Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 105


__ADS_3

"Tuan"


Miguel menoleh sekilas kemudian fokus menatap jalanan lagi.


"Terimakasih."


Ujar nya tulus sambil menoleh pada Miguel yang masih fokus dengan kemudi.


Wajah tegas itu terlihat sedikit melunak meskipun yang diajak bicara sebenarnya tidaklah merespon.


*Padahal aku hanya ingin mengajak nya bicara


Tapi seperti nya itu sangat sulit dan mustahil*.


Noorin mengalihkan pandangan nya, menoleh pada kaca yang nampak panorama diluar memperlihatkan ramai nya kota itu


Hilir mudik mobil yang melintas, Noorin menyandarkan kepala nya di sandaran sambil memandang kearah luar.


Suara yang hening di dalam mobil membuat Noorin enggan lagi untuk bicara.


Sadar diri sebab pria yang sekarang duduk di samping nya itu siapa.


Satu satunya orang yang disegani setelah tuan Hazelo.


Hingga beberapa waktu bergulir dan sampailah mobil itu di area parkir di dalam gedung apartement.


Mobil telah berhenti, namun Miguel belum mematikan mesin mobil nya.


Noorin tak kunjung turun, hanya tarikan nafas nya yang terdengar tenang.


Beberapa menit berlalu Noorin pun masih diam di tempatnya semula.


Miguel menarik nafas nya panjang saat menoleh pada Noorin. Sedikit merasa bodoh bisa bisa nya Ia terprovokasi menerima undangan David dan makan malam dengan wanita ini, lebih bodoh nya lagi Miguel mengantarkan wanita yang sesuka hati tidur dengan pulas nya seperti tanpa dosa itu pulang ke apartement.


Rasa ingin marah pun melunak saat memandang wajah polos itu memejam. Membuat Miguel diam


Entah apa yang Miguel fikirkan hanya dia yang tahu.


Diam dan menunggu Noorin dengan sendiri nya terbangun.


"Sudah sampai."


Ujarnya datar.


Berusaha membangunkan dengan suara di buat meninggi pun tidak tega.


Noorin belum juga bergerak


"Bangunlah"


Sedikit meninggikan suara, Namun Noorin belum juga terjaga.


Hingga Miguel mematikan mesin mobil nya perlahan dan meninggikan suara lebih keras. Namun Noorin juga tidak bergeming.


Ada sesuatu yang bagi nya sedikit berbeda, Tidak seperti biasanya.


Seharusnya Miguel berteriak atau bahkan melempar Noorin keluar dari mobil kan?

__ADS_1


Ini tidak Ia lakukan, sangat berbanding terbalik dan hingga Pada ahir nya Miguel sedikit mengalah,


Kau tidur stau mati*


menarik nafas nya panjang kemudian menjatuhkan kepala nya di atas kemudi, menolehkan wajah nya menatap Noorin yang memejam tenang.


Wajah polos, hati lembut nan ramah. Wanita jujur, cerdas, berbakat dan mandiri. Hanya saja sedikit aneh sebab wanita ini selalu berpakaian besar dan menggunakan Blazer long coat di bagian luar. Selalu mengenakan penutup kepala hingga tidak nampak rambut nya walau sehelaipun.


Sangat tertutup.


Itulah penilaian yang memang sangat pantas diberikan untuk Noorin.


Hingga pada ahir nya Miguel pun ikut memejam di sana, dengan kepala Ia sandarkan di atas tangan yang memeluk kemudi.


Hening suasana di dalam mobil tu. Hanya nafas yang beraturan dari kedua nya tenang terdengar.


Kedua nya memejam di dalam mobil dengan menghirup udara yang sama.


Di dalam mobil, di area parkir sebuah Apartement di kota Brazilia.


***


Alarm di ponsel Noorin berbunyi, nada peringatan yang setiap hari nya mengingatkan Noorin untuk bangun sebelum fajar menyongsong.


Alarm dengan lantunan ayat ayat yang indah itu membuat Noorin membuka mata nya perlahan, meraba ponsel nya di dalam tas untuk mematikan alarm.


Gubrak..!!


Noorin terlonjak hingga menjatuhkan ponsel nya.


Apa yang terjadi?


Ini di mana?


*What?!


Di dalam mobil?


Noorin menepuk pipi dengan kedua tangan,


Sakit


Aku tidak mimpi


Ia baru ingat jika tertidur di mobil semalaman.


Menatap Miguel yang masih memejam dengan kepala bersandar di atas kemudi.


Terlihat teduh dan tenang.


Apa yang harus aku lakukan


Bagaimana jika dia bangun dan melemparkan aku keluar dsri mobil


Miguel perlahan bangun dan membuka mata, mengangkat kepala nya dari atas kemudi menyandar di sandaran kemudian.


Noorin menunduk meraih ponsel nya yang terjatuh. Terlihat di layar ponsel waktu sudah menunjukan jam 4 pagi.

__ADS_1


Aku tertidur semalaman


Miguel memicingkan mata nya, sedikit melirik pada Noorin yang baru saja mengambil ponsel yang terjatuh.


"Tuan, maaf Aku--"


Salah tingkah sendiri.


Bagaimana aku menjelaskan nya?*


"Keluar."


Miguel bersuara, mata nya memejam lagi sambil melipat tangan di dada.


"Eh?." Noorin menoleh. Raut penyesalan terlihat, juga rasa takut yang dengan susah payah Ia tutupi.


"Baik."


Merasa bersalah sambil meraih handle pintu untuk keluar dari mobil.


Noorin mengurungkan niat nya.


"Tuan, maaf ya?" Memberanikan diri menoleh pada Miguel dan menatap mata nya. "Kebiasaan buruk ku, saat tidur tidak bisa di bangunkan." Tersenyum pada Miguel.


Apa yang aku lakukan?!


"Selamat malam menjelang pagi tuan. Terimakasih untuk malam ini." Berkata sopan, tersenyum ramah kemudian meraih handle pintu keluar dari mobil.


Noorin, apa yang kau lakukan?! Kau pasti sudah gila!!


"Hati hati tuan." Melambai pada mobil yang hendak pergi dari tempat itu.


Meninggalkan senyum samar terlintas dari bibir pria yang sedang fokus mengemudi.


Noorin meninggalkan area parkir menuju elevator, menyentuh da-da nya menenangkan debaran hati nya yang sempat Ia sembunyikan tadi.


Rasa takut yang menyelimuti Ia hempaskan seiring hembusan nafas nya yang panjang.


Mungkin Viona benar, dia baik meski jahat terlihat.


Pintu elevator terbuka, Noorin melangkahkan kaki nya dengan rona cerah di wajah.


Masih teringat ketika tadi Ia memperhatikan Miguel terlelap.


Wajah tampan berbibawa teduh terlihat.


Hingga Noorin masuk kedalam Unit nya masih dengan wajah yang merona.


Saat Ia sampai di depan kamar dan membuka pintu, Ia melihat sebaris ayat yang di kemas indah sebagai hiasan dinding.


Noorin tersadar, saat Miguel terlelap tadi, tanpa sengaja melihat kalung yang melambangkan keyakinan nya.


Dan sekarang Ia juga menatap hiasan dinding yang bertuliskan ayat suci yang indah.


Noorin mengusap kasar wajah nya. Ia sadar, akan perbedaan yang besar. Kasta yang tinggi serta jurang yang dalam dan mustahil dilalui.


Noorin duduk di tepi ranjang. Berusaha menghempaskan rasa yang bagi nya hanya kagum terhadap pria anhkuh itu semata.

__ADS_1


__ADS_2