
Di dalam Villa.
Di dalam Villa tepat nya di kamar yang tidak begitu besar, namun cukup nyaman dan tergolong mewah bagi sebagian orang.
"Kemarilah." Hazelo mengulurkan tangan menyuruh
Gaby mendekat. Rambut nya basah, wajah nya terlihat segar malam ini,
tidak lagi gurat cemas terlihat. Menyandar pada sandaran ranjang dengan hanya mengenakan kaos putih polos dan celana pendek. Dari mana Hazelo mendapatkan nya? Tentu saja semua itu urusan Miguel.
"Hazelo, aku tidak nyaman. Tidak bisakah Miguel memilih pakaian yang lebih tertutup? Piyama misalnya?!." Gaby mengherdikan bahu.
Memperlihatkan lingerie yang Ia kenakan sebab
tidak ada pakaian lain yang bisa digunakan untuk tidur.
Oh God, ini sangat menerawang. Bentuk tubuh ku jadi terlihat kan?
Menatap cermin.
Apa yang ada di dalam otak nya? Mengapa memilih pakaian seperti ini.
"Dasar menyebalkan!!."
"Apa yang kau cemaskan, aku sudah melihat semua. Kenapa harus malu." Hazelo mengulum senyum, dari raut
wajah nya tampak senyum licik menghiasi.
"Diam kau Hazelo. Bisakah tidak menggodaku dan membuatku kesal?!."
Berkacak pinggang.
"Marah lagi?!"Hazelo berkerut dahi. "Aku tidak mengerti Kenapa kau hobby sekali marah marah."
"Aku jadi sedih kan jika kau marahi!." Bertopang dagu dengan kedua tangan nya, bibir nya Ia buat maju dengan mata melirik Gabriella
What?! bisa bisanya dia bertingkah imut begitu?."
Gabriella terkejut.
Dari mana kau belajar dan siapa yang mengajari mu!.
Batin Gabriella kemudian mendekati ranjang.
Gaby duduk di samping Hazelo. Menyandarkan tubuh nya
di samping Hazelo.
"Siapa yang mengajari mu bertingkah imut begitu, Kau terlihat menggemaskan lho." Mengusap usap pipi Hazelo kemudian--
Muach..!!
Gaby mencium pipi nya.
"Gaby?."
"Ya?." Gaby menoleh.
"Apa tadinya kau berniat untuk tinggal di tempat sempit seperti ini?." Hazelo menatap serius pada nya.
Gaby mengangguk. "Awal nya iya."
"Lalu kau berniat membawa nya lari dan menjauhkan nya dari ku? Kejam sekali !." Hazelo meringsut menyentuh perut Gabriella lalu mengusap nya. Membuat Gaby terenyuh seketika.
__ADS_1
"Hazelo, aku tidak hamil." menjauhkan tangan Hazelo kemudian memeluk pinggang nya. "Aku hanya merasa jadi penghalang antara kau dan Viona. Dia gadis yang baik, hanya sekali lihat saja
Aku sangat tahu." Gaby menarik nafas nya berat.
"Sangat berbanding terbalik dengan ku." ujar mengulas senyum namun hati nya kelu.
"Kau benar. Kau sangat jahat, Kau bahkan berniat menjauhkan nya dari ku." Sorot mata Hazelo mengarah pada perut Gabriella lagi sebelum Ia menjauhkan tangan Gaby dari pinggang nya.
Raut kecewa terlihat.
"Sudah ku katakan aku tidak mengandung." Mengusap pipi Hazelo. Susah sekali kau diajak bicara.
"Bagaimana kau tahu? Bagaimana kau memastikan nya?." Hazelo menghela.
"Hazelo, Aku--"
Aku-- Maaf
"Sudahlah."
"Eh?." Terkejut ketika Hazelo merebahkan kepala nya di bahu Gabriella. Membuatnya merasa sangat bersalah, nampak terlihat bagaimana rapuh nya Hazelo dan membutuhkan seseorang untuk bersandar
disisi nya.
Rasanya ingin menangis, rasa bersalah yang mencuat membuat Gaby meringsut meraih kepala Hazelo mendekap nya di dada, mengusap kepala Hazelo yang sekarang merebah di dada di tubuh kecil nya.
"Maafkan aku." mengalirkan rasa saat Gaby mengecup kepala Hazelo dalam waktu yang lama.
Hening suasana di kamar itu hingga waktu yang lama....
Terdengar tarikan nafas Hazelo yang telah beraturan, Ya! Hazelo tertidur. Gabriella pun menurunkankepala Hazelo meletakkan nya di bantal perlahan. Gaby memandangi wajah pria yang menjadi suami nya itu, wajah tampan begitu tenang terlihat. "Aku mencintaimu."
Kecup Gaby pada dahi Hazelo.
***
Berdiri di
atas bebatuan seorang pria yang dari perangai nya datar tidak tertarik dengan apapun. Ia lah Miguel.
Berdiri memandang jauh. Tangan nya Ia masukkan ke
kantong celana, tarikan nafas yang menguap menghempas udara yang cukup dingin namun tidak turun salju.
Entah apa yang Miguel fikirkan, masih mematung dan bernafas disana hingga waktu yang lama.
***
Di dalam Villa, Hazelo membuka mata. Gaby belum tidur masih bersandar di sandaran ranjang sambil membuka ponsel.
Hazelo yang membawakan nya tadi kemari. Namun semua yang berhubungan dengan masalalu nya telah Hazelo lenyapkan termasuk Zoe dan Nathali.
"Belum tidur?." Hazelo menarik bantal nya, meringsut merebahkan kepala nya di bahu Gabriella. Bantal di tangan nya Ia peluk meringkuk.
Kau manja sekali.
Batin Gaby sambil mengusap rambut Hazelo.
Gaby bergerak refleks sebab tangan Hazelo mulai menelusuri bagian pe..Rut nya terus menjalar ke atas sambil memejamkan mata.
"Hazelo apa yang kau lakukan?!." Menahan tangan Hazelo agar berhenti bergerak.
Hazelo menyeringai, menarik lingerie Gabriella agar menunduk
__ADS_1
lalu--
"Haze.. Mmmmm"
Tidak membiarkan Gaby bicara Hazelo menutup bibir Gaby dengan bibir nya.
"Aku tidak bisa bernafas!." Ngos ngosan mendorong kepala Hazelo yang bergetar menahan tawa,
tawa nya Ia tutupi dengan bantal putih itu.
Imut nya. Kebahagian merasa istimewa sebab hanya dia yang melihat tingkah Hazelo yang tidak pernah Ia tunjukkan pada orang lain.
"Aku hanya berusaha mengabulkan yang kau ingin kan." Bangkit dari tidur nya meraih pinggang Gaby mendorong menempelkan pada dada nya. Tangan Hazelo menarik tali lingerie yang ada di belakang leher.
"Memang apa yang aku inginkan?." Menahan lingerie itu agar tidak jatuh menutup dada nya.
"Bayi." Senyum licik yang tidak begitu nampak.
"Apa?!." Gaby terkejut.
"Kau menginginkan nya bukan?." Meraih tangan Gaby perlahan membiarkan lingerie itu terjatuh melotot ke bawah, terbuka lah di bagian dada yang masih tertutup Cup warna merah.
"Aku, tidak mmmm" Hazelo tidak membiarkan Gaby bicara, menutup lagi bibir Gaby
dengan bibir nya.
"Kau bilang kau tidak mengandung bukan?."
Gaby masih melongo, mencerna setiap suku kata yang Hazelo katakan.
*Memang nya siapa yang menginginkan aku hami?!.
Tunggu!
Tunggu..!! aaaa*
Mere..ma..si rambut Hazelo yang sudah berada di Da..da nya. Me..lu .mat lembut area paling sensitif
Bu..kit indah yang menjulang, me..non..Jol sangat menggemaskan ketika di sentuh dan di mainkan.
"Aku hanya membantu mu membuatkan nya ya. Maka lakukan ini se..tiap malam, kau akan segera mendapatkan nya." Seringai licik muncul seketika me..re..mas bu..kit itu lagi dan lagi.
Kenapa jadi begini si
Membuat Gaby tidak lagi mampu menahan de..sa..Han laknat yang mendayu Dayu. Saat Hazelo terus menjelajahi
di da..da nya menelusuri se..tiap lekuk nya. Setiap inci tanpa terlewatkan sedikit pun.
Hazelo mulai me.. masukkan milik nya perlahan. "Aaa ..hhhhh."
Suara yang memenuhi ruangan saat setiap kali hen..ta..kan yang Hazelo buat. Menggerak kan Pi..nggul membuat Gaby merasakan ni..ma..t yang mencuat.
Hen..ta..kan di buat dengan ritme yang semakin cepat membuat ran..jang itu bergerak memantul. Pantulan yang sangat er rotis seiring dengan a--degan yang sedang terjadi.
Di dalam kamar, sebuah Villa
Di kota Rio de Janeiro...
-
-
Next...
__ADS_1