
Di bawah sinar lampu yang tamaran, di taman kota yang telah nampak sepi.
Bahkan tanda tanda kehidupan seperti nya telah menghilang bak di telan hening nya malam yang larut. Memang sudah saat nya memejam di peraduan untuk manusia yang normal.
Namun tidak untuk pria satu ini, Sedikit pengecualian hanya untuk Miguel. Sebab baru saja Ia keluar dari mobil
setelah menyelesaikan pekerjaan nya.
Ia duduk di kursi taman di bawah sinar lampu yang tamaran.
Selalu begini seperti biasa, menghirup udara dingin yang menghembus di tengah hening nya suasana taman kota .
Lelah nya menguap setelah beberapa saat Ia menyendiri di sini.
Mengudarakan asap yang hanya di tempat ini lah Ia lakukan kecuali ketika emosi nya tersulut mencuat kepermukaan.
Hingga beberapa waktu terlewat.
Tidak ada bunyi suara apapun disana, klakson atau deru mobil yang biasanya melintas pun tidak terdengar di malam yang telah larut. Apalagi bunyi bunyi binatang malam sedikit pun tidak terdengar.
Hanya kunang kunang yang berterbangan kelip nya menari nari menghibur sosok pria dingin si angkuh Miguel.
"Ini sudah malam, pergilah tidur." Suara lembut seorang wanita membuyarkan semua
Fikiran yang berkelit di kepala.
Namun tidak membuat Miguel menoleh, "Kau
sendiri, apa yang kau lakukan tengah malam begini?." Bicara masih sambil mengudarakan asap.
Wanita itu mendekat.
Duduk di samping Miguel, meraih ro*kok di tangan Miguel memasukkan nya kedalam tempat
Sampah.
"Tidak bisakah kau meninggalkan kebiasaan buruk mu?."
"Pergilah, jangan menggangguku." Masih pada posisi nya tadi.
Namun Ia membiarkan Viona membuang benda yang baru saja Ia hisap.
Viona mengeluarkan sesuatu di dalam paper bag yang Ia bawa, setelah memastikan asap tidak lagi terhirup disana.
Sepotong roti masih terbungkus rapih Ia keluarkan.
"Kau melewatkan makan malam mu, sebab itu aku datang.
Memastikan agar kau memakan nya." Mengulurkan pada Miguel.
"Bele?." Miguel menebak.
__ADS_1
"Ya, Kak Bele memintaku mengantar nya untuk mu. Juga berpesan untuk aku memastikan kau menghabiskan nya." membuka bungkusan roti kemudian Ia sodorkan pada Miguel.
Miguel menarik nafas nya panjang "Aku bisa memakan nya sendiri." Ia raih sepotong roti dari tangan Viona.
Viona menyingkirkan tangan Miguel, "Aku suapi." Menyodorkan pada mulut Miguel yang seketika melengos.
"Ayolah Megi." Sodor Viona lagi.
Memelas.
Miguel pun pasrah membuka mulut nya. Dengan raut datar dan pandangan yang lurus kedepan, Miguel mengunyah dan
Terus mengunyah tanpa bicara hingga menghabiskan suapan terakhir.
Viona memperhatikan Miguel, dengan tersenyum Ia berkata
"Kak Bele selalu memperhatikan mu, selalu mencemaskan apa yang masuk ke dalam perut mu setiap hari nya. " Berkata sambil menyuapkan roti yang terahir.
"Pulanglah ini sudah malam." Balas Miguel. Tanpa menoleh pada Viona apalagi mengucapkan kata Terimakasih.
"Tidak kah kau berfikir bahaya nya wanita pulang sendiri selarut ini?."Viona menoleh pada Miguel.
"Apartment mu tidak jauh bukan?." menunjuk Gedung yang memang terlihat.
" 500meter dari sini. Tapi tidak kah kau membayangkan hal buruk yang akan terjadi dalam 500meter? di tengah malam?."
Meski terdengar menghela namun Miguel tetap bangkit berdiri, merapikan Jas dan
"Aku akan mengantarmu."
Tidak ingin berlama lama menanggapi Viona, Ia pun berlalu.
Melangkah menjauh meninggalkan Viona yang masih duduk mematung di tempat nya,
menatap punggung pria yang menjauh pergi hingga menghilang dari pandangan tertutup kabut gelap nya
malam.
***
Di dalam mobil.
Miguel benar benar mengantar Viona kali ini.
Dan untuk pertama kali nya, ada seorang wanita yang duduk di samping kemudi. Ada wanita yang meski tanpa rasa duduk di sana tersenyum pada Miguel yang masih fokus menatap jalanan.
Jika di ingat ingat, mereka pernah satu mobil ketika masa kanak kanak. Juga saat hubungan Viona dan Hazelo diam diam terjalin.
"Ada apa?." Merasa diperhatikan Miguel pun bertanya.
"Tidak, Kau tidak pernah berubah ya.
__ADS_1
Miguel. Tidak terasa kau sudah Dewasa dan aku sudah tua. " Tertawa khas Viona yang kemudian Ia tutup bibir nya dengan tangan. Ucapan lembut dari bibir Viona yang mampu menghipnotis siapapun tidak terkecuali tuan muda Hazelo.
"Tuan muda sudah bahagia, tidak kah sebaik nya kau memikirkan dirimu? Megi?." Menoleh pada Miguel yang sedikitpun tidak merespon.
"Bukan urusan mu"
Bukan hal yang aneh untuk Viona mendapat jawaban ketus itu dari Miguel
yang selalu acuh. Viona sudah terbiasa dengan Miguel yang memang tidak pernah tertarik dengan segala hal.
Viona terus mengoceh ini dan itu, selain dengan Miguel dengan Bele lah Viona juga banyak bicara. Ia pun sedikit menceritakan tentang Noorin sepupu nya.
Viona kemudian diam menoleh ke arah kaca ketika semua ocehan nya tidak di tanggapi. Apalagi yang diajak bicara terdengar menghela nafas yang dapat di artikan menyuruh Viona menutup mulut.
Viona menatap jalanan yang telah sepi di malam yang sudah sangat larut.
Meskipun jarak taman kota dan Apartement Viona tidak jauh,
Miguel memilih jalan yang memutar sebab sangat tahu jika Viona akan bercerita panjang lebar. Hingga Ia memberikan sedikit waktu untuk Viona mengoceh.
Mobil pun sampai di dalam gedung area parkir Apartement Viona.
Apartment mewah inilah tuan muda Hazelo membelikan satu khusus untuk Viona. Di gedung lantai yang nomor kamar nya sama dengan tanggal berakhir nya hubungan mereka.
Sebagai permintaan maaf pada Viona meskipun tidak lah cukup atas luka yang Viona terima.
"Selamat malam Megi." Ujar Viona sambil keluar dari Mobil meninggalkan senyuman.
Yang di ajak bicara tidak merespon kemudian berlalu meninggalkan Viona begitu saja yang melambai.
"Selamat malam Megi, terimakasih sudah mengantarku."
Miguel tidak menyahuti, hanya diam dan fokus dengan kemudi lalu meninggalkan tempat itu.
Namun ekor mata nya menangkap seorang wanita yang berpakaian serba tertutup berjalan dengan tergesa sambil membawa tas laptop dan buku buku di tangan nya. Mata mereka sempat berpapasan namun seketika wanita itu menghentikan langkahnya setelah mobil Miguel melaju pergi.
Sedikit berfikir "apakah salah lihat tadi." Gumam Noorin.
"Miguel, kau tidak pernah berubah." Ujar Viona dengan tersenyum sambil bergegas masuk kedalam apartment.
***
Sementara Miguel melesatkan mobil nya di keheningan malam
kembali menuju rumah nya, di dalam Apartment mewah di tengah kota. Disana lah Miguel tinggal.
Ruangan luas yang begitu dingin sunyi dan sepi, menyambut kedatangan Miguel.
Selalu seperti ini setiap hari nya. sendiri dan sunyi,
Miguel menikmati hari nya di dalam apartement. Melepas lelah, menanggalkan pakaian nya kemudian memutar shower membiarkan air hangat mengguyur sela sela tu-buh nya yang kekar.
__ADS_1