
Noorin di dalam kamar saja seharian ini, Duduk di depan layar lipat nya di meja kerja membuat design tuxedo yang sempat Ia rusak tadi pagi.
Viona pergi entah kemana, tadi berpamitan namun Noorin hanya menyahuti dari kamar.
Sore menjelang malam, terdengar suara Helicopters bergemuruh tidak jauh dari apartement Viona tempat nya tinggal sekarang.
Suara Helicopters yang membuatnya penasaran pun akhirnya
Noorin bangun dari duduknya menuju jendela kamar menyibak tirai.
Terlihat Helicopters itu hendak mendarat di atap sebuah apartement yang tidak terlalu jauh di sana.
Apartement itu kan milik Group Walson.
Helicopters itu benar benar mendarat di atas gedung apartement di sana, Membuat Noorin iseng mengabadikan moment itu dengan ponsel nya.
Noorin merekan Helicopters itu,
Meng Zoom
Agar terlihat lebih jelas.
Bukan kah itu?
Tuan Miguel
Noorin terkesiap ketika melihat pria yang tiba tiba muncul adalah Miguel yang berstelan Jas rapih sedang berlari tergesa mamasuki Helicopters.
Tidak lama Helicopters itupun meninggi mengudara.
Noorin pun memandangi Helicopters yang terus meninggi menjauh hingga menghilang, sambil menyentuh besi tralis yang digunakan untuk pengamanan jendela.
***
"MEGY, Nona Gabriella terluka!. "
Panggilan telepon yang membuat Miguel tersontak kaget.
Ia baru saja mandi seketika Ia meraih stelan Jas nya secepat kilat mengenakan itu tanpa mematikan panggilan telepon.
"APA YANG TERJADI???. "
Bertanya sambil memasang sepatu tergesa.
"Nona terpeleset terjatuh dari tangga. Nona berdarah. " Bele berkata sambil menangis.
"Ini salah ku. " Tangis Bele menjadi.
Miguel mematikan panggilan Bele sepihak kemudian menghubungi seseorang.
"Siapkan Helicopters sekarang!!. "
Miguel memberi perintah sambil berlari dan mengancingkan Jas yang Ia kenakan.
Berlari tergesa menaiki tangga darurat
menuju atap gedung.
Miguel berlari tergesa menaiki Helikopter yang baru saja mendarat di sana.
__ADS_1
Seketika mengudara membawa Miguel terbang meninggi.
***
Beberapa jam yang lalu.
Nona Gabriella masih baik baik saja tadi pagi, Berjalan jalan di pinggiran pantai bersama tuan muda Hazeo dengan tangan saling bertaut erat.
Melangkah bersama tanpa alas kaki di bibir pantai di atas pasir putih.
Menikmati indah nya matahari terbit di senja hari.
"Hazelo, Aku mencintaimu. " Berteriak sekuat tenaga di depan ombak dan matahari yang baru saja muncul.
Hazelo tergelak, Ia melepaskan tautan tangan nya kemudian memeluk Gabriella dari belakang.
"Aku juga mencintai mu. "
Hazelo menenggelamkan wajah nya di bahu istri nya.
"Tidak harus berteriak untuk aku mengungkapkan nya. "
Rasanya bahagia sekali, melepaskan semua urusan di kantor dan berduaan dengan istrinya sepanjang waktu.
"Tidak ada hal yang paling menyenangkan selain menghabiskan waktu dengan mu. "
"Kelak aku akan mengajakmu kemari lagi bersama junior"
Mengecupi bahu Gabriella berulang ulang.
"Terimakasih sayang. " Berbalik memeluk Hazelo.
Setelah menikmati sarapan pagi di depan Villa, nona Gabriella memasuki kamar bersama tuan muda Hazelo.
Bele mengantarkan makan siang mereka ke kamar. Terlihat di balik tirai putih yang tertiup angin.
Nona Gabriella masih di bawah selimut.
Dengan tuan muda Hazelo hanya mengenakan handuk melilit di pinggang nya.
Berkata pada Bele "Letakkan saja itu di meja. "
"Baik tuan muda. "
Jawab Bele kemudian berlalu pergi.
Jangan di tanya aktifitas apa yang terjadi sepanjang hari di kamar itu.
Hingga siang menjelang waktu sore.
Nona Gabriella baru saja keluar dari kamar sebelum insiden itu terjadi.
"Nona, anda membutuhkan sesuatu?. " Tanya Bele.
"Aku hanya ingin jalan jalan. "
"Hati hati nona, Biar aku membantu Anda. "
Bele mengingatkan saat Gabriella menuruni tangga menuju ke arah pantai.
__ADS_1
"Aku bisa jalan sendiri Bele. Kau tidak perlu membantu ku. " Menyingkirkan tangan Bele yang hendak memegangi tangan nona Gabriella.
Bele pun mundur dua langkah.
Terlihat dari kejauhan tuan muda Hazelo sedang berlari di pinggiran pantai, Gabriella pun refleks lari mengejar.
"Sayang ?! "
Gabriella memanggil.
"Nona, hati hati. " Bele memekik.
Dan benar saja, Gabriella terpeleset di sana.
Terjatuh terguling di tangga Villa yang terbuat dari bebatuan.
"No...!!! "
Bele berteriak sambil berlari menolong nona Gabriella.
"TOLONG!!. "
Beberapa penjaga berlari menuju Bele yang berteriak.
Tim medis yang bertugas bersiaga disana berlari mengambil Bed memdorong nya menuju ke arah nona Gabriella Setelah tahu apa yang terjadi pada nona Gabriella.
"Apa yang terjadi?!." Seketika Hazelo pun berlari menuju Gabriella.
"Darah? " Hazelo terkejut mendapati darah di pa--ha istri nya.
Gaby yang tergeletak tidak berdaya.
Hazelo mengangkat menaikan Gabriella ke atas bed yang tim medis bawa.
"APA YANG TERJADI??. " Hazelo menarik krah leher Bele.
Membuat Bele bergetar ketakutan seketika pucat pasi sambil meneteskan air mata ketakutan.
Amarah Hazelo memuncak. "SIAPKAN HELICOPTERS SEKARANG!!. " Hazelo menghempaskan Bele kemudian mengejar tim medis yang mendorong bed itu menuju landasan Helicopters disana.
"Bawa istri ku kerumah sakit. CEPAT!!. "
Pekik Hazelo.
"Baik tuan muda. "
Seketika mereka mengangkat tubuh Gabriella membawa nya masuk kedalam Helicopters dengan Hazelo meletakkan kepala istrinya tepat di atas pa--ha.
Helicopters pun meninggi mengudara menuju rumah sakit yang berasa jauh di luari pulau itu.
SINYAL KODE ZERO.
Muncul sebagai tanda bahaya yang sedang terjadi pada tuan Hazelo.
Tim medis terbaik dari rumah sakit milik tuan Hazelo dikerahkan.
Beserta perawat juga mendapatkan perintah.
Tim medis terdiri dari dokter bedah, Obgyn atau yang biasa disebut dokter kandungan. Juga beberapa Dokter lain juga ikut bersiap.
__ADS_1
Bergegas menyiapkan alat alat medis nya kemudian berlari menuju tiga Helicopters yang telah di siapkan untuk menjemput.
Hingga tiga Helicopters itu pun mengudara meninggi melesat jauh ke udara hendak menuju ke tempat pengirim sinyal zero pada nya.