
Sebaket bunga ditangan terjatuh tanpa terasa, saat Gabriella mengalungkan tangan nya di leher Hazelo dan Hazelo pun menahan tangkuk nya.
Di dalam ruangan, di dalam Mansion
Di kota Brazilia.
***
Gustav turun dari mobil mendekati gerbang tinggi berniat melapor pada dua Security yang sedang berjaga di dalam sebelum masuk.
"Saya Gustav, Memohon izin untuk masuk dan bertemu tuan muda Hazelo." Ujar Gustav pada kamera yang ada di depan gerbang, mendekatkan wajahnya di depan camera agar terlihat jelas wajahnya di depan camera yang menghubungkan dengan layar yang ada di pos security.
"Apakah anda sudah membuat janji?." Balas Security.
"Ya, Saya sudah buat janji. Katakan pada tuan Miguel, saya sudah datang." Ujar Gustav lagi.
"Baik, tunggu sebentar." Balas security sambil telepon menghubungi tuan Miguel.
Sedangkan Miguel masih dalam Mansion tepatnya di lantai bawah di rumah belakang. Sejak tadi masih berdiri di hadapan Bele yang sedang melaporkan pekerjaan nya.
"Lakukan tugas mu seperti biasa." Ujar Miguel pada Bele. "
Jaga nona Gabriella dengan baik selama tuan muda pergi* Begitlah kira kira yang Miguel maksud.
"Aku mengerti." Sedikit membungkuk.
Miguel mengeluarkan ponsel nya, Terlihat di layar panggilan dari security. Miguel tidak menjawab.
"Gustav sudah datang?." Antusias Bele menebak.
"Kau sangat girang ya?"
Tentu saja!
Eh? Kenapa kau tidak senang?!
"Megi tunggu?!." Panggil Bele saat Miguel seketika berbalik meninggalkannya.
Berjalan dengan wibawa nya menuju pintu utama berniat untuk menemui Gustav setelah ia menghubungi security.
"Biarkan dia masuk."
"Baik tuan." terdengar jawaban dari dalam ponsel.
"Megi Tunggu?!." Bele dibelakang nya mengejar.
"Ini jam kerja Bele. Jaga sikapmu!." Nada tegas terdengar. Tentu saja membuat Bele seketika menutup rapat mulut nya.
"Maaf tuan."
Hening.
Suasana di depan pintu utama hingga beberapa menit, Miguel dengan sikap wibawa nya berdiri di depan Bele.
Beberapa menit berlalu dari penjaga gerbang pun membuka gerbang itu, Gustav pun memasuki Mansion dengan mobil nya Ia melaju perlahan hingga sampai di depan pintu utama.
__ADS_1
Namun ketika mobil Gustav terlihat oleh Miguel, seketika itu Miguel berlalu masuk kedalam.
"Megi?." Bele yang tidak mengerti dengan sikap Miguel hanya bisa menarik nafasnya panjang sambil menunggu kekasihnya datang.
Gustav keluar dari mobil, Bele terlihat sumringah berjalan mendekati.
"Kau sudah siap?."
Ujar Gustav sambil mengulurkan tangan.
Bele mengangguk "Aku sangat siap." balas Bele sambil meraih tangan Gustav menggenggamnya erat. Sambil melangkah berdampingan Meraka masuk kedalam Mansion melewati penjaga.
Menunggu di bawah tangga. Itulah yang mereka lakukan sebelum mendapatkan izin dari Miguel bertemu tuan muda.
Ya benar, menemui Tuan muda Hazelo lebih rumit dari pada menemui seorang presiden sekalipun.
Gustav sudah membuat permohonan janji untuk bertemu secara resmi untuk melamar Bele sejak sebulan yang lalu. Tepat nya setelah
Bele siap dan memantapkan hatinya sebab Hazelo telah bahagia.
Namun baru hari ini bisa bertemu.
Segala persiapan sudah dilakukan termasuk memesan stelan jas baru dan semua yang hari ini dikenakan adalah yang terbaru. Berbicara di depan cermin untuk berlatih berbicara saat bertemu dengan tuan muda Hazelo dilakukan jauh jauh hari sebelum nya.
Namun tetap saja semalaman Ia tidak bisa tidur membayangkan hari ini.
"Tangan mu dingin sekali." Bisik Bele.
"Aku gemetar." Balas Gustav yang memang pria polos, jujur dan apa adanya.
"Wajahmu juga pucat."
Teringat lagi peristiwa tempo hari.
"Tuan muda pasti mengijinkan. kau tidak perlu cemas." Mengusap usap bahu Gustav.
"Semoga,
Tapi, Kau lihat kan tadi? Dia sama sekali enggan melihatku." Yang dimaksud adalah Miguel.
"Tuan Miguel itu sangat baik, Meski jahat terlihat." Bele menghela nafasnya.
"Ya, kau sering menceritakan kebaikan nya pada ku." Gustav mengangguk. "Dia menyayangi mu seolah kau adik nya, Aku pernah melihat kehawatiran nya begitu besar saat Ia menghajar ku."
"Gustav." lirih Bele.
"Aku jadi takut tidak bisa menjaga mu dengan baik." Kecup Gustav pada punggung tangan Bele."
Sementara di lantai atas Miguel menuju ruangan dimana Tuan muda Hazelo berada. Memalingkan wajah saat melihat adegan yang sedang terjadi. Sebab pintu ruangan besar itu sama sekali tidak tertutup.
Ya Hazelo masih terus menghujani istri nya dengan ciuman, Berada di pangkuan Hazelo,
Gabriella saat ini. Sambil terus tertawa dan membunyikan piano bersama. Namun bibir Hazelo yang tidak bisa di kondisikan terus saja menciumi daerah ini dan itu.
"Sayang, hentikan. Geli."
__ADS_1
"Tidak perlu dirasakan, fokus saja dengan piano mu."Lagi lagi dengan iseng Hazelo me..re..mas bukit Gabriella.
"Aaaa Hentikan!." Semakin kuat Gabriella menekan piano semakin kuat pula remasan itu.
"Saya...mmmmm" Hazelo membungkam Gabriella dengan bibir nya, seketika refleks mendorong Hazelo dan bangkit dari pangkuan nya kemudian saat Gabriella melihat Miguel berdiri di samping pintu memalingkan wajah.
"Miguel?!."
Astaga!! Sejak kapan Miguel berdiri disana* Batin Gaby menutup mulut nya. "Apa yang kami lakukan tadi?*
Maaluu nyaaa,!!!!!
Hazelo menoleh pada Miguel raut wajah yang biasa saja tidak terlihat sedikit pun rasa malu.
"Maaf mengganggu anda tuan muda, Gustav meminta izin untuk menemui anda."
"Gustav? Kekasih Bele kan?." Gabriella menyahuti.
"Sejak kapan kau perduli dengan yang bukan urusan mu?." Hazelo menoleh pada istrinya. "Apa kau cemburu juga dengan pria itu?."
Apa sih? Gabriella berkerut dahi.
Ya, Ambigu masa lalu mencuat dimana Gabriella menyukai wanita.
"Tidak sayang, kau salah paham kali ini. Aku tidak perduli dengan Bele." menggaruk kepala yang tidak gatal.
Bagaimana menjelaskan nya?.
"Panggil dia kemari." Hazelo memberi perintah.
"Baik tuan muda."
Sedikit membungkuk kemudian berlalu pergi.
Dada Gustav semakin kuat berdebar saat mendengar langkah kaki mendekati anak tangga. Terus turun hingga jarang yang tidak jauh dari Gustav dan Bele berdiri.
"Kau diijinkan menemui tuan muda." Ujar Miguel sambil melihat arloji.
Menandakan jika Gustav tidak memiliki banyak waktu.
"Terimakasih tuan." Sedikit membungkuk kemudian bergandengan dengan Bele mengikuti Miguel menaiki anak tangga, menuju ruangan tempat Tuan muda berada.
"Selamat malam tuan muda." Sapa Gustav di depan pintu yang terbuka.
Bukan nya membalas Hazelo malah fokus dengan tangan mereka yang saling bertaut.
"Eh?."Gabriella terkejut ketika Hazelo meraih tubuhnya menuntun agan duduk di pangkuan nya seperti tadi.
Bele cukup terperangah sebab tuan muda seperti iri dan ingin memamerkan kemesraan pada nya.
Bele sedikit mengulas senyum nya bangga. Seorang Hazelo Walson sampai iri dengan nya dan Gustav. Sebab pernikahan dan cinta yang rumit tuan muda Hazelo lewati.
Gabriella malah merasa bersalah pada Hazelo, dulu bahkan. Ia sering mengeluarkan kata kata yang tidak pantas agar Hazelo segera menceraikan dan Ia bisa hidup dengan bebas.
"Sayang jika waktu bisa diputar, aku akan membuatmu lebih berharga dari Bele."
__ADS_1
-
Next