
Mobil perlahan keluar dari Mansion tuan muda Hazelo, melewati gerbang tinggi kemudian melaju dengan kecepatan sedang melewati kota Brazilia menuju sebuah gedung berlantai tiga berlogo Keluarga Walson.
Miguel Keluar dari mobil, dengan aura sempurna nya yang angkuh dengan sejuta wibawa membuat dua security yang sedang berjaga membungkuk hormat seketika.
Miguel masuk kedalam setelah security menggeser pintu kaca dan terbuka.
Langkah tegap nya melewati deretan pakaian berkelas dan patung patung yang memamerkan maha karya indah sang desainer.
"Selamat siang tuan" Miguel disambut membungkuk dari karyawan yang bekerja disana menyapa nya sopan.
Miguel melewati elevator yang mengantarkan nya menuju lantai tiga.
Di lantai gedung ini lah seleksi designer terbaik itu sedang berlangsung, dari ribuan pendaftar hanya tiga orang yang berhasil masuk kedalam gedung ini dan bertatap mula langsung dengan Miguel.
Pintu terbuka,
"Selamat datang brother." Ujar David menyapa.
David designer ternama yang menangani langsung pembuatan Jas milih tuan muda, bersama Ayah nya yang juga seorang desainer di bawah naungan keluarga Walson.
Miguel diam, Ia melangkah mendekati sofa. Tiga orang yang telah lolos seleksi seketika bangkit berdiri ketika Miguel datang, membungkuk menyapa secara bersamaan.
"Selamat siang tuan."
Miguel tidak menjawab, Ia menuju sofa duduk di sana sambil menyilangkan kaki.
Suasana di dalam ruangan gedung itu seketika mencekik.
membuat tiga orang di hadapan Miguel saling lirik duduk kembali kemudian.
ke tiga designer yang akan lolos itulah yang akan menangani langsung pembuatan pakaian khusus untuk calon bayi tuan muda Hazelo.
Setelah proses seleksi yang panjang tidak mudah memakan waktu tenaga dan pikiran dan lelah tentu nya, mengalahkan ribuan designer yang lain. seketika menguap saat mereka bertiga duduk berhadapan langsung dengan tuan Miguel.
Siapa yang tidak mengenal Miguel,pria yang selalu berdiri di sisi tuan muda Hazelo Walson.
David mendekati Miguel, "Brother kau menakuti mereka." Berkata kemudian duduk di sofa.
Miguel melihat arloji. Sebuah tanda t
jika Ia tidak memiliki banyak waktu.
Dengan sekali lirik ke tiga peserta mengerti apa yang harus di lakukan, mereka mulai membuat berbagai gambar.
Dengan sangat tegang sebab Miguel tetap duduk fokus di tempat nya.
Tiga peserta dan salah satu di antara nya adalah wanita yang baru saja lulus program megister nya sebagai designer. Dengan nilai terbaik dari universitas ternama di Prancis.
Sedangkan dua peserta lainnya adalah seorang pria yang nota Bene adalah seorang desainer senior, bahkan nama nya cukup terkenal di negara mereka masing masing.
Beberapa jam berlalu, Miguel belum juga mengeluarkan suara meskipun Ia telah habiskan secangkir teh yang David berikan.
Puluhan kertas bergambar telah bertumpuk di hadapan Miguel. Semakin membuat suasana tegang mencekik saat Miguel melihat lihat hasil kerja keras tiga kandidat.
Dada berdebar, tangan pun berkeringat.
"Presentasi."
Ucapan Miguel membuat tiga designer tersentak.
Presentasi? itu tidak ada pada daftar keseleksi!!
Mereka pun melakukan yang Miguel perintahkan,dua designer menerangkan detail hingga jenis bahan yang akan dibuat hingga tentang benang dan sebagainya.
__ADS_1
Tiba giliran designer wanita yang baru saja lulus dari universitas, tidak seperti dua pria yang telah ternama dan senior.
Presentasi nya membuat kagum.
"Buatkan aku satu sekarang." Miguel menunjuk gambar yan tergeletak di meja. Sorot mata nya tajam dan serius.
Miguel kau sudah gila?!.
Batin David.
"Baik tuan." Seketika wanita itu meninggalkan ruangan bersama David. Sebelum David bangkit dari duduknya, Miguel berkata.
"Waktumu satu jam."
"What,!!." David keberatan, berusaha membela wanita itu."Tidak mungkin membuat Blazer selesai dalam waktu satu jam!!." David meronta dalam hati.
"Akan selesai 45 menit." Jawab si wanita.
"Kau yakin?." David memastikan.
Wanita itu mengangguk kemudian melangkah keluar ruangan.
"Jika kau bisa menyelesaikan nya Aku orang pertama yang akan mengagumi mu." David berjalan di samping wanita itu.
"Terimakasih "
David membuka pintu, sebuah ruangan besar berdinding kaca berisi ratusan kain dengan tekstur lembut edisi terbatas.
Sutra sutra indah memenuhi ruangan itu. Adalah surga bagi seorang desainer melihat hal yang sangat menakjubkan.
Benang benang emas tersusun rapih di lemari kaca transparan yang seolah sedang menari.
Wanita itu terpana, ini sungguh koleksi yang luar biasa.
David mengangguk. "Ini milik nona, istri tuan muda Hazelo."
"Tapi Aku dilarang menyentuh benda itu, hanya tangan Ayah ku lah yang mampu membuat dress untuk nona, Level ku belum sampai. hahaha." David tertawa.
David sangat menyenangkan dan familiar.
"Cepat kerjakan, kau bisa mati jika tidak tepat waktu."
"Baik."
David memperhatikan wanita itu bekerja, tangan tangan cekatan yang terbungkus sarung tangan itu bekerja dengan profesional.
Hingga 45 menit berlalu.
Wanita itu mengusap peluh yang menetes.
Terdengar Ia mengucapkan disesuatu sepertinya itu ucapan rasa syukur.
"Sudah selesai tuan."
"Wow, Amazing."
"Terimakasih." ujarnya lembut.
"Dari mana asalmu? Kau menggunakan bahasa Inggris sejak tadi."
"Aku dari Pakistan. Tidak bisa berbahasa seperti anda. Tapi jika Aku lolos, Akan aku pelajari."
"Aku mendukungmu, semangat!"
__ADS_1
Wanita itu tersenyum, kemudian keluar ruangan bersama David menuju ruangan dimana Miguel berada.
Pintu terbuka, Wanita itu perlahan mendekati Miguel yang melihat arloji nya.
"Tepat waktu." Batin Miguel.
Wanita itu meletakkan karya yang Ia buat, sebuah Blazer untuk anak laki laki.
Dua pria calon kandidat itu saling pandang, mengagumi dalam hati hasil kerja wanita ini.
Miguel diam, memperhatikan setiap sulur jahitan membuat suasana sangat tegang.
Tarikan nafas terasa sangat berat, David pun ikut berdebar.
"Siapa nama mu?." Tanya Miguel tanpa menoleh pada yang di tanya.
"Noorin."
"Kau di terima." Ujar Miguel sambil meletakkan kertas kertas bergambar milik Noorin di atas meja. Blazer hasil karya Noorin pun Ia letakkan di atas tumpukan kertas.
"Terimakasih tuan." Membungkuk hormat.
Miguel tidak meng idahkan, Ia diam sambil keluar ruangan.
Noorin keluar setelah berpamitan, sikapnya yang ramah membuat David dan dua pria yang tidak lolos tadi melambai pada nya.
"Selamat ya, Bekejalah dengan baik." ujar David.
"Terimakasih, mohon bimbingannya." Sedikit membungkuk kemudian pergi.
Sementara Miguel melangkah untuk keluar dari gedung. Ia berhenti ketika nama nya di panggil. Suara yang tidak asing di telinga.
"Miguel, tunggu."
"Viona.,"
"Aku disini menjemput sepupu ku, ku dengar Dia lolos dan kau sendiri yang menerima. Terimakasih." Menjelaskan tanpa ditanya.
Viona berada di samping Miguel sekarang.
Miguel tidak menanggapi, Ia terus melangkah lebar menuju elevator.
"Dia sepupuku, nama nya Noorin." Menoleh pada Noorin yang melangkah dengan tergesa menyusul Viona tepat di belakang Miguel.
"Ganti pakaian mu,!." ekor mata Miguel melirik Noorin yang berjalan tergesa tepat di belang nya.
Telinga Noorin masih bekerja dengan baik, sangat mengerti jika Miguel tidak suka dengan penampilan nya yang berpakaian besar dan tertutup semua.
"Aku tidak mau!." jawabnya tegas.
Seketika Miguel menghentikan langkahnya.
Membuat Noorin yang terkejut menabrak punggung Miguel.
"Belum pernah ada manusia yang berani membantah perintah ku!."
"Maaf tuan." Noorin mundur dua langkah mengambil jarak,Ia mengusap dahi nya yang membentur punggung Miguel tadi.
"Cukup nyeri" batin nya.
Ia mengambil jeda nafas untuk bicara membela diri. " Tapi pakaian ini selain untuk menutupi tubuhku, Adalah lambang keyakinan dan sebuah prinsip seorang wanita. Juga betapa Aku menghormati diri ku sendiri." Jawab Noorin dengan sopan.
Miguel menghela, Ia diam kemudian melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Diam nya Miguel menandakan Ia tidak ingin membahas nya lagi.