
Sungguh terjadi perubahan besar sepanjang sejarah kehidupan Gabriella. Dengan raut wajah cerah menggandeng lengan Hazelo yang hampir lima bulan menjadi suami nya. Hal baru yang Ia rasakan, Mencintai pria yang sekarang
berjalan di samping nya dengan sepenuh hati.
Benar yang Dokter Faros katakan, tidak membutuhkan terapi untuk Gaby keluar dari masalalu nya, membuka hati
termasuk berhu-bungan yang memang seharus nya dilakukan
suami istri untuk lebih mengikat cinta nya begitupun dengan Gaby pada Hazelo.
Tidak perduli seperti apa perasaan mu pada ku. Yang terpenting Aku adalah istri mu. Istri sah dari tuan muda Hazelo. Kau benar, Sudah seharusnya
Aku mengajari mu cara mencintai ku dan melupakan dia masa lalu mu.* Bergumam dalam hati memantapkan diri sambil menoleh pada Hazelo yang sedang membawanya menuju landasan Helicopter menaikinya kemudian.
Rona wajah Gaby semakin cerah
merona mengalahkan sinar mentari pagi, saat Hazelo meraih mendekap nya di dalam
Helicopter yang akan meninggi
mengudara.
Bahagia? Tentu saja! Bahkan lebih dari itu. Hati nya berbunga bermekaran. Berdebar saat dekat menggila saat disentuh. Itulah yang Gaby rasakan sekarang.
Tidak mengidahkan Miguel dan sang pilot yang duduk berdampingan. Gaby hanya menganggap mereka seperti patung hiasan. Tuli dan tidak dapat melihat! Hahaha itulah yang Gaby gambarkan sosok Miguel dalam khayalan konyol yang Ia buat.a
"Kau siap?." Hazelo bertanya menoleh pada Gaby membuyarkan lamunan.
Gaby mengangguk meng iya kan. "Aku siap." Menyandarkan kepala di dada Hazelo yang melingkarkan tangan nya di pinggang.
Aku mencintaimu Hazelo
Bicara dalam hati sambil senyum senyum sendiri mewakili hati nya yang sedang berbunga bunga.
Helicopter mulai menerbang kan mereka, putaran baling baling menciptakan angin besar bergemuruh
Menerbangkan mereka menjauh dari kota itu menuju Brazilia tepat nya di sebuah Mansion di landasan samping taman belakang.
***
Pelayan dan para menjaga menyambut, sedikit membungkuk hormat menyapa tuan muda dan nona Gabriella.
Bele menarik nafas nya lega, Sebab--
Senyum bahagia terpancar dari wajah nona Gabriella, itulah yang Bele tangkap saat Hazelo dan Gabriella baru saja melintas.
Miguel seperti biasa selalu berada di belakang Hazelo, raut datar yang tidak pernah tertarik dengan segala hal selain sesuatu yang berhubungan dengan tuan muda Hazelo.
"Miguel, hari ini aku tidak ke kantor. Selesaikan urusan mu. Kau boleh pergi." ujar Hazelo melirik Miguel kemudian menaiki tangga bersama Gaby menuju kamar utama.
"Baik tuan muda." Sedikit membungkuk kemudian menatap punggung Hazelo yang membawa istri nya menghilang di balik pintu kamar.
Miguel milirik ke samping saat Bele berjalan mendekat. " Aku lega tuan Miguel, Akhirnya nona membuka hati nya, Tidak! Tuan muda lah yang mau membuka hati untuk nona Gabriella." Berkata sambil menatap pintu kamar utama yang tertutup.
Meskipun Miguel tidak menjawab, Ia terlihat lega
terdengar dari helaan nafas nya. Pekerjaan yang cukup
menguras emosi ahirnya terselesaikan.
"Tidak terasa ya, Tuan muda telah dewasa.
Begitupun dengan mu Megi." Ujar Bele kemudian berbalik. "Sudah saat nya kau membuka hati mu Megi, begitupun dengan ku yang akan menikah dengan Gustav setelah tuan muda bahagia." berbicara menggunakan bahasa tidak formal sebelum berlalu meninggalkan Miguel.
Miguel keluar dari Mansion melewati pintu utama menuju mobil yang terparkir. Masuk kedalam melajukan mobil nya melewati taman meninggalkan Mansion.
__ADS_1
***
Di dalam kamar.
Di balik pintu kamar utama yang baru saja tertutup. Hazelo mengendurkan dasi nya,
melepaskan beserta jas nya melemparkan nya kedalam keranjang di kamar mandi.
"Aku tidak pergi kemanapun hari ini. Kau bebas melakukan apapun yang kau kehendaki pada ku." Merentangkan tangan di hadapan Gabriella.
"Apa?!." Tertejut.
Alih alih menjawab, Hazelo malah mengerlingkan sebelah mata nya.
Apa apaan Hazelo itu, selalu saja bersikap seenak nya seolah olah aku sangat menginginkan tu..buh nya! Menyebalkan!*
"Siapa yang menginginkan mu? Aku tidak!." Bergedik meninggalkan Hazelo,
Masuk ke kamar mandi kemudian mengunci pintu dari dalam.
"Kau tidak bisa masuk kan?! Rasakan,!."Gumam gumam.
Hazelo mengulas senyum sabil menggelengkan kepala,
melihat tingkah istri nya yang sangat pemarah membuat nya sangat gemas.
Hazelo Melepas arloji Ia letakkan di atas nakas.
kemudian naik ke atas ranjang duduk menyandar sambil menyalakan televisi.
Beberapa kali mengganti channel yang bagi nya tidak ada yang menarik.
Menunggu Gaby yang tak kunjung keluar.
"Sebentar sayang, aku hampir selesai" Gaby menyahut.
Sayang? Apa aku tidak salah dengar
Hazelo berkerut dahi, Terdengar asing di telinga namun itu membuat nya senang.
Tidak lama pintu terbuka, Gaby mendekati Hazelo. Dengan bathrobe Ia kenakan sambil mengeringkan rambut dengan handuk nya.
"Ada apa?."
Hazelo terkejut mengangkat kedua tangan nya refleks
ketika tiba tiba Gaby naik ke atas ranjang seketika duduk di pangkuan nya.
"Muach!!"
Menarik kemeja kemudian mendaratkan kecupan di pipi. " Aku mencintaimu"
Hazelo tergelak
"Kau mulai berani ya." Menggelitik pinggang Gaby membuat nya tergelak terbahak bahak.
"Cukup"
"sudah--Cukup, Geli Hazelo."
"Cukup"
"Sayang, Hentikan!."
Hazelo berhenti, "Kau panggil apa aku tadi?." Hazelo berkerut dahi. Terdengar lucu tapi Ia sangat senang.
__ADS_1
"UPS, Aku kelepasan." Menutup bibir nya dengan kedua tangan.
Eh?
Hazelo tersenyum, terlihat senang kemudian mendaratkan bibir nya di dahi Gabriella.
"Panggil aku begitu setiap hari ya, Aku menyukai nya."
Gaby mengangguk, kemudian mengalungkan tangan nya di leher Hazelo.
Hazelo menahan pinggang Gaby saat Gaby mendekat kan wajah nya, menyentuhkan bibir nya pada bibir Hazelo
Dan terjadilah, ciuman hangat keduanya hingga beberapa waktu terlewat.
Di dalam kamar, Di Sebuah Mansion, Di Kota Brazilia....
*****
Miguel, terlihat masih fokus bekerja di depan layar
lipat nya, Lampu lampu ruangan lain telah padam. Tidak ada seorang pun di gedung perusahaan itu selain security yang sedang berjaga.
Selalu seperti ini, Miguel sedang menyelesaikan pekerjaan nya. Terlihat hanya ruangan nya di lantai tertinggi yang menyala
Saat salah satu security mendongak.
"Tuan Miguel masih di dalam." Ujar salah satu security yang duduk di luar pos sambil menyesap kopi panas berkata pada rekan di sanping nya.
"Entah berapa gaji nya Dia, selalu begitu hampir setiap hari nya."
"Sssttt, Jangan bicara yang tidak tidak jika kau masih mau bernafas." Mengingatkan.
Rekan nya manggut manggut. Meng iya kan.
Seketika mereka menyimpan kopi nya setelah melihat lampu di lantai tertinggi itu padam. Yang artinya Miguel telah selesai dan sedang turun menuju ke arah mereka.
Seketika Security bergegas menuju tempat nya masing masing bersiaga dengan sikap yang tegak sempurna.
Berdebar saat pintu lift telah terbuka, langkah kaki nya menggema keluar dari gedung itu membuat security semakin merinding sebab tadi membicarakan Miguel.
"Selamat malam tuan." security membungkuk menyapa.
Yang disapa tidak menghiraukan, melewati mereka menuju mobil nya.
BIP BIP
Seketika masuk kedalam mobil, mulai melajukan mobil nya kemudian.
Security tampak lega, namun membeku lagi ketika tiba tiba mobil Miguel berhenti.
Menurunkan kaca, membuat security faham seketika mendekat. Sambil berdebar Mereka menghadap.
Miguel mengulurkan paper bag tanpa bicara, kemudian menaikkan kaca lagi setelah security menerima itu
"Terimakasih tuan" membungkuk saat mobil Miguel berlalu.
-
"Apa ini?." salah satu security membuka paper bag mengeluarkan beberapa potong cake yang terbungkus rapih di dalam kotak makan. Mereka saling pandang.
Security tertawa senang kemudian, mengambil secangkir kopi yang tadi mereka simpan kemudian menikmati nya lagi bersama cake yang Miguel berikan.
"Terimakasih tuan...." Ujar mereka bersamaan meskipun Miguel sudah pergi menjauh menghilang dari pandangan.
Next..
__ADS_1