
Piazza Del Colosseo, Rome ITALY
Sesuai janjinya semalam, Hazelo akan mengajak Gabriella berkeliling. Dengan mengendarai Limousine. Hazelo duduk berdampingan dengan Gabriella di kabin belakang. Menoleh pada kaca menatap jalanan. Hening suasana di dalam mobil, Hazelo membiarkan Gabriella berkelut dengan fikiran nya mengenang tempat dimana masa kecil nya pernah kemari. Sedangkan Miguel mengemudikan mobil itu seperti biasa.
Mobil terus melaju dibawah matahari yang mulai meninggi. Miguel memarkirkan mobil nya kemudian, setelah sampai tempat tujuan.
Kota klasik dengan menara yang sangat terkenal itu. Ya! Colosseum, Sebuah peninggalan sejarah berupa arena Gladiator, tempat pertunjukan besar berbentuk elips yang disebut Amfiteater atau Amphitheatrum Flavium.
Disini lah mereka berada. Tempat awal yang Gaby rencanakan untuk dikunjungi. Memasuki tempat itu berawal dengan rasa bangga dan percaya diri, berjalan disamping Hazelo yang adalah suami nya. Entah sejak kapan perasaan itu muncul Gaby pun tidak tahu. Wajah nya berseri, Sudah sangat lama Ia tidak pernah lagi berkunjung kemari.
"Apakah tidak apa apa anda berada di tempat seperti ini tuan muda?. Seharusnya tempat ini di steril kan sebelum anda kemari." Berkata sambil mengikuti langkah Hazelo di belakangnya.
"Sudah ku katakan tidak perlu, Kita Sudah membahas nya tadi. Gaby menyukai keramaian dan aku akan mengabulkan nya." Balas Hazelo
"Baik tuan muda." Menurut.
Gaby meminta Miguel mengabadikan moment moment disana, membujuk Hazelo agar mau berfoto dengan nya tidak lah mudah. Harus merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan pada Daddy nya.
"Ayo lah Hazelo, sekali saja. Sekali saja Please..."
Hazelo enggan menjawab. Malah yang menjawab para wanita yang sejak tadi memperhatikan Hazelo dan Miguel tanpa Gabriella sadari.
"Wanita yang tidak tahu malu ! Memaksa seorang pria." Gerutu wanita itu namun Gabriella tetap dengar.
"Eh, tunggu itu kan Tuan muda Hazelo." Para wanita histeris sumringah berusaha mendekati Hazelo dengan wajah berbinar seperti sedang melihat sosok Idola yang mereka cintai. Siapa yang tidak mengenal Hazelo, putra dari keluarga bangsawan yang nama nya tersirat di sebagai salah satu keluarga paling ternama di negara itu. Bahkan hingga sampai di Brazil sekalipun.
Wajah tampan Hazelo sesekali muncul di layar televisi juga media sosial. Sebagai pengusaha hebat mewarisi Ayah nya, Tuan Walson. Membuat para wanita terkagum kagum mengerumuni seketika. "Ternyata tuan muda jauh lebih tampan aslinya, dibandingkan saat melihat nya di televisi."
Namun Miguel mengangkat tangan, seketika para wanita itu mengurungkan niat nya. Merinding saat Miguel melirik mereka.
Siapa yang tidak mengenal Miguel, asisten pribadi tuan muda Hazelo yang bagi semua orang perangainya bagaikan serigala, Atau seekor raja singa jantan yang melindungi kelompoknya. ( Oh God..! Mengapa mengekspresikan Miguel seperti binatang?! Maaf Miguel, Siapa suruh kau menyeramkan!.haha)
Gaby seketika menarik tangan Hazelo, membawa nya menjauh. Awalnya biasa saja, namun semakin lama Menjadi pusat perhatian disana oleh para wisatawan membuat nya sangat tidak nyaman.
Apa lagi yang diperhatikan bukan lah Gaby, melainkan Hazelo oleh para wanita cantik dari berbagai negara disana. Lebih menyebalkan ketika mereka para wanita menatap Gaby yang seperti parasit pengganggu.
"Ayo Hazelo, pergi saja dari sini." Gaby menarik tangan Hazelo.
__ADS_1
"Kau yang mengajak ku kemari bukan?! Maka inilah yang akan terjadi." Hazelo dengan santai nya mengikut Gabriella.
"Diam. Menurut saja!."
BRAAAKKK!! Gaby terkejut refleks menoleh pada sumber suara. Menganga melihat apa yang sedang terjadi hingga tanpa terasa menjatuhkan tangan nya yang sebelumnya menarik Hazelo.
Sedangkan Hazelo tampak biasa saja, Seperti enggan berkomentar Hazelo berlalu pergi begitu saja.
Ya, Miguel membant-ing ponsel salah satu wanita. Ponsel keluaran terbaru itu harus hancur teronggok di atas lantai di dalam Colosseum. Membuat Gaby menganga melihat apa yang terjadi.
"Ampun Tuan." Wanita itu bukan nya marah, malah berlutut memohon ampun.
Kreekk..!! Miguel menginjak ponsel itu agar semakin hancur dengan sepatu hitam mengkilap milik nya. Tatapan tajam nya menuduh hingga rongga dada wanita yang sekarang masih berlutut. Dengan sang pemilik ponsel menunduk memohon ampun berkali kali.
Seluruh orang yang menyaksikan merinding melihat kejadian itu, tidak ada yang berani menolong apalagi berkomentar.
"Miguel apa yang kau lakukan?." Gaby ahirnya mengeluarkan suara yang tertahan sejak tadi.
Miguel tidak menjawab, menyingkirkan sepatu nya melangkah mendekati wanita yang sekarang masih berlutut.
"Ini peringatan untuk yang pertama dan terakhir !! Siapapun yang mengambil foto tuan muda tanpa izin, Maka dia pantas mati!." Suara Miguel menggema sebelum melangkah berlalu pergi. Seluruh orang disana merinding melihat itu, Apalagi wanita yang menunduk berlutut semakin bergetar dan menyesali perbuatannya.
Gaby mulai mengerti mengapa Miguel berbuat demikian, Wanita itu mencuri foto Hazelo dengan ponsel nya. Entah kenapa Ia malah sedikit menarik ujung bibir nya merasa pantas wanita itu diperlakukan.
Salah siapa lancang diam diam mencuri foto suami ku! Hahaha RASAKAN..!!
Bergumam kemudian melesat mengikuti Hazelo dan Miguel yang pergi menjauh. "Hazelo tunggu,?!."
***
Di dalam mobil Limousine.
"Hazelo, Kita pulang saja. UPS, maksudku kembali ke mansion." Ujar Gabriella.
"Kau tidak ingin berkeliling." Hazelo berkerut dahi.
Gaby menggelengkan kepala. "Sudah cukup, sepertinya kau tidak cocok jika berada di tempat seperti itu." Gaby mengherdikan bahu. "Membuatmu tidak nyaman dan Miguel harus bekerja keras." Menoleh pada Hazelo. Dan unik nya, Gabriella mulai bicara lembut seperti orang normal.
__ADS_1
"Kau jadi tahu kan, Seperti apa tampan nya wajah ku!." Hazelo menunjuk pada dirinya sendiri.
"Cih!! Memangnya siapa yang mengatakan kau tampan?! Narsis berlebihan adalah penyakit lho!." (Kembali ke mode khas Gabriella) Melengos memalingkan wajah.
Kau memang Tampan sih.
Eh, apa yang aku katakan tadi.* No Gaby! Sadar Woi!!* Batin Gaby berkelir sendiri dengan fikiran nya.
"Ayolah, akui saja."
Gaby terkejut ketika paha nya menjadi berat. Hazelo sesuka hati merebahkan kepalanya disana. "Jangan berkomentar apapun, biarkan aku meminjam paha mu sebentar saja." Hazelo bicara kemudian memejamkan mata.
Gaby menganga tidak habis Fikir. Ingin mendorong kepala Hazelo agar terjatuh namun tentu saja tidak tega.
"Aku ingin tidur." Lirih Hazelo dengan mata uang tertutup. Yang kemudian tarikan nafas nya terdengar beraturan. Ia benar benar tertidur dan menjadikan paha Gabriella sebagai bantal.
" Hazelo Bodoh! Kau Fikir kau siapa? Berbuat seenak nya dan bicara sesuka hati" Ujar Gaby, namun tangan nya refleks mengusap dahi dan kepala Hazelo.
Kondisi kan tangan mu Gabriella.
Lagi lagi Ia memaki dirinya sendiri. Hati dan jiwa nya selalu saja Bertengkar.
"Kau sangan manis dan juga--"Gaby menggantungkan kalimat nya.
"TAMPAN"
ujar nya sambil mendaratkan kecupan nya di dahi Hazelo.
Miguel melirik dengan ujung mata nya. "Cekrek." Diam diam mengabadikan moment itu dengan ponsel nya.
-
-
-
Next
__ADS_1