
Senja menjelang malam, para pelayan dan penjaga terlihat bergegas berbaris berhadapan di depan pintu utama.
Yang sebelumya mereka sangat sibuk sepertinya akan ada tamu agung yang datang.
Tentu Bele mendapatkan pesan dari Miguel yang mengabarkan.
Benar saja, Tak lama Helicopter menderu di atas Mansion.
Semua pun bersiap untuk menyambut.
Tidak terkecuali Tuan Muda dan juga nona Gabriella yang sekarang sedang menuruni anak tangga
perlahan
tangan mereka saling bertaut, tidak. Sekarang tuan muda Hazelo merengkuh bahu istri nya.
Perut yang semakin membesar membuat nya sangat hati hati.
Helicopter mendarat pada landasan taman belakang. Disambut Bele dan empat penjaga yang membungkuk hormat.
Penjaga membantu tuan besar yaitu Tuan Walson keluar dari Helicopter. Kemudian mengikuti rekan nya membungkuk hormat.
"Selamat datang tuan Besar, Semoga tuan dan Nyonya panjang umur. Panjang umur. Panjang umur. "
Ujar mereka serentak.
Tuan Walson hanya mengangguk, Berjalan bersama sang istri di samping nya beserta Bele yang berada tepat di belakang tuan Walson menuju pintu utama.
"Apa Miguel tidak menyambut ku?. " Tuan Walson tidak melihat Miguel disana.
"Nona melarang nya memasuki Mansion tuan. "
"Separah itu kah?. " Nyonya Walson menimpali.
"Benar Nyonya, Nona tidak menyukai semua hal tentang Miguel. Mendengar nama nya saja sudah mual. "
Tuan Walson malah tertawa, Sedangkan Nyonya menggeleng kan kepala.
"Akan seperti apa jika dia lahir. "
"Akan mencintai Miguel melebihi siapa pun. " Pungkas Bele sambil tersenyum membayangkan sesuatu.
"Semoga begitu. "
Tuan dan Nyonya Walson sampai di depan pintu utama. Serempak para penjaga juga pelayan membungkuk hormat.
"Selamat datang tuan besar. Tuhan memberkati. "
Tuan dan Nyonya Walson pun masuk kedalam melewati para penjaga yang masih bungkuk.
Bangkit kemudian setelah tuan dan Nyonya Walson masuk ke dalam.
"Selamat datang Mom. " Gaby menyapa memeluk Nyonya Walson.
Tentu saja pelukan Gabriella terganjal perut nya yang besar.
"Oh sayang, bagaimana kandungan mu. " Melepaskan pelukan nya kemudian mengusap usap perut Gabriella.
__ADS_1
"Semua baik, tidak perlu di cemaskan. " Tersenyum manis pada Mommy nya.
"Kami merindukan kalian. " Balas Nyonya Walson.
"Apa kabar Dad. " Hazelo memeluk ayahnya.
"Seperti yang kau lihat. Selalu sehat dan bahagia. Iya kan Mom?."
"Ya, Kami selalu bahagia. Akan lebih lengkap kebahagiaan kami jika kau sudah lahir. " Nyonya Walson menyentuh lagi perut Gabriella. "Kami menanti kan mu. "
"Silakan Dad, mom. " Hazelo mempersilahkan orang tua nya.
Mereka pun kemudian duduk di sofa yang telah di persiapkan jamuan untuk Tuan dan Nyonya Walson.
Para pelayan serta Bele pun di buat sibuk dengan menjamu tuan besar, Adalah hal yang membuat mereka bangga.
Gaby dan Hazelo pun bercengkrama dengan orang tua mereka, membahas ini dan itu juga seputar kehamilan dari pengalaman Nyonya Walson.
Hingga beberapa waktu pun berlalu.
Sedangkan diluar sana, masih dengan posisi semula. Duduk menyandang pada sandaran di dalam mobil.
Sambil menarik nafas nya lega melihat layar ponsel yang memperlihatkan keadaan di dalam Mansion.
CCTV Mansion terhubung langsung dengan ponsel Miguel.
Ia tidak lagi pernah masuk ke dalam, sebab penciuman Nona Gabriella sangat lah sensitif.
Miguel meninggal kan tempat itu setelah memastikan sendiri semua berjalan dengan baik seperti yang seharusnya.
***
Rintik hujan mulai turun. Ia menarik nafas nya panjang menghela setelah bekerja keras seharian.
Kesibukan nya bertambah sebab kedatangan tuan besar.
Rumah ini sudah terlihat sunyi, tuan dan Nyonya Walson telah kembali ke kamar untuk beristirahat.
Sedangkan sang pemilik rumah sedang ber mes-raan di dalam kamar.
Para koki serta pelayan telah kembali ke rumah belakang. Hanya tersisa penjaga dan security yang bertugas di malam hari.
Tidak lama mobil terlihat melewati taman, mendekat dan berhenti di hadapan Bele.
Senyum mengembang terlihat.
"Kau lama sekali. "
Berkata pada Gustav setelah Ia menurunkan kaca mobil.
"Maaf, "
Gustav keluar dari mobil, membawa payung kemudian berjalan mendekati Bele setelah menutup lagi pintu mobil.
"Ayo."
Bele mengangguk kemudian mendekati Gustav . Mereka berada pada satu payung sekarang.
__ADS_1
"Terimakasih. Aku selalu menyusahkan mu. "
"Kau ini bicara apa, ayo pulang." Gustav menautkan tangan nya pada tangan Bele.
" Ya. "
Mobil melaju keluar dari Mansion melewati jalanan yang terguyur hujan.
Menuju apartement yang hanya mem butuhkan waktu lima belas menit untuk sampai kemari.
"Terimakasih kau mau mengalah dalam segala hal. Mau mengerti semua nya. Juga tentang pekerjaan ku. "
"Itu karena aku sudah jatuh cinta pada mu. "
"Gustav."
"Ssst... " Gustav mencium bibir Bele tiba tiba.
Tangan mereka saling bertaut sambil melangkah memasuki apartement, Hingga elevator mengantarkan mereka menuju ke sana.
"Eh?! Kau mau apa?. "
Terkejut ketika tubuh nya terangkat tiba tiba.
"Aku hanya meng gendong istri ku. Apa tidak boleh?. "
"Sayang, kau sudah makan?. " Mencubit hidung Gustav.
"Bagaimana jika aku memakan mu. "
Meletakkan Bele di sofa perlahan.
Di bawah sorot lampu tamaran, di sofa ruang tamu di dalam apartement.
Bibir mereka saling bertaut, menyesap meresapi cinta yang berbunga bermekaran.
Tangan itu sudah mulai menelusuri setiap lekuk disana, menarik perlahan resleting dress hingga melorot kebawah.
Lidah itu sudah menelusuri setiap lekuk indah tak bercela. Hingga de... sahan mulai mengudara.
Tangan itu mulai bermain di atas dada, masuk kedalam cup yang kini terlempar entah kemana.
Nafas mulai terengah engah sambil mencakar rambut Gustav yang lidah nya bermain di area inti yang sangat sangat sensitif.
Tidak mau kalah, Bele pun mulai menelusuri menjelajah tu.. buh Gustav yang kemudian menandai dengan tanda tanda penuh cinta.
Sesuatu yang memegang menyeruak nikmat masuk kedalam sana setelah kedua nya tidak mampu lagi untuk menaha, setiap hentakan pun terjadi seiring dengan nafas yang menggelora menyatu dengan de.. sahan yang meronta gonta.
Posisi berbalik Bele pun mulai menaiki dengan posisi pas sempurna.
Benda tegang yang sempat terlepas pun kembali menusuk kedalam.
Hentakan demi hentakan Bele lakukan. Kenikmatan seiring dengan tetesan peluh yang menjadi saksi berapa nik.. mat adegan yang sedang terjadi.
Dingin nya hujan malam pun tidak terasa bagi mereka yang sekarang polos dan menyatu.
Di atas sofa, didalam apartement
__ADS_1
Di kota Brazilia