
Di dalam pesta, Saat beberapa tamu telah meninggalkan kediaman tuan Hazelo.
Saat itulah Noorin diperintahkan untuk menghadap. Sesaat sebelum jadwal pertemuan nya dengan nona Gabriella, Ia berjalan melewati beberapa tamu designer ternama yang menyapa nya.
Beberapa diantara nya mengajak Noorin berkenalan, Noorin menyambut mereka dengan keramahan khas nya.
hingga beberapa diantara mereka mengajak Noorin untuk bersulang.
Namun Noorin tidak minum wine , Hanya segelas juice yang sampai saai ini masih bertengger di tangan belum Ia habiskan.
"Ini kartu nama ku Noorin, Mohon disimpan" Salah satu selebritis pendatang baru itu melambai pada nya.
Tidak hanya dia, beberapa selebritis bahkan sampai meninggalkan kartu nama pada Noorin. Ada pengusaha yang secara terang terangan meminta nomor telephone.
Noorin yang berdikap ramah dan menyenangkan, membuat siapapun yang mengenal nya merasa nyaman. Tidak terkecuali seorang anak kecil putri bangsawan Roma yang tiba tiba mendatangi nya.
"Hallo." gadis kecil berusia kisaran 3 tahun mendatangi Noorin, mendongak dan tersenyum pada nya.
Noorin merendahkan tubuh nya, Ia berjongkok. "Hi, princes." Noorin menyentuh lembut pipi nya.
"Kau cantik sekali, Siapa Nama mu." Gadis kecil itu juga menyentuh pipi Noorin.
"Panggil Aku Noorin." Noorin memeluk gadis kecil itu, dan Ia pun menyambut nya.
"Sayang, ayo kita pulang. Daddy memanggil mu." Seorang baby sitter datang menghampiri. Menggendong gadis kecil itu setelah Noorin melepaskan pelukan nya.
"Sampai jumpa Noorin, senang bertemu dengan mu." Gadis kecil itu melambai.
"Bye sayang." Noorin pun membalas melambai pada nya.
Noorin kemudian berpamitan pada para designer yang kebetulan duduk satu meja dengan nya, sedikit membungkuk sebelum berlalu pergi dan meninggalkan gelas kosong nya di meja, melewati para pelayan yang mulai sibuk berkemas sebab pesta sebentar lagi usai.
Noorin berniat menuju lantai dua, tempat dimana Ia di panggil menghadap Nona Gabriella.
Ia melewati ruangan lain yang pintu nya terbuka sebelum menuju ke arah tangga, Noorin tanpa sengaja melihat Dokter Faros dan Miguel di dalam sana, di dalam ruangan dengan pintu terbuka membuat Noorin menghentikan langkah nya dan berdiri mematung.
Meski sebenarnya enggan untuk melihat, namun rasa penasaran yang mengalahkan segala nya.
Di dalam sana, Miguel duduk di sofa dengan beberapa lembar kertas di tangan nya bertengger. Duduk menyilangkan kaki dengan secangkir sereal di atas meja menemani.
Sedangkan Dokter Faros berjalan masuk mendekati Miguel.
"Hi, Sayang. Apa Kau sedang menunggu ku?"
Miguel terdengar menghela, Helaan tidak suka nampak dari cara nya bernafas.
Ia tidak merespon Dokter Faros, memilih fokus dengan berkas yang sedang Ia baca.
Cih! Awas kau ya.
"Hi Miguel." Merebut kertas kertas di tangan Miguel lalu melemparkan ke atas meja.
Apa aku sudah gila.
Meski sebenar nya takut, tapi Dokter Faros sangat ingin melihat Miguel bereaksi.
"Jaga sikap anda Dokter?!."
"Apa hanya Aku yang berani memanggil mu dengan Nama? Aku wanita berani dan sudah masuk dalam kategori idaman mu.
Benar kan?." Berkacak pinggang.
"Anda benar benar ya?!." Menatap Dokter Faros. Wajah nya terlihat kaku dan kesal.
Aura marah terlihat.
__ADS_1
Bukan nya gentar malah terbahak.
Dan berani berani nya wanita ini mengerlingkan sebelah mata. "Aku mencintai mu."
Adegan Dokter Faros membuat Noorin yang melihat nya merinding.
Meski sebenarnya ada rasa sedikit takut di hati Dokter Faros, namun ketakutan itu berhasil Dokter Faros tutupi dengan tawa nya.
Dokter Faros seorang Dokter psikiatri, yang mampu menangani psikis, emosi dan kejiwaan seseorang.
"Anda sakit Jiwa Dokter, Seharus nya anda obati diri anda sendiri sebelum mengobati pasien!."
Miguel hanya menggelengkan kepala, Berniat bangun dari duduk nya enggan untuk merespon.
Noorin terperanjat ketika Melihat Miguel hendak bangkit dari duduk nya dan Dokter Faros mendorong Miguel hingga terduduk kembali di sofa.
Noorin bahkan refleks menutup mulut nya saat Dokter Faros menaikkan satu kaki nya di sofa. Tepat di samping Miguel duduk.
"Menyingkirlah DOKTER!!." Miguel meninggikan suara. Suara menggema membuat Noorin terperanjat.
Bukan nya gentar Dokter Faros merendahkan tubuh nya, Menarik dasi Miguel mendekatkan wajah nya. Masih pada posisi yang sama. Satu kaki nya naik di sofa di samping Miguel.
Kita lihat, sampai dimana pertahanan mu?!.
"Cium Aku sekarang." Dokter Faros menarik dasi Miguel mendekatkan wajah nya secepat kilat.
Gubraggkk..!!
Noorin yang terperanjat akan adegan yang dilihat nya tanpa sengaja menyenggol lampu hias di dinding tidak jauh dari tempat nya berdiri.
Dokter Faros yang terkrjut refleks menurunkan kaki nya dan melepaskan dasi Miguel menoleh pada sumber suara, terlihat Noorin berdiri di sana.
Seketika itu Miguel menyingkirkan Dokter Faros dan bangkit dari duduk nya. Merapikan dasi dan Jas nya kemudian melangkah keluar.
"Maaf tuan, Dokter, Aku tidak sengaja mengganggu anda."
"Menyingkirlah." Ucapan datar terdengar.
"Sekali lagi, maafkan aku." Masih membungkuk.
"Tidak apa Noorin, Kami bisa melakukan nya lagi lain waktu." Dokter Faros menimpali, Ia bicara segirang mungkin.
Apa? Lain waktu?.
Noorin memastikan yang Ia dengar. Bankit dan berdiri tegap setelah Miguel melintas.
"Iya, Lain waktu. Benarkan sayang?." Menggoda Miguel yang sedang berlalu pergi melewati pintu yang terbuka dan menginjak serpihan lampu hias yang tergeletak di samping Noorin.
Krekk..
*Tuan Miguel menginjak serpihan lampu saja sudah mrmbuatku merinding.
Bisa bisa nya Dokter Faros bertindak seberani itu pada nya.
Apa tuan Miguel memang menyukai Dokter Faros? Atau memang mereka sudah berpacaran.
Ah, Sadar Noorin, untuk apa kau mencampuri yang bukan urusan mu*???? Memekik dalam hati.
Tapi Aku penasaran.
Melirik Miguel yang melintas di samping nya sekarang.
Namun yang Dokter Faros goda terlihat acuh dan pergi begitu saja.
Artinya mereka tidak berpacaran.
__ADS_1
"Maaf Dokter, Aku mengganggu anda." Berbicara sopan, sedikit membungkuk dan tersenyum.
Itu cara yang ampuh untuh mencairkan suasana.
"Tidak apa apa." Dokter Faros mendekat dan tersenyum.
Ia menepuk bahu Noorin. "Tapi Aku sedikit kesal pada mu, padahal baru saja kami akan berciuman." Berbisik.
Apa?
"Pacarku ingin menciumku Noorin, dan Kau mengganggu nya. Itu sebab nya Dia marah da pergi." Berbisik lagi.
Otak Noorin langsung Blank,
Otak nya mabuk mendenggar pengakuan Dokter Faros dengan percaya diri nya.
Bukan nya Dokter Faros yang menyerang Miguel ya?
Ada ya wanita seberani ini?*
Aaa..Aku tidak sanggup memikirkan nya*
"Bye Noorin, Aku temui pacar ku dulu ya."
Melambai dan pergi.
"Iya Dokter." Noorin hanya manggut manggut, otak nya benar benar Blank kali ini.
Ada ya, wanita sehabat ini.
Dokter Faros berlari mengejar Miguel.
"Sayang, tunggu?!. Kau berkata mau mencium ku kan? Mengapa tidak jadi? Ayo cium Aku sekarang?!."
Kewibawaan Dokter Faros menghilang jika berhadapan dengan Miguel.
Sementara di lantai dua, tepat nya di atas tangga Hazelo dan Gabriella bergandengan tangan hendak menuruni anak tangga. Berhenti ketika menyaksikan adegan Dokter Faros yang berteriak sambil mengejar Miguel dari atas sana.
Dan Noorin yang masih mematung di depan anak tangga melihat hal yang sama.
Viona yang sedang berbincang dengan Bele menoleh pada Dokter Faros yang sedang berteriak memanggil Miguel mrminta pertanggung jawaban perihal ciuman.
Sedangkan David yang masih duduk di sofa sambil merayu para gadis hanya menggelengkxn kepala melihat aksi Dokter Faros yang gila.
"Sayang, kau fikir cerita ini akan tamat begitu saja?." Gabriela menoleh pada suami nya sambil bersama sama menuruni anak tangga.
"Tidak,
Akan ada CERITA CINTA DI KOTA BRAZILIA. Sebuah LOVE STORY yang mengisahkan mereka.
Mengisahkan dimana hati Miguel akan berlabuh.
Mengisahkan mantan kekasihku Viona akan menemui pria yang tulus mencintai nya.
Mengisahkan tentang si Play boy David menghentikan petualangan nya meniduri para gadis.
Mengisahkan Bele yang merasa sangat beruntung di cintai Gustav tanpa batas.
Tidak lagi berkisah Tak Kusangka Bisa Mencintai Mu.
Namun akan ada Cerita Cinta yang indah Di kota Brazilia.
Kecup Hazelo pada bibir istri nya. Ciuman hangat terjadi di atas tangga,
Di Dalam Mansion, Di Kota Brazilia
__ADS_1