Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 43


__ADS_3

Malam telah larut, Miguel masih di dalam gedung utama perusahaan berlogo Walson seperti biasa. Setelah sore tadi mengantar tuan muda nya


Ia kembali menyelesaikan pekerjaan di kantor itu, hanya ruangan nya di dalam gedung itu masih terlihat lampu yang belum padam


memang selalu seperti rutinitas yang telah biasa pula bagi Miguel.


Langkah tegap pria itu menggema keluar dari gedung, yang telah sepi


seperti biasa security membungkuk menghormati saat Ia melintas. Hingga


Sorot lampu mobil Miguel pun menghilang melewati gerbang.


***


Sementara di sebuah restoran yang telah tampak sepi, papan Closed Telah terpampang di depan pintu. Pintu kaca sudah tidak nampak, sebab


tertutup rolling door dibagian luar.


Didalam restoran itu tampak kursi kursi yang telah dirapiih kan. Para pelayan restoran pun telah melepaskan seragam kerja mereka.


Disinilah Viona berada, meraih tas selempang nya setelah berganti pakaian kemudian meraih kunci pintu utama restoran di dalam locker.


Ya, Minggu ini adalah tugas nya untuk mengunci pintu dan pulang paling Ahir. Selalu bergilir setiap ahir pekan.


"Selamat malam Viona, sampai jumpa besok." pamit salah satu teman kerja nya melambai setelah seseorang datang menjemput.


"Selamat malam." Senyum Viona pada teman wanita nya sambil membalas


melambai.


Restoran telah sepi, hanya tinggal dia sendiri di dalam, keluar dari sana setelah lampu Ia padamkan.


Mengunci rolling door Kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.


Sepi, suasana di tempat itu.


Viona berjalan dengan tergesa di bawah gelap nya malam. Hanya lampu remang remang penerang jalan yang menghiasi sepanjang perjalanan. Semua outlet di sekitar restoran telah sepi,


semua telah tertutup.


Terus berjalan dengan tergesa di keheningan malam, hanya bunyi sepatu yang Ia kenakan terdengar mengudara.


Rambut panjang yang terikat melambai lambai seirama langkah kaki nya.


Di tangan kanan nya paper bag bertengger.


Tibalah Ia di tempat yang gelap, persimpangan menuju gang tempat Ia tinggal


rumah sewa yang Ia tinggali tidak jauh dari persimpangan itu. Di tempat sempit itu lah Ia bersembunyi untuk menghindari dan meninggalkan tuan muda Hazelo.


"Sepertinya lampu jalanan itu mati." Ujar Viona sambil terus berjalan Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas berniat untuk menerangi langkah


saat ini.

__ADS_1


Brugh..!!


"Aww!."


Praak!!


Viona terkejut ketika menabrak seseorang di hadapan nya, ponsel yang baru saja Ia keluarkan dari dalam tas nya pun terjatuh.


"Maaf, Maaf." Membungkuk meminta maaf, sebab Ia tidak berhati hati dan tidak melihat jalanan tadi.


Tidak ada reaksi dari seseorang di hadapan nya seketika Viona membungkuk meraih ponsel yang tadi terjatuh tadi.


Viona meminta maaf berulang ulang, hingga Ia terkejut ketika menyalakan penerang senter di ponsel.


"Maaf tuan--" Baru menyadari siapa pria itu setelah melihat postur tubuh nya.


"Mi-Miguel?."


Terbata tidak percaya. Mendongak memastikan wajah itu.


"Keluarlah." Ujar Miguel.


"Apa?" Viona berkerut dahi. "Maksud mu?."


"Keluarlah dari persembunyian mu, Kembali seperti kau yang biasa, Hidup dengan baik sebagaimana seharus nya, seperti dulu." Ujar Miguel kemudian berbalik meninggalkan Viona. Melangkah pergi dengan kedua tangan Ia masukkan kedalam kantong celana.


Viona menarik nafas nya panjang, menatap punggung Miguel yang semakin menjauh.


"Miguel Tunggu!!." Viona meninggikan suara mencegah Miguel untuk pergi.


"Aku ingin bicara dengan mu." Suara lembut khas Viona terdengar.


***


Hening nya malam yang semakin larut,


di bawah langit yang tidak nampak bintang bintang disana.


Mendung,


hembusan angin melintasi kulit. Di taman kota yang telah sepi, hanya sesekali terlihat mobil melintas.


Disinilah mereka berada, duduk berdampingan di atas kursi taman kota, dibawah sorot lampu hias yang tamaran. Saling diam hingga beberapa menit terlewat.


"Ada apa?." Miguel buka suara. Melihat arloji yang melingkar di tangan nya, menandakan ia tidak memiliki banyak waktu.


"Apa tuan muda yang menyuruh mu?." Viona menoleh pada Miguel, menunggu reaksi dan kata apa yang keluar dari bibir pria itu.


Hening, Miguel tidak ber reaksi.


" Jawab Megi?." Nada memelas terdengar dari bibir Viona.


"Kau tidak perlu lagi bersembunyi menghindari tuan muda. Terimalah fasilitas dari nya dan hidup dengan baik."

__ADS_1


" Hanya itu yang tuan muda inginkan? Kau sudah tahu jika aku tidak akan menerima fasilitas dan uang nya yang bahkan itu sangat berlebihan bukan. Aku bisa bekerja Miguel, tuan muda tidak perlu mencukupkan yang aku butuhkan."


"Aku ingin tuan muda membuka hati nya untuk nona, menghapus aku yang memang tidak lah pantas untu nya."


Miguel diam. Sangat faham dengan Viona, sejak kecil mereka bersama memang selalu seperti itu pendirian nya.


"Aku mengerti Miguel." Viona menarik nafas nya berat. "Aku mengerti mengapa kau kemari."


" Sepertinya Tuan muda Hazelo berhasil melupakan aku ya? Syukurlah, Awalnya aku cemas lho." Berkata seceria mungkin, menutupi hati nya terluka, tidak! hati Viona menangis.


Pelukan terahir Hazelo masih membekas di ingatan, tatapan nanar nya yang berkaca


Sangat terlihat betapa rindu nya tuan muda Hazelo pada Viona.


Berbulan bulan Ia menghilang, menjauh dari kehidupan Hazelo dengan rasa sakit yang harus diterima, Mencintai pria yang tidak boleh Ia sukai. Yang pernikahan nya saja sudah ditetapkan sejak


kecil, bahkan perbedaan yang mustahil untuk dilalui.


Ada dinding pembatas yang menjulang tinggi, yang memang tidak akan mampu untuk dilalui.


Selamat tinggal, tuan muda.


Selamat tinggal Hazelo. Hiduplah bahagia meski itu bukan denganku.


Viona menunduk. Air mata nya menetes meski telah sekuat tenaga Ia tahan. Dada nya sesak. Hati nya sakit.


Sakit sekali.


*Memang nya apa yang aku harapkan dari tuan muda Hazelo, dasar bodoh!


Viona bodoh*,!


Batin Viona yang menjerit, Viona sangat tahu bagaimana Miguel bekerja. Tidak mungkin Ia kemari sebelum memastikan tuan muda Hazelo bahagia bersama istrinya.


"Aku ikut bahagia untuk tuan muda da nona. memang seharusnya seperti itu bukan?" Tutur lembut Viona, meski dada terasa sesak namun bibir nya tetap tersenyum.


"Jika ingin menangis, menangis lah." ujar Miguel.


"Boleh aku pinjam punggung mu?." Viona tidak mampu lagi menahan, tubuh nya bergetar saat rasa sakit di hati yang semakin mendalam. Miguel pun berbalik meringsut memunggungi Viona yang seketika sesenggukan menangkubkan kepada di balik punggung Miguel.


Membasahi jas Miguel di bagian belakang.


Viona terus menangis, Miguel pun diam tidak menoleh kebelakang. Tidak juga memeluk Viona. Membiarkan saja Viona yang terus sesenggukan menangis di sana, di punggung Miguel Viona bersandar.


Memang selalu seperti itu, Viona yang menangis di belakang punggung Miguel bukan lah kali pertama nya.


Viona sering melakukan itu dulu, bahkan sejak masih kecil. Meminjam punggung Miguel untuk bersandar, menangkubkan kepala di sana melepaskan rasa sedih.


Di bawah hening nya malam, di taman kota


Brazilia....


-

__ADS_1


-


Next


__ADS_2