
"Tu-tuan Miguel?!."
Huuuaaaaa.......!!!!
Mengapa senior memanggil tuan Miguel kemariiii.....!!!!
Mata Noorin sungguh membola saat mendongak benar benar tuan Miguel yang berdiri di sana.
Rasa lapar pun menghilang seketika.
Mata berbinar ketika melihat menu khas negara nya pun sudah tidak lagi berselera.
Cacing cacing yang awalnya menari nari di dalam perut Noorin pun seolah seketika jatuh pingsan setelah melihat sosok Miguel berdiri tegap di hadapan Noorin.
"Apa yang kau lihat?." Suara dingin itu memecahkan lamunan.
Membuyarkan otak Noorin bagaikan terh*an*tam balok di sisi kepala dalam khayalan.
"Tidak tuan, Aku hanya sedikit terkejut. " Ujarnya ramah.
"Aku hanya tidak menyangka tuan David memanggil anda. Silahkan duduk tuan, suatu kehormatan bisa makan malam bersama anda." Ujar Noorin sangat ramah dan sopan.
Sadar Noorin!!
Memekik dalam hati.
Jangan bertingkah seolah kau sangat mengharapkan ini, dengan makan malam bersama pria angkuh itu?!.
Noorin mengutuki kebodohan nya sendiri dalam hati, namun wajah nya selalu bisa metralisir kegundahan hati nya.
Sebenarnya getaran dada yang bertalu berbanding terbalik raut wajah nya,
Noorin bergetar takut.
Takut kalau kalau Miguel menggebrak meja.
Atau bahkan menghempaskan dan membalik meja menghancurkan semua makanan disana.
Eh?
Noorin terkejut, ketika Miguel justru berjalan di hadapan nya dan duduk di sana.
Miguel duduk di hadapan Noorin. Hanya sekat meja diantara kedua nya.
Rasanya ingin sekali kabur dari tempat itu, suasana yang kaku dan dingin membuat Noorin sangatlah tidak nyaman.
Seperti pe..njahat sedang masuk kedalam area eksekusi.
Tidak, lebih tepatnya seperti seekor kalkun yang tersesat masuk kedalam ruang pen-jagal-an hewan.
itulah hal mencekam yang tergambar dalam fikiran Noorin saat ini.
"Silahkan dinikmati hidangan nya tuan." Ujar Noorin lagi memecahkan keheningan. Sebab sudah sepuluh menit mereka berada di tempat ini, namun hanya saling diam tanpa ada ekspresi apalagi pembicaraan.
Miguel pun mulai menusukkan garpu nya pada salah satu potongan daging hendak memasukkan ke mulut nya.
Namun Miguel menghentikan aktifitas nya, saat mendengar Noorin bicara.
"Kita berdo'a menurut keyakinan masing masing." Ujar Noorin dengan polos nya kemudian menengadahkan tangan membaca sesuatu.
Miguel yang melihat itu, meletakkan kembali garpu nya menunggu Noorin menyelesaikan do'a nya.
"Amien" Balas Miguel kemudian memasukkan potongan danging itu kedalam mulutnya.
Noorin yang masih tercengang menganga tidak percaya,
menatap pria yang baru saja meng amini Do'a nya itu.
"Selesaikan makan mu." Ucapan dingin itu lagi lagi menghancurkan lamunan.
__ADS_1
"Maaf tuan." Ujar Noorin kemudian mulai menikmati menu yang telah Ia pesan.
Canggung sekali
Tidak ada obrolan apapun.
Meskipun Noorin sangat ingin mengajaknya bicara, namun kesadaran nya masih waras yang membuatnya mencegah bertanya apapun.
Jika Noorin di tanya Apakah makan malam nya berkesan? Jawaban nya adalah tidak.
Mungkin lebih baik makan bersama orang tuna wicara atau biasa di sebut bisu dari pada makam malam dengan Miguel.
Hening, dingin dan kaku.
Noorin terus mengunyah hingga merasa perutnya sudah penuh dan tidak sanggup untuk menghabiskan semuanya.
Miguel mengangkat tangan nya, tidak lama pelayan itu datang mendekat.
Tanpa bicara apapun Miguel mengeluarkan Card dan pelayan itu menerima dengan hati hati. Tampak disana pelayan itu sangat hormat dengan Miguel.
Sepertinya tuan Miguel sering kemari.
"Tuan, seharusnya Aku saja yang bayar."
"Kau akan menghamburkan sebagian gaji mu."
Ujarnya datar.
Itu benar sih,
ternyata tuan Miguel faham juga.
Membayangkan total tagihan saja membuat Noorin pening kepala.
Ia harus banyak menabung agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Menjadi designer ternama, memiliki butik sediri bahkan Noorin berkeinginan hasil karya nya tidak hanya di kenakan oleh putra mahkota.
Itulah harapan Noorin yang sesungguh nya.
Sebab itulah Noorin harus memiliki uang yang banyak agar harapan nya terwujud.
Makan malam berahir dengan Miguel keluar dari reataurant diikuti Noorin yang berjalan di belakang nya.
Terus melangkah menuruni tangga bebatuan.
"Aaa!!." Noorin refleks menjerit saat tersandung menginjak dress panjang nya sendiri.
Tersungkur ambruk mengenai punggung Miguel yang berada tepat di hadapan nya, dengan Miguel yang refleks berbalik dan menahan tubuh nya.
Dengan tangan kekar Miguel menahan tubuh Noorin untuk mencegah agar Noorin tidak tersungkur ke tanah bebatuan itu.
Pandangan mereka bertemu, secepat kilat Noorin tersadar dan menurunkan tangan nya dari lengan Miguel yang untuk berpegangan tadi.
Gila, Apa yang aku lakukan?!
"Maaf tuan, maaf." Seketika tersadar akan posisi nya
Noorin pun mendorong perlahan tubuh Miguel untuk menjauh.
"Maaf tuan, aku tidak bermaksud untuk um..."
Menggantungkan kalimat kemudian membungkuk.
Miguel hanya diam, Ia terus berjalan menuju mobil nya sedangkan Noorin tetap berdiri mematung di anak tangga bebatuan itu.
Dengan apa aku pulang.
Noorin mencari ponselnya dalam tas, "Ketemu"
__ADS_1
Kemudian Ia hendak membuka aplikasi taxi online.
"Sampai kapan kau akan terus berdiri di sana!."
"Ya?."
Apa dia berbicara dengan ku?
Menoleh sekeliling, tidak ada siapapun.
Miguel masih berdiri di samping mobil dan meraih handle pintu tanpa membukanya.
"Baik." Entah terhipnotis dengan cara apa Noorin tiba tiba berlari menuju mobil.
Apa yang aku lakukan?
Bagaimana jika nanti diusir?
"Masuk!." Berkata sebelum masuk ke mobil.
"Baik tuan." Noorin pun menurut.
Dengan menarik nafas lega Noorin memasang seat belt, menyandar pada sandaran.
Ini kali kedua nya Ia menaiki mobil tuan Hazelo. Menarik bukan?
Tuan Hazelo yang terhormat itu?! Yang nama nya saja disegani seluruh penduduk negara.
Miguel melajukan mobil nya, melewati kota Brazilia yang masih banyak nampak mobil mobil lalu lalang di sana.
Rintik hujan mulai turun. Terlihat dari kaca mobil yang menampakkan hujan itu semakin deras.
Miguel mengurangi kecepatan nya mengemudi.
Meskipun hening, Noorin menyukai malam ini. Pria yang selalu Ia anggap kejam, ternyata memiliki sisi nurani.
Ponsel Noorin bergetar.
Beberapa pesan singkat bermunculan dari David senior nya. Noorin pun membuka dan membaca nya.
(Maaf ya Noorin. Aku meninggalkan mu) Terdapat emoji dua jari.
(Bagaimana dengan makan malam mu apa menyenangkan?) emoji hati.
(Bagaimana kencan buta mu, Noorin? Apakan berkesan?) Terdapat emoji tertawa memperlihatkan gigi nya.
(Oh ya Noorin, pria yang bersama mu. Dia tidak pernah berkencan lho) Emoji tertawa. (Kau beruntung jadi yang pertama)
(Tapi aku meragukan Dia menyukai wanita) Emoji menutup mulut.
(Eh tunggu! Dia tidak menggebrak meja kan tadi?.")
(Gila!! Jangan jangan Dia mengamuk menghancurkan makan malam mu)Emoji menangis.
Noorin yang membaca itu pun bergetar menahan tawa.
Tidak lama muncul pesan lagi sebelum Ia sempat membalas nya.
(Atau jangan jangan kau sedang menangis di kamar sekarang karena Dia menyakiti mu???")
(Noorin maaf) Emoji tangan.
Noorin mematikan ponsel nya memasukkan ke dalam tas.
Menoleh pada Miguel yang masih dian dan fokus dengan kemudi.
"Tuan"
Miguel menoleh sekilas kemudian fokus menatap jalanan lagi.
__ADS_1
"Terimakasih."