Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
2 Episode terahir


__ADS_3

Di Dalam Mansion


Dan untuk pertama kali nya Gabriella membuka pintu kamar baru yang ada di lantai dua.


Design interior yang mencengangkan, sangat elegant, menarik dan indah untuk baby boy dari kalangan bangsawan.


Seleramu bagus juga Miguel


Gabriella meletakkan baby boy itu di atas ranjang perlahan. Tidak ingin membangunkan bayi nya yang tertidur dengan nyaman.


Hazello yang berada di samping Gabriella merendahkan tubuh nya mengecup dahi putra nya. "Tidurlah dengan nyaman junior. Selamat datang di rumah mu. Ini kamar mu."


"Kau terlihat begitu manis jika memejam."


"Sssttt." Pelankan suara mu. Jangan mengganggu nya."


Bayi mungil, imut, tampan dan lucu. Sangat menggemaskan.


"Baik, aku ganggu saja Mommy nya." Menggelitik.


"No Sayang, Stop." Melirik ke arah Miguel yang masih berdiri di tempat nya.


Gabriella melihat lihat seisi kamar interior sempurna yang membuat nyaman.


Miguel menekan tombol yang terdapat di sisi dinding membuat tirai dan dinding bergeser.


Pakaian untuk putra mahkota tesusun rapih dalam ruangan khusus berdinding kaca, sepatu sepatu mungil tersusun rapih disana.


Sorot mata Gabriella tertuju ke sana, membuat Gabriella ingin mendekat.


"Miguel, terimakasih untuk kerja keras mu." Gabriella meraih pakaian bayi lalu mencium nya.


"Miguel sedikit membungkuk. Itu semua perintah dari tuan muda. Berterimakasih lah pada nya Nona."


Gabriella terkesima dengan apa yang Ia lihat kali ini. "Bisakah kau tunjukan siapa designer nya?. Aku ingin tahu." penasaran.


Miguel diam.


Menunggu perintah tuan Hazelo.


"Undang dia saat perayaan Miguel." Balas Hazello sambil memeluk istri nya dari belakang lalu mengecup bahu.


"Aku merindukan mu sayang." menggigit bahu.


"Kau libur untuk beberapa bulan kedepan tuan muda. Jangan merengek meminta apapun dari ku." Masih trauma akan drama melahirkan dua bulan yang lalu.


"Baik lah, Nyonya Hazelo. Tapi jangan larang Aku memeluk mu sepanjang malam."


Berkata sambil melirik miguel.


"Baik tuan muda"


Mengerti saat di usir keluar dari kamar hanya dengan sekali lirik.


"Kenapa dia pergi? Kau mengusir nya?."


"Dia mengganggu. Biarkan saja dia keluar." Menghujani istri nya dengan kecupan setelah pintu kamar itu tertutup.


Hazelo mengeluarkan kotak kecil berwarna putih dari kantung jas nya menunjukan pada Gabriella.


Hanya dengan sekali tekan, kotak perhiasan itu terbuka.


"Apa ini?."


"Ini untuk mu. Kuharap kau menyukai nya." Meraih liontin itu. "Aku bantu kau mengenakan nya."


Gabriella menyibak kan rambut, membiarkan Hazelo menyematkan liontin itu di leher. Berlian kecil yang harga nya fantastis.


"Kau menyukai nya?." Hazelo menatap cermin yang memperlihatkan bayangan mereka.

__ADS_1


"Apa ini kau yang memilih?." Gaby menyentuh liontin itu. "Kau memberiku banyak perhiasan tapi bukan kau yang memilih."


"Ini tidak ada hubungan nya dengan Miguel. Aku yang memilih khusus untuk mu. Bahkan Aku bisa pastikan ini hanya ada satu di dunia ini dan kau lah yang memiliki nya".


"Sayang, terimakasih." Berbalik memeluk Hazelo.


Hening suasana di dalam kamar, Gabriella masih melingkarkan tangan nya di tubuh Hazelo.


"Mengapa kau menangis. Kau tidak menyukai nya?." Hazelo melepaskan pelukan mengusap air mata.


Gabriella menggelengkan kepala.


"Aku sangat menyukai nya, Aku menangis karena bahagia.


Tetaplah seperti ini, Jangan pernah kau beruban dan Teruslah untuk mencintai aku."


"Aku berjanji." Kecupan hangat mendarat di bibir Gabriella.


*


Miguel keluar dari kamar putra mahkota.


menutup pintu dengan hati hati, terus melangkah hendak menuju ruang kerja di lantai bawah.


Dari bawah sana nampak Dokter Faros yang berbinar melihat Miguel menuruni anak tangga.


Oh God, kejahatan macam apa ini. Hanya menuruni anak tangga saja kau begitu terlihat sangat tampan


Blingasatan sendiri merapikan pakaian sambil menyusun rencana apa yang pantas agar mereka bisa berpelukan.


What?! Berpelukkan??


Ya, itulah yang ada di otak Dokter Faros. Mencari celah agar bisa dekat dengan sang idola.


Sambil melangkah elegant mengayunkan kaki jenjang yang dihiasi high heals nya menuju ke arah Miguel.


Aku pura pura jatuh saja,


menjatuhkan diri di tubuh Miguel. Dia pasti akan menahan ku.


Yes!!


Dia akan menangkap ku dan memeluk.


Oh my God, membayangkan saja Aku sudah bergetar.


eh, sial. Air liur ku menetes.*


Jika Dewi keberuntungan ku sedang berpihak, dia akan mengangkat ku ke kamar mengobati kaki ku yang terkilir.


Otak nya melanglang buana, membayangkan kaki nya terkilir, jatuh dan di angkat Miguel lalu di obati di dalam kamar.


Rencana sudah matang dia buat dalam khayalan, berjalan dengan tergesa dan berpura pura jatuh dan menjatuhkan diri di samping Miguel agar Miguel menahan dan jika beruntung Dia akan memeluk.


Itulah rencana Dokter Faros.


Dengan langkah yang sudah di buat se elegant mungkin, Dokter Faros menaiki anak tangga.


Sedikit melirik ke atas dimana Miguel sedang turun.


Cih, dia sedikitpun tidak melirik ku.


Saat Dokter Faros berpapasan dengan Miguel, Saat itulah moment yang tepat terjadi.


Gubrrak!!


"Aww!!."


Dokter Faros terjatuh membentur anak tangga. Semua harapan sirna, menguap seperti debu padang pasir yang tertiup badai.

__ADS_1


Miguel tidak menangkap nya malah mundur satu langkah untuk menghindari Dokter Faros.


"Ada apa Dokter." Seringai menjengkelkan terlihat.


Sialan!.*


Aww, sakit.*


"Kau kejam sekali. Aku terjatuh dan kau tidak menolong ku?." Aura memelas yang dibuat buat.


Namun yang diajak bisara sedikitpun tidak merespon.


Dengan susah payah Dokter Faros bangkit berdiri.


Mengulurkan tangan nya pada Miguel berharap untuk di tolong.


Setidaknya tolong aku sekarang.


Miguel sedikitpun enggan merespon.


Memilih melanjutkan langkah nya dengan santai dan memasukkan tangan kedalam kantong celana.


"Hi, tolong Aku. Kau mau kemana?!."


"Aku sibuk Dokter, tidak ada waktu untuk meladeni mu." Terus menuruni anak tangga tanpa menoleh kebelakang.


"Urus diri mu sendiri Dokter."


Sialan!.


Sambil mengumpati Miguel Ia bangkit berdiri.


Terhuyung huyung sebab kepala nya terasa cukup nyeri akibat benturan anak tangga.


Awas kau Miguel


Bele yang terbahak bahak melihat kejadian itu membuat Dokter Faros makin kesal memalingkan wajah.


"Cih! bukan urusan mu. Enyahlah Bele." Melengos.


Bele semakin terbahak.


"Bisa diam tidak?." Semakin kesal saat berjalan dan sial nya kaki Dokter Faros benar benar terkilir.


"Miguel sialan!."


Melihat Dokter Faros yang kesulitan berjalan Ia pun merasa iba kemudian mendekat.


"Mari Aku bantu Dokter."


"Aku bisa sendiri." Menepis.


"Jangan keras kepala." Bele pun merengkuh memapah Dokter Faros.


"Berhenti lah mengejar nya, kau akan lelah dan terlihat menyedihkan." Tutur lembut Bele menasehati sambil terus memapah perlahan menuju kamar tamu.


"Aku tidak mau. Tidak akan pernah."


"Kau akan kecewa dan sakit hati." Balas Bele.


"Aku tidak perduli. Aku tidak perduli meski Miguel mengacuhkan ku. Aku tidak perduli meski ribuan kali Miguel menolak ku, Aku tidak akan pernah perduli meskipun ribuan kali Aku di acuh kan.


Aku akan terus mengejar nya. Bahkan aku tidak perduli jika Miguel menikah dengan wanita lain, Aku pun akan mengganggu nya. Aku tidak akan berhenti untuk mengganggu Miguel. Karena Aku percaya, hati yang beku akan mencair jika di hangat kan." Ujar Dokter Faros dengan percaya diri.


"Aku yang akan menghangatkan hati Miguel dan mencairkan hati nya yang beku."


"Namun terkadang realita yang tidak sesuai dengan khayalan kan?. Hari ini contoh nya,".


Balas Bele

__ADS_1


__ADS_2