Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 91


__ADS_3

Anda pergi tanpa aku?" Miguel memastikan.


"Gaby tidak bisa melihat mu. Sebab itu lah kau tetap tinggal. Kau bisa mengirim orang orang mu untuk mengawasi


Aku ingin bersenang senang dengan Gaby"


"Baik tuan muda. "


Hanya bisa mengangguk dan berfikir cara untuk melindungi tuan muda selama jauh dari nya.


Dan tentu saja


Pekerjaan nya akan semakin bertambah.


Ponsel di kantong Miguel bergetar,


Miguel mengeluarkan ponsel itu,


ponsel milik tuan Hazelo yang selalu ada pada nya saat mereka bersama,


tertera


nama My wife di layar.


"Panggilan dari nona, tuan muda. "


Menyerahkan ponsel milik Hazelo.


"Gaby menelpon? tidak biasa nya. Terjadi sesuatu dengan nya?. "


Belum sempat Miguel menjawab,


Hazelo sudah berbicara pada istri nya.


"Ada apa sayang, apa terjadi sesuatu dengan mu? apa perutnya sakit? mana yang sakit. Panggil dokter sekarang. "


Nona baik baik saja tuan muda, nona hanya sedang dalam perjalanan ke kantor.


Dan


Ya, nona pasti menyuruh anda mengusir ku.


"Sayang kau ini bicara apa?. " Terdengar suara Gabriella di ponsel.


"Aku baik baik saja, hanya saja aku ingin datang ke kantor mu. Ini sudah di perjalanan. " Suara Gaby terdengar girang.


"Kau kemari? Mengapa tidak memberi tahu sebelum nya. "


"Aku ingin menemui suami ku, apa harus melapor pada DIA??. " terdengar kesal.


Sudah kuduga


Batin Miguel.


"Datang lah ke kantor kapanpun kau mau. Aku akan menyuruh Miguel pergi. "


"Hoeek... JANGAN MENYEBUTKAN NAMA NYA!!. "


Memang nya ada apa dengan nama ku.


"Baik lah sayang, cepatlah kemari aku menunggu mu. " Dan untuk kesekian kalinya Hazelo mengalah pada Gabriella.


"Bye Honey, Aku mencintaimu. "


tut


Hazelo menyerahkan ponsel nya pada Miguel. Hanya dengan sekali lirik, Miguel sudah mengangguk.


"Baik tuan muda. "


Miguel pun berbalik hendak keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Batalkan semua jadwal."


Hazelo memberi perintah.


What...?!!!!


Memekik dalam hati.


"Baik, tuan muda. " Berbalik lagi menghadap Hazelo.


"Kau urus semuanya. ku tidak ingin bertemu siapa pun"


"Baik tuan muda."


"Aku permisi. " Berkata setelah memastikan tidak ada lagi perintah dari tuan nya.


*


Dan benar saja, Miguel terusir dari kantor. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi, sebab dari satu jam yang lalu Bele melaporkan jika nona sedang bersiap untuk kemari.


Dan Bele yang akan mengawal sesuai perintah Miguel.


*****


Pagi tadi, Ketika Miguel telah keluar dari rumah sakit


Noorin duduk sambil menatap keluar kaca mobil yang sedang berjalan.


Menatap jauh


langit yang berkilauan sebab sorot mentari yang baru saja muncul.


Mobil terus melaju melintasi jalan layang di kota itu hendak menuju apartement milik Viona.


Sunyi, Tidak ada pembicaraan apapun disana.


Orang yang diperintahkan untuk mengantar Noorin pun tidak bersuara tanpa ditanya.


Jas Miguel yang tadi berada di tangan nya, sekarang beralih Ia kenalan.


Masih teringat kejadian malam tadi, Noorin memperhatikan tangan nya yang terbungkus perban. Ia mengulas senyum.


"Ya Tuhan, izinkan aku membalas kebaikan pria itu. Atau jika aku tidak mampu. Engkau balas dengan kebaikan selalu menyertai nya. "


Batin Noorin sambil menarik nafas nya memejam.


Teringat pula saat Miguel meletakkan jas nya di kepala, pergi begitu saja tanpa berkata apapun.


Miguel pria yang baik, meski jahat terlihat.


Itulah yang diucapkan Viona jika Noorin mengeluhkan perihal tuan Miguel pada nya.


Mungkin ini lah yang dimaksud.


Bahkan karena menolong nya, dari kemarin Ia belum istirahat.


"Sudah sampai nona, silakan. " Pria itu membukakan pintu.


"Oh iya, sudah sampai ya?. " Terkejut sebab Ia melamun.


Aku bahkan tidak tahu jika sudah sampai di apartement


"Terimakasih tuan, maaf merepotkan anda. " Noorin sedikit membungkuk di hadapan orang yang mengantat nya.


"Jangan sungkan nona, ini sudah tugas saya. " Pria itu ikut membungkuk merasa tidak nyaman.


"Baiklah nona, saya harus bekerja. Saya permisi. " Ujar pria itu kemudian masuk kedalam mobil.


"Hati hati tuan. " Noorin tersenyum dan melambai.


Ramah sekali wanita ini.

__ADS_1


Batin nya sambil melaju kan mobil.


Tok


tok


Noorin menarik nafas nya panjang sebelum masuk kedalam apartement dan mengucapkan salam.


"Noorin?. " Viona mengejar setelah pintu apartement Noorin buka.


"Kau kemana saja? aku mencemasaskan mu. " Viona menyentuh pipi Noorin dengan kedua tangan nya.


"Perban? " terkejut melihat dahi Noorin juga tangan nya. "Kau kenapa? kau terluka? Apa yang terjadi??. "


"Kakak, satu satu pertanyaan nya. Aku bingung menjawab nya. "


Memeluk Viona.


"Aku tidak apa apa, seseorang menolong ku. "


"Eh? tunggu. "


Viona melepaskan pelukan nya.


Aroma ini?


Viona menatap Noorin.


Ia menyentuh Jas yang Noorin kenalan.


"Ini milik Miguel kan?. "


"Dari mana kau tahu. " Noorin berjalan menuju ke kamar.


Viona mengikuti dari belakang. "Aku tahu itu milik Miguel. Aroma parfum yang hafal diluar kepala. "


Bahkan aroma Hazelo sekalipun.


"Kau bahkan hafal aroma tuan Miguel ya?. " Noorin menggoda.


"Jaga ucapan mu, " Berkata lembut.


"Biar aku tebak, Apa Miguel yang menolong mu semalam?. "


Noorin mengangguk. Di duduk di tepi ranjang sekarang.


"Kau yang menghubungi nya kan?. " Menoleh pada Viona.


Viona terdengar menghela. "Apa Dia menindas mu?. "


Noorin menggelengkan kepala. "Tidak, kau ini bicara apa.


Aku terlalu bersemangat hingga lupa waktu. Keluar dari butik hingga larut dan sesuatu terjadi. Tuan Miguel menolongku. "


Noorin tersenyum pada Viona.


"Aku menarik kata kata ku kak, mungkin dia tidak sejahat yang aku kira. "


"Kau ini, " Viona duduk di ranjang disamping Noorin.


"Aku mengenalnya dengan baik, " Mengusap kepala Noorin.


"Kak, aku pernah melihat mu bersama pria. Hanya tuan Miguel yang selalu kau ceritakan. " Noorin menoleh pada Viona.


"Apa yang kau fikirkan, istirahat lah. Aku mau bekerja. "


Viona keluar dari kamar Noorin.


"Satu satu nya pria yang pernah bersama ku adalah tuan muda. Kau akan terkejut jika mendengar nya. Bukan hanya aroma nya yang aku bahkan hafal diluar kepala.


Cara tuan muda berfikir hingga bagaimana cara aku meredam emosi nya bahkan hafal diluar kepala.

__ADS_1


Rumah yang kita huni pun salah satu nya kenangan yang masih aku jaga. "


"Berbahagialah tuan muda, meski tidak dengan ku. "


__ADS_2