi kehidupan untuk sang Putera.
Seketika tim medis terlihat begitu sangat sibuk,
Tangan Nona Gabriella yang menggenggam erat sang suami, berusaha dengan jiwa raga Ia pertaruhkan.
Tidak lagi memikirkan akan terjadi apa pada diri sendiri demi untuk satu tujuan. Kehidupan untuk putra nya.
Hazelo terus memberi semangat, tidak perduli lengan atau bagian tubuh yang lain Gabriella cengkram sekuat tenaga.
Dan ahirnya
Seorang bayi laki laki terlahir dengan berat badan 1,9
panjang 49cm
Sangat mungil dengar mata bayi itu masih tertutup, tidak menangis dan tubunya lemas juga biru.
Gabriella menangis, menoleh pada perawat yang tampak sangat cemas.
Gabriella mengerti, putra nya tidak baik baik saja.
Ia sentuh pipi Hazelo lalu tersenyum. "Berjanjilah pada ku, Selamatkan anak kita, lakukan yang terbaik untuk nya. Demi Aku. "
Lirih Gabriella, wajah nya telah pucat pasi dan suara nya terdengar lemah.
Mata yang sayup itu akan tertutup.
"Sayang bertahanlah, ku mohon. "
Hazelo yang seketika memeluk istri nya. Tubuhnya bergetar, tidak ada suara apapun selain
Pelukan erat Hazelo pada istri nya, tetesan air mata yang juga membasahi Gabriella yang lemah dengan mata yang tertutup.
__ADS_1
Namun detak jantung Gabriella masih terasa pelan dengan nafas yang pendek.
"DOKTER!!. " Suara Hazelo menggema.
Tim medis seketika terlihat sangat panik,
Putra mahkota yang terlahir dalam keadaan tidak baik baik saja,
Tubuh nya lemas, dan seketika dokter itu melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum perawat itu membawa nya keluar dari ruangan menuju ruangan khusus dengan perawatan intensif.
Dokter yang lain pun terlihat begitu sangat panik memeriksa keadaan Nona Gabriella.
Alat medis pun di pasangkan pada tubuh yang lemah itu.
Pendarahan Nona Gabriella tidak usung berhenti, meski serangkaian usaha telah di lakukan.
Perawat mengambilkan kantung darah untuk di lakukan tindakan transfusi.
"Bertahan lah sayang, ku mohon. "
Hazelo mengusap kasar wajah nya sambil berlutut di samping bed istri nya
tempat Gabriella berbaring.
Perawat yang mendorong dengan alat medis khusus membawa putra mahkota menuju ruangan lain.
Miguel yang melihat pintu di hadapan terbuka, seketika bangkit dari duduknya mendekat.
Dua perawat wanita keluar dari ruangan itu.
"Apa yang terjadi?"
"Tuan, ini putra tuan Hazelo. " Menunjukan bayi mungil yang berada di dalam sebuah tabung transparan dengan alat medis terpasang.
Miguel terenyuh. Terdengar dari cara nya bernafas berat.
"Aku permisi tuan. " Dengan tergesa-gesa perawat itu membawa putra mahkota.
Sementara perawat yang lain tetap tinggal untuk melaporkan pekerjaan.
"Tim Dokter sedang melakukan tindakan. tuan"
"Nona Gabriella juga mengalami pendarahan hebat dan sedang di lakukan tindakan transfusi. " Menjelaskan.
"Kemungkinan membutuhkan beberapa kantung darah. "
"Jika tidak mencukupi, Gunakan saja darah ku. "
Miguel menyodorkan sebuah kartu.
Ini?
Perawat itu terkejut melihat kartu berlogo PMI lengkap beserta golongan darah pun tertera di kartu yang sekarang di tangan nya.
Golongan darah yang sama dengan nona Gabriella.
Kartu berlogo PMI itu yang hanya dimiliki seseorang jika terbiasa mendonorkan darah nya.
Perawat itu sangat tidak menyangka, pria yang terlihat angkuh di hadapan nya itu memiliki sisi mulia.
__ADS_1
"Ada apa?. "
Suara itu membuyarkan lamunan.
"Ma- maaf tuan, ini milik anda.
Akan kami hubungi jika nanti di butuhkan."Menyerahkan kartu itu pada pemilik nya.
Miguel menerima itu.
" Saya permisi tuan."
Perawat itu sedikit membungkuk kemudian pergi dari sana.
Miguel menyandar di dinding. Ia benturkan kepala nya di sana.
Gurat cemas terlihat," entah bagaimana perasaan tuan muda saat ini" fikirnya.
*
Dan benar saja,
Beberapa kantung darah yang dipersiapkan tidak mencukupi,
Pada ahirnya
Pria yang selalu terlihat angkuh itu kini sedang berbaring tenang di atas bed rumah sakit.
Untuk apa?
Untuk apalagi jika bukan untuk menyumbang kan darahnya.
Ketika tadi sempat terjadi kepanikan di dalam ruangan
perawatan nona Gabriella.
Seorang perawat mengatakan pada Dokter.
"Tuan Miguel akan mendonor. "
Membuat Dokter itu berkerut dahi memastikan yang Ia dengar.
Terlebih perawat lain yang ada di dalam ruangan terperangah.
"Apa aku tidak salah dengar" batin nya tadi.
"Mungkin sosok angkuh itu sedang mengalami gangguan jiwa, " Fikir nya dalam hati masih tidak percaya.
Tapi tuan Miguel sangat setia pada tuan Hazelo, sepertinya itu wajar.
Batin mereka lagi berkelut dengan fikiran nya sendiri.
Miguel kini menatap sedang langit langit ruangan, terlihat begitu tenang. Bernafas dengan damai seperti manusia normal.
Selang itu masih terpasang di tangan,mengalirkan darah.
Tidak nyampah lelah atau lemas sedikitpun.
Semua terlihat biasa biasa saja, sepertinya sudah terbiasa Ia melakukan hal semacam ini.
__ADS_1
tidak ada yang tahu.
Apa yang sedang Miguel fikirkan pun hanya Dia dan Tuhan yang tahu.