
Di Dalam rumah sakit berlogo Grup Walson.
Setelah melewati elevator, Miguel bersama Gabriella sampai di depan kamar dimana Bele dirawat sekarang. Ruang perawatan yang berbeda dari sebelumnya. Fasilitas VIP dengan ruangan sekitar itu telah di steril kan.
Tentu saja sebab tuan muda dan nona Gabriella akan datang berkunjung.
"Silahkan nona." Miguel membukakan pintu kamar dimana Bele dirawat.
Gaby masuk kedalam diikuti Miguel.
Bele terkejut menoleh ke arah pintu "Nona?."
Begitu juga dengan Gustav yang seketika membungkuk menyambut.
Sorot mata Miguel mengarah pada Gustav membuat nya kemudian mundur kebelakang menuju sofa.
Aku mengerti tuan*Batin Gustav yang diusir dengan hanya sekali lirik.
"Hai Bele." Dengan tersenyum cerah Gaby mendekati ranjang tempat Bele berbaring sambil menyerahkan sebaket bunga yang sejak tadi Ia bawa. "Bagaimana bisa kau jadi begini?." Menunjuk perban yang melilit di dahi.
"Aku tidak apa apa nona, Ini hanya luka kecil." Menyentuh kepalanya sambil tersenyum cerah.
" Miguel berlebihan melarang ku untuk pulang. Padahal aku sudah sehat." Berkata kemudian mencium bunga yang ada di tangan nya. "Harum sekali, terimakasih nona."
Hoex!! harum apa nya! Memangnya siapa yang suka bunga mawar.
Tidak semua orang menyukai bunga, nona?!.
Menjerit dalam hati sambil pura pura tersenyum.
"Ternyata ada yang kurang di dalam rumah jika tidak melihat wajah mu yang sangat menjengkelkan!." Meringis dalam candaan.
"Maaf nona, harusnya aku melayani mu." Bele menghelakan nafas nya. "Malah berbaring tidak berguna begini."
"Kau ceroboh dan bodoh! Banyak sopir di rumah, tapi kau malah pergi sendiri. Kau pantas dihukum." ujar Gaby.
"Maaf nona."
"Aku akan menghukum mu dengan segera menikahkan mu dengan dia." Menunjuk kepada Miguel. "Dia kekasih mu bukan?!."
Miguel diam tidak bergeming. Sedangkan Gustav yang sejak tadi duduk di sofa melirik ke arah Miguel kemudian menatap Bele sambil berkerut dahi.
"Bukan nona, Tuan Miguel sudah seperti kakak ku. Kami dibesarkan bersama di dalam naungan tuan Walson. Anda tahu itu kan?."
"Oh ya kenalkan nona, Dia Gustav. Dia lah pacarku." Bele berkata malu malu. Sedangkan Gustav bangkit berdiri.
"Selamat malam nona. Suatu kehormatan untuk saya bertemu dengan anda." Gustav sedikit membungkuk kemudian duduk kembali.
__ADS_1
"Senang bertemu dengan mu." Gaby menoleh pada Gustav, kemudian berbalik menatap Bele. dalam hati nya Ia berkata
"Kalian tidak cocok. Sepertinya pria itu baik dan kau lebih pantas untuk Miguel. Sama sama menyebalkan. Sangat serasi bukan?."Tertawa dalam khayalan.
Tidak lama pintu terdengar terbuka. Sorot mata seluruh penghuni ruangan mengarah kesana.
Pria tampan dengan sejuta wibawa, bahkan pesona nya tersohor hingga mendunia.
"Tuan muda?." Bele terkejut melihat siapa yang datang
"Anda tidak perlu susah payah datang kemari tuan."
" Maaf aku menyusahkan anda tuan muda." ujar Bele merasa tidak enak. Seorang tuan muda Hazelo mau menjenguk pelayan nya di rumah sakit, ini sangat luar biasa bukan?.
Seketika Gustav bangkit lagi berdiri kemudian membungkuk lagi, juga Miguel pun ikut menyambut.
"Istri ku merengek terus meminta ku kemari, aku hanya berusaha mengabulkan yang Ia inginkan." Hazelo mendekati Gabriella memeluk istrinya dari belakang. Sorot mata Hazelo mengarah pada Miguel kemudian berpaling sambil mencium bahu Gabriella.
"Kapan aku begitu?." Bergedik merinding saat Hazelo menciumi nya di belakang leher.
"Kau yang semalaman merengek meminta kemari, kau sudah lihat Bele baik baik saja kan?." Hazelo menciumi Gabriella berkali kali.
Seketika Miguel mengerti apa yang Hazelo maksud dari cara nya memerintah tanpa bicara.
Ya, tuan muda mengusir nya untuk keluar.
"Saya permisi tuan." Miguel pun keluar dari sana sambil menutup pintu perlahan.
"Berhentilah penasaran dengan Miguel. " Hazelo semakin mempererat pelukannya.
Cih! dasar tuan muda, Anda kemari hanya ingin menunjukkan kemesraan mu pada ku dan Gustav.
lebih baik kalian pulang dan masuk saja ke kamar. Kesal Bele.
***
Sementara Miguel keluar dari ruangan itu, melewati elevator hingga barjalan melewati beberapa perawat yang berpapasan dengan nya
sedikit membungkuk menghormati, itulah yang dilakukan perawatan setiap berpapasan dengan Miguel.
Miguel terus melangkah keluar hingga sorot mata nya tertuju pada wanita berambut panjang yang sedang duduk di bawah sorot lampu tamaran di taman sekitar rumah sakit.
"Viona."
Dari belakang saja Miguel sudah mengenali. Inilah yang Hazelo maksud, Miguel faham untuk apa Hazelo mengusir nya sebab ada Viona disini.
Miguel juga tahu sebab Viona disini mengapa dan apa yang sedang dilakukan.
__ADS_1
Miguel berjalan mendekat, tanpa Viona sadari Miguel sudah berada tepat di belakang pun ahirnya duduk disamping.
"Eh?." Viona terkejut "Megi?." Viona menoleh pada Miguel.
"Pulanglah."
"Tuan muda yang menyuruh mu?."
"Miguel diam, begitupun dengan Viona.
Angin berhembus lewat begitu saja, hingga beberapa menit saling bungkam dalam waktu yang lama.
Di bawah lampu yang tamaran di taman rumah sakit.
***
Rintik hujan mulai membasahi wajah dan rambut Viona, Sejak tadi saling diam ahirnya Miguel buka suara. "Aku antar kau pulang sekarang."
Miguel bangkit berdiri meninggalkan Viona, rasanya ingin sekali menolak namun tidak kuasa, hanya pasrah mengikuti pria tinggi tegap yang punggung nya terlihat menjauh.
"Kalian selalu saja berbuat sesuka hati."
Viona berkata pada Miguel yang masih mencengkram kemudi melajukan mobil.
" Kau mendengarkan ku Megi?." Suara lembut khas Viona terdengar, Membuat Miguel menghelakan nafas nya perlahan.
"Ya."
"Kau hafal Sekali jalanan ini ya?. Benar juga, tidak mungkin kau tidak tahu tempat tinggal ku yang baru." Sengaja Viona memancing, namun sia sia sebab Miguel tidak menanggapi.
Sudah Viona duga, perihal diterima nya Ia di perusahaan ternama hingga mendapatkan fasilitas apartement meskipun Ia karyawan baru, bukanlah kebetulan. Terlihat sekarang Miguel mengantar nya ke apartement itu seperti sangat hafal jalan menuju tempat tinggal Viona yang sekarang. Yang memang tidak jauh dari apartement dimana Miguel tinggal.
"Tuan muda ingin kau hidup dengan layak."
Miguel berkata sambil fokus pada kemudi.
"Kalian melakukan ini untuk menunjukkan kekuasaan? "
"Kau salah faham." pungkas Miguel.
"Sudahlah Megi, aku tidak apa apa. Sebaiknya kalian tidak lagi mencampuri urusan ku." Viona memalingkan wajah menatap ke luar kaca di sampingnya.
Rintik hujan semakin deras, udara dingin menyelimuti.
Viona yang hanya mengenakan dress tipis merasa cukup kedinginan. Miguel melirik Viona yang sedang melipat tangan di dada dengan mata yang telah memejam.
Miguel melihat itu, wanita cantik tertidur dengan pulas nya di dalam mobil. Miguel menepikan mobilnya, seketika melepaskan jas nya, kemudian menyelimuti tubuh Viona.
__ADS_1
Miguel kembali melajukan mobi itu hingga mereka sampai di parkiran apartement.
Next