
Entah firasat apa membuat nya ingin keluar dari mobil. Berdiri mengedarkan pandangan.
Sudah sangat sepi,
Ia kembali masuk kedalam mobil melakukan mobil perlahan
menelusuri jalanan.
Namun mata nya tertuju pada gedung tua yang mangkrak tidak jauh dari tempat nya ter parkir dan
sempat mendengar samar wanita meminta tolong.Miguel keluar dari Mobil, mengedarkan pandangan
sambil melangkah di tepian jalanan yang sunyi.
Tidak jauh dari tempat nya berdiri terdapat gedung tua mangkrak tak berpenghuni.
Telinga nya mendengar jeritan
wanita meminta tolong
meskipun
Samar terdengar.
Ia mempercepat langkah nya dan terus berjalan, ekor mata nya
tertuju pada ponsel yang tergeletak berkedip.
Miguel merendahkan tubuh nya meraih benda yang tergeletak itu.
Miguel berkerut dahi sambil menatap ponsel yang terdapat panggilan masuk dengan nama Viona.
Ponsel nya terjatuh disini
"O Shi*t?!." Suara jeritan wanita meminta tolong terdengar lebih jelas sekarang.
Miguel bergegas memasuki gedung tua yang tampak gelap hanya ada sorot pencahayaan dari luar.
Mengedarkan pandangan
menemukan beberapa buku dan tas laptop disana berserak di sana.
Siara jeritan semakin keras,
Ia pun berlari menaiki anak tangga
tergesa
***
Aaaaaaaa......... Noorin menjerit saat pria mabuk itu merobek baju nya.
"Brengs*k!!. " Miguet terkejut saat melihat pria itu berusaha melece..hkan Noorin.
Bugh...!!
Bugh..!!
Bugh..!!
Miguel menghajar pria itu membabi buta
kemudian
Braakkk..?!
Ia menghantam pria itu, sekali tendangan pun terjatuh dari lantai dua.
Tidak, Miguel sengaja menjatuhkan nya.
Hidup atau mati Miguel pun tidak perduli.
Noorin yang sempat ketakutan tadi, Ia pun terjongkok mambil menyandar di dinding.
Entah ini mimpi atau bukan, Ia selamat dari pele.. cehan pria gila malam ini.
Namun Ia sempat membelalak ketika pria yang justru menolong nya malah melemparkan pria gila itu hingga terjatuh dari lantai dua.
Lebih membuat Noorin terkejut, seperti nya Ia mengenal siapa yang menolong nya malam ini.
*Bagaimana jika dia mati
Aku akan berurusan dengan masalah besar. "
Noorin menunduk, Ia memeluk lututnya, Masih sangat takut
Ia pun masih belum berhenti menangis.
Noorin mengusap air mata nya, saat langkah kaki pria itu mendekati nya.
tek
tek
tek
Noorin masih menunduk kan kepala, rambut panjang nya yang tergersi Ia biarkan menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Bangunlah, Aku akan mengantar mu. "
Noorin terkejute mendongak saat mendengar suara itu milik siapa.
tuan Miguel.
Noorin masih diam, Ia pun menunduk lagi.
Ia sangat malu, tidak ingin terlihat oleh siapa pun tanpa penutup kepala.
Miguel terdengar menghela, langkah kaki nya terdengar menjauh. Sorot mata nya
mengarah pada hijab Noorin yang teronggok di sana.
Miguel pun meraih benda itu.
Miguel menarik nafas nya panjang langkah kaki nya terdengar mendekati Noorin.
"Eh??. " Noorin terkejut
seketika mendongak.
Pria yang
Sekarang sedang melangkah menjauh,
Baru saja merendahkan tubuh nya,
Melepaskan jas nya
menyisakan kemeja putih polos dan
meletakkan di atas kepala Noorin untuk menutup rambutnya.
Noorin menatap punggung pria yang menjauh.
Mata nya berkaca, bersyukur kepada Tuhan sebab selamat dari kejahatan malam ini.
"Jika hanya berdiam diri disitu, aku tidak akan tahu bahaya apalagi yang akan kau temui selanjutnya. " Berkata sambil menghentikan langkah nya tanpa menoleh kebelakang.
Miguel melangkah keluar dari gedung itu, diikuti Noorin yang berjalan tergesa di belakang Miguel menyusul.
Dengan seribu pertanyaan di kepala
Bagaimana bisa kebetulan tuan Miguel lah yang menolongnya.
Saat Miguel meraih handle pintu mobil dan hendak masuk kedalam
"Tuan, tunggu. " Noorin berlari mendekat.
Miguel mengurungkan niat nya. Tanpa bicara Ia diam menunggu
apa yang ingin Noorin katakan.
"Tuan, terimakasih."
"Terimakasih" Membungkuk lagi sambil meneteskan air mata.
"Masuk." Miguel tidak mengisahkan Ia masuk kedalam mobil.
Noorin pun bergegas menuju tempat nya dan masuk kedalam mobil.
Noorin meraih pintu mobil di cabin belakang, Ya Noorin duduk di belakang.
Miguel terdengar mendengkus.
"Hanya tuan Muda yang berhak duduk di sana. "
Duarrr
Noorin terkejut.
*Benar, Ini mobil tuan Hazelo.
Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan*.
"Maaf tuan, maaf. " Noorin seketika keluar dari mobil kemudian berlari menuju ke samping kemudi dan duduk disana.
"Tuan saya minta maaf. " Sedikit membungkuk lagi.
Merasa sangat bersalah melebihi Ia mengenakan jas Miguel untuk menutupi kepala.
Aroma maskulin yang semerbak dari dalam jas bahkan Ia hirup secara langsung.
Miguel tidak juga merespon.
Ia melajukan mobilnya.
Noorin tidak berani menatap wajah Miguel, Ia melihat kearah kaca sambil terus mengepalkan tangan berusaha menmenghentikan darah yang sejak tadi keluar.
Sarung tangan putih nya telah berubah warna
darah yang keluar dari dalam sana.
sii.. **..
Miguel memutar Mobil nya.
__ADS_1
"Ada apa tuan?. " Noorin menoleh pada Miguel.
Miguel diam tidak menanggapi.
Tunggu, ini bukan arah ke apartement Kak Viona kan?
"Maaf tuan, anda salah arah. Ini bukan arah ke rumah Viona.
Anda mau membawa ku kemana tuan?. "
Cemas.
Miguel tetap saja diam, Pria yang tidak bisa di tebak ini membuat Noorin semakin cemas.
Rumah sakit.
"Tuan?. " Noorin tidak percaya, Miguel membawanya ke rumah sakit.
Bahkan Ia parkiran mobilnya di depan gedung IGD.
Ternyata tadi ekor mata Miguel menangkap sarung tangan Noorin yang berubah warna, juga dahi Noorin yang terdapat luka akibat benturan tadi.
Dan lebih membuat Noorin terhenyak, Ia melihat Logo Keluarga Walson terpampang disana.
Di gedung rumah sakit itu.
Miguel keluar dari mobil, Noorin masih diam di mobil sambil memperhatikan apa yang akan tuan Miguel lakukan.
sangat terlihat berapa terhormat nya dia.
Ketika melangkah masuk kesana
langsung disambut membungkuk dari dua perawat yang kemudian membungkuk lagi lalu pergi setelah Miguel bicara.
Entah apa yang tuan Miguel perintah kan pada mereka.
Miguel mendekati mobil lagi, "Keluar lah. " Miguel membuka pintu tepat disamping Noorin.
"Tuan aku tidak apa apa. "
"Keluar." Tatapan dingin terlihat.
Membuat nyali siapapun menciut.
Noorin keluar dari mobil, disambut dua perawat wanita masuk kedalam gedung IGD.
Kenapa semua tim medis disini adalah seorang wanita?. Bergumam dalam hati.
Kemana dua perawat pria yang menyambut tadi?
Berkata sambil meringis saat luka luka nya di bersihkan.
"Sakit ya?"
Perawat wanita tersenyum ramah.
Noorin mengangguk.
"Tahan sebentar ya, ini perlahan lho. " Balas perawat lain nya sambil tersenyum.
"Selesai" Ujar perawat setelah selesai masang perban di tangan dan di dahi.
Mereka melayani ku dengan sangat baik, apa karena dia yang membawa ku ke. ari?
Seorang dokter wanita menulis resep obat.
"Tunggu sebentar nona, Obatnya segera siap. "
Noorin tertegun sebab diperlakukan istimewa di sini. Lebih terkejut lagi, saat satu orang perawat ingin membantu nya berganti pakaian.
"Aku bisa sendiri. "
"Tidak apa nona, jangan sungkan. " Balasannya ramah.
"Tidak terimakasih. "
Sementara di luar sana, Miguel masih duduk menunggu.
Ia melipat tangan sambil menyandar pada sandaran tempat duduk nya dengan mata memejam.
Noorin termenung tepat di hadapan Miguel.
Ia membiarkan Miguel tidak ingin mengganggu nya membangunkan.
Noorin masih berdiri di hadapan Miguel, Ia telah berganti pakaian, lengkap dengan penutuo kepala meski tanpa sarung tangan.
Menatap lekat pria angkuh
dingin dan kejam yang malam ini telah menolongnya.
Maaf tuan, anda pasti sangat lelah kan
Miguel masih memejam nafas nya terdengar tenang
Jika diperhatikan, anda memang sangat tampan.
"Sampai kapan kau akan terus berdiri disitu?!. "
__ADS_1