Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 85


__ADS_3

Lembar demi lembar Miguel buka.


Hingga lembaran terakhir tanpa komentar apapun.


Sorot mata nya mengarah pada layar lipat di meja, entah apa yang menghipnotis Noorin Ia langsung mengarahkan layar laptop ke arah Miguel.


Menjelaskan tanpa jeda satu persatu design pakaian hingga detail bahan yang akan digunakan.


Gambar tiga dimensi di dalam layar itu Noorin jelaskan satu persatu. Meski nafas nya berkejaran senada dengan jantung nya yang bergetar takut,


Namun ucapan yang santun keluar dari bibir nya tanpa cela sedikitpun.


Di luar sana, tepat nya di depan pintu David menunggu mondar mandir turut cemas akan apa yang terjadi di dalam.


Terkadang sesekali menempelkan telingga nya di pintu, Meskipun terlihat konyol tapi itulah yang David lakukan.


Di dalam sana Noorin masih menjelaskan dan seketika mulutnya terhenti saat Miguel tiba tiba bangkit dari duduknya.


Noorin membeku ketika Miguel pergi begitu saja setelah meletakkan kertas kertas itu di meja.


Mata Noorin berkaca kaca melihat punggung pria itu yang sepertinya tidak menghargai jerih payahnya sedikit pun.


Sepatah katapun tidak keluar dari Miguel


meski hampir satu jam mereka berada dalam satu ruangan.


Noorin terduduk di sofa, nafas yang sesak sebab menjelaskan sambil menahan diri juga kerja keras nya sepertinya tidak membuahkan hasil.


Dahi nya yang berkeringat meskipun ruangan ini disertai alat pendingin.


"Setidaknya jika hasil kerja ku buruk, katakan buruk biar aku perbaiki." Berkata sambil mengusap butiran bening yang tanpa sadar menetes di pipi.


sepuluh menit berlalu setelah Miguel menghilang dibalik pintu.


Namun Noorin masih duduk menatap kosong pada laptop yang masih menyala.


Brakk!!


Suara pintu yang dipaksa terbuka


keras


Noorin terlonjak kaged.


David memasuki ruangan dengan tergesa.


"Senior pasti memarahi ku. " Bergumam dalam hati.


"Kau luar biasa Noorin, Aku ingin memelukmu"


Merentangkan tangan mendekat.

__ADS_1


Noorin memalingkan wajah.


"Ada apa? Kau tidak senang? Tuan Miguel menyukai pekerjaan mu. " Berkata kemudian duduk di samping Noorin.


"Ya?. " memastikan telinga nya tidak salah mendengar.


"Dia menyukai pekerjaan mu. Kau dan tim mu bisa menyelesaikan pakaian dari seratus design pertama sebelum putra mahkota lahir. Dan akan berlanjut seiring bertambah nya usia putra mahkota. Jumlah tiap masing masing gambar akan di tentukan setelah kau mendapatkan bahan nya. " Menjelaskan dengan semangat membara.


"Ya?" Masih bingung.


"Aku tidak mengerti, Tuan Miguel tidak mengatakan apapun. Pergi begitu saja sebelum aku selesai dengan presentasi"


Noorin menghembuskan nafas nya.


"Kejam sekali bukan?!. Tidak bisakah menghargai manusia sedikit saja? "


"Hahaha" David malah tertawa.


Noorin berkerut dahi. "Tuan sedang menertawakan ku bukan?. "


"Kau bodoh sekali, itu artinya tuan Miguel menyukai pekerjaan mu."


Berkata dengan penuh semangat, bahkan David sampai berdiri di hadapan Noorin sehingga Ia mendongak.


"Kau lihat?! Hasil karya mu masih tergeletak rapih meja. Bahkan laptop mu masih menyala dengan baik di atas meja." Menunjuk pada tumpukan kertas di sana.


"Itu artinya tuan Miguel mengakui karya mu.


"Tuan Miguel akan melempar berkas berkas yang kau buat dan mustahil Laptop mu masih utuh menyala di meja."


Noorin dengan bodoh nya hanya mengangguk. Sambil membayangkan Miguel melemparkan semua berkas nya dan membanting menghancurkan Laptop.


Hanya membayangkan saja membuat gadis polos itu merinding.


"Kau faham?. " David tersenyum sambil melangkah keluar ruangan. "Jika Tuan Miguel tidak menyukai pekerjaan mu, Dia akan menghancurkan karya mu. Dan kau beruntung jika masih diizinkan bekerja. " Berkata sambil melambai.


"Bekerja lah dengan baik, Tuan mu menuntut kesempurnaan. Buatlah Aku bangga pada mu. "


"Ya, " Noorin mengangguk mengerti.


Noorin tersenyum setelah David pergi dari sana.


Ia berkemas merapihkan kertas kertas berharga nya beserta menutup laptop nya dengan hati hati.


"Noorin, Semangat!!. " Ujar nya menyemangati diri sendiri.


***


Sementara di Mansion Milik tuan muda Hazelo.


Tempat nya di dalam kamar utama.

__ADS_1


"Sayang, kau tidak kekantor?." Berkata sambil memijat pelipis Hazelo yang sekarang berada di atas pangkuan


Gabriella yang menyandar pada sandaran ranjang.


Hazelo tidak menyahuti, tangan jahil nya masuk kedalam kimono tidur Gabriella.


"Sayang kau mau apa?. Ini sudah siang, kau membuat asisten menyebalkan mu menunggu." Menahan tangan Hazelo agar tidak memasuki ce..Lana dalam.


"Hari ini aku tidak pergi kemanapun."Bangkit dari tidur nya menciumi perut Gabriella yang kian membesar.


"Dia bergerak, Aku tahu dia merindukan daddy nya." Tangan Hazelo Ia sentuh kan pada perut Gabriella. Dengan jahil nya Hazelo mere..mas bukit indah Gabriella tiba tiba.


"Aww!!." Sayang hentikan!. "


Hazelo malah tergelak melihat ekspresi istri nya, membuat nya semakin tertantang menelusuri leher nya sambil menarik kimono tidur.


"Sayang hentikan."


Gaby menyentuhkan kedua tangan nya di pipi Hazelo dan menjauhkan dengan benda sensitif. "Semalaman kan sudah"


"Aku mau lagi."


Berbisik.


"kau tidak pernah absen seharipun setelah aku mengandung."


"Tapi aku menginginkannya. " Wajah memelas Hazelo bak meruntuhkan dunia, Apalagi hanya pertahanan nona Gabriella.


Sedangkan diluar sana...


Kesibukan sejak pagi tadi terlihat di dalam Mansion.


Bele yang mendapatkan perintah langsung untuk menyiapkan kamar khusus untuk tuan muda Junior.


Hanya segelintir orang yang mengetahui jenis kelamin putra mahkota, sedangkan tuan dan nyonya besar pun belum mendapatkan kabar.


Sesuai perintah Miguel, Tim design interior bekerja menunjukkan ke profesionalan mereka.


Dengan Bele yang turun langsung untuk mengawasi.


Para koki pun dibuat sangat sibuk semenjak nona Gabriella mengandung, Sebab setiap hari nya harus mengatur gizi seimbang nona Gabriella sesuai anjuran dari dokter.


"Semua sudah dipersiapkan tuan" Pesan singkat Bele melaporkan pekerjaan nya.


Kemana lagi Ia melapor jika bukan pada Miguel.


Miguel membuka ponsel nya, memasukkan ke dalam kantong jas nya setelah membaca pesan dari Bele.


Ia baru saja keluar dari Gedung sebuah butik berlogo keluarga Walson, mengenakan kaca mata hitam sebelum memasuki mobil yang kemudian melesat jauh menembus jalanan dibawah sorot mentari yang mulai meninggi.


Di Negara Brazil, di ibukota Brazilia...

__ADS_1


__ADS_2