
Klik..
Pintu Apartement terbuka,
"Gelap sekali" Viona meraba dinding kemudian menyalakan lampu. Masuk kedalam rumah nya yang masih tampak gelap dan sepi.
Viona menuju dapur,
sepi
kemudian meneguk air putih sebelum Ia menuju kamar sepupunya.
"Noorin, Kau sudah pulang?." Viona membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar nya.
Masih gelap, Viona pun menyalakan lampu dan mengedarkan pandangan.
Kamar Noorin masih tampak rapih bahkan tidak bergeser se centi pun bantal dari tempat nya semula. Itu artinya tidak ada tanda tanda Noorin sudah kembali.
Viona melihat arloji, Ia berkerut dahi ketika melihat sudah pukul 02.30 dini hari. Tidak biasanya Noorin pulang terlambat. Viona khawatir pun mulai menghubungi nya sambil duduk di tepi ranjang.
Noorin tidak mengangkat ponselnya, membuat Viona semakin cemas dan terus menghubungi nya lagi dan lagi.
"Aku pulang..." Suara nyaring Noorin mengagetkan Viona.
"Kau dari mana saja, Aku mencemaskan mu." Bangkit dari duduk nya kemudian mendekat memeluk Noorin.
"Aku tidak apa apa, Kau jangan cemas." Noorin melepaskan pelukannya.
Meletakkan tas dan beberapa buku di atas meja kerja nya kemudian melepaskan kedua sarung tangan dan Blazer yang Ia kenakan
memasukkan nya kedalam keranjang sambil berkata
"Aku melihat mu bersama tuan Miguel tadi, Aku tidak ingin mengganggumu sebab itu Aku membiarkan mu dan..." Noorin menggantungkan kalimat.
Noorin duduk di tepi ranjang, sedangkan Viona berdiri sambil menyandar di depan meja kerja menunggu Noorin melanjutkan.
"Apa Kau berkencan?." Tatap Noorin pada Viona.
"What?!." Viona terkejut.
"Aku tidak pernah melihat mu bersama pria," Noorin mengherdikan bahu.
" Namun jika masih ada pria di dunia ini. Lebih baik kakak cari saja pria lain. Tuan Miguel sangatlah kejam, Dia tidak baik untuk mu " Lirih Noorin sambil menarik nafas nya panjang menetralkan fikiran nya kemudian menunduk.
*Menyebut Nama nya saja Aku sudah merinding, Apalagi sampai dia jadi kakak ipar ku.* Batin Noorin sambil merinding menghayal kan yang tidak tidak.
Teringat sekali kejadian siang tadi di butik tempat Ia bekerja, Ketika tuan David yaitu senior nya di buat sibuk sebab mendapatkan panggilan ponsel dari tuan Miguel.
Senior sempat keberatan jika Noorin harus membuat 100 design dalam waktu satu malam.
__ADS_1
Sebab itu senior nya terus saja mengumpat mengutuki Miguel yang menurut nya keterlaluan.
Beruntung Noorin tidak bodoh, dan Ia bahkan sudah mempersiapkan itu jauh sebelum hari ini.
Ia bekerja keras untuk membuat ratusan design pakaian terbaik untuk calon tuan muda penerus keluarga Walson kelak.
Mulai dari pakaian pertama saat baru lahir hingga beberapa bulan kedepan.
Noorin harus membuat edisi terbatas untuk setiap design nya,
Terkadang Noorin mengkhayal kan betapa beruntungnya bayi yang akan terlahir dari rahim istri tuan Hazelo.
Hingga semua nya di persiapkan sedemikian sempurna.
Itulah sebab nya Ia berusaha bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang sempurna.
Karya terbaik nya akan di kenakan oleh putra tuan Hazelo, sang penerus Keluarga Walson. Sangat membanggakan bukan?
Besok adalah hari pertemuan nya dengan tuan Miguel. Ia harus menghadap dan melaporkan hasil pekerjaan yang tuan Miguel minta. Membayangkan nya saja sudah membuat Noorin gemetar.
"Ha ha ha." Tawa Viona membuyarkan lamunan.
"Kenapa tertawa?." mendongak
"Apa yang kau pikirkan, Aku tidak berkencan dengan siapapun. Aku dan Miguel dibesarkan bersama. Kau tahu itu kan?." Viona mendekati Noorin kemudian duduk di sampingnya.
"Miguel pria yang baik, Hatinya lembut meski jahat terlihat." Viona menepuk bahu Noorin sebelum beranjak.
Selamat malam." Viona tersenyum sebelum beranjak dan meraih handle pintu.
"Kau selalu mengatakan hal itu, Kau selalu memuji nya Tapi Aku tidak melihat sedikitpun kebaikan pada nya." Noorin mengherdikan bahu nya kemudian merebahkan diri di atas ranjang.
"Kau tidak akan tahu jika tidak mengenali nya dengan baik." Ujar Viona kemudian menghilang dibalik pintu yang tertutup.
"Aku tidak tertarik untuk berkenalan dengan nya." bergedik ngeri tidak mampu membayangkan meski hanya dalam lamunan sekalipun.
***
Noorin menguap setelah selesai menjalankan ibadah. Semalaman Ia dibuat tidak tidur nyenyak membayangkan hari ini.
Noorin menarik nafas nya lagi dan lagi
Menyuplai oksigen menetralisir dirinya yang tegang.
Beberapa waktu berlalu hingga Ia selesai membersihkan diri dan memoles wajah nya di depan cermin. Mengenakan penutup kepala seperti biasa juga tidak lupa sarung tangan yang selalu membungkus jari tangan nya setiap hari.
Blazer long Coat menutup di bagian luar untuk melindungi dari hawa dingin.
Ya, dialah Noorin. Gadis Pakistan yang juga bermata biru selalu berpakaian besar dan tertutup, sedikit berbeda dengan Viona.
__ADS_1
"Kak, aku pergi" Noorin meninggikan suara nya di depan pintu kamar Viona.
Kemudian bergegas keluar dari Apartement meskipun Viona tidak juga menyahut..
Dengan langkah lebar nya Noorin menuju Stasiun Kreta bawah tanah dengan tas berisi laptop dan beberapa buku bertengger di tangan.
Stasiun kereta yang masih cukup sepi. Terus melangkah hingga sampai di depan kreta listrik yang pintu nya telah terbuka.
Dengan langkah tegap nya Ia memantapkan diri.
Hingga kereta pun sampai di stasiun tidak jauh dari tempat nya bekerja.
"Seperti nya tuan belum datang." Noorin meraih handle pintu kemudian masuk kedalam ruangan presedir.
Noorin meletakkan hasil karya nya dengan hati hati di meja, mengeluarkan layar lipat meletakkan di samping file file milik nya. Kemudian duduk menunggu sambil sesekali menarik nafas nya menetralkan dada yang berdebar.
Ceklek.
Noorin terkejut ketika pintu terbuka.
Seketika bangkit berdiri kemudian membungkuk ketika mengetahui siapa yang datang.
"Selamat pagi tuan."
Noorin kembali tegak setelah sapaan nya tidak ditanggapi.
Cih, Angkuh sekali!.
Noorin tidak berani menatap wajah tuan Miguel, dari suara langkah kaki nya mendekat saja sudah membuatnya tegang.
*Ya Tuhan, mengapa tuan David tidak disini?. Satu ruangan dengan manusia seperti tuan jauh lebih menyedihkan dari pada kedatangan malaikat penjabut nyawa. * Batin Noorin.
"Brukk!!" Miguel melebarkan beberapa file di atas meja.
Membuat Noorin terlonjak kaget
lamunan nya pun buyar seketika ketika menyadari Miguel sudah duduk di sofa tepat di hadapan nya.
Noorin semakin bergetar takut namun mimik wajahnya di bangun seolah tidak terjadi apapun.
"Ini design yang anda minta tuan." Berkata dengan sopan dengan mimik wajah tersenyum.
Hati nya tidak sesuai dengan raut wajahnya.
Kembali duduk sambil menunggu Miguel meraih tumpukan kertas di atas meja.
Semakin tegang saat Miguel meraih tumpukan kertas berisi design hasil karya Noorin.
Hening suasana di dalam ruangan itu. Semakin dingin dan beku meskipun tidak ada salju turun di sana.
__ADS_1
Lembar demi lembar Miguel buka.
Hingga lembaran terakhir tanpa komentar apapun.