
Masih di dalam rumah sakit.
Tepatnya di ruang perawatan intensif khusus untuk putra mahkota.
Fasilitas terbaik di kerahkan.
Di dalam ruangan berdinding kaca transparan dengan alat medis lengkap terdapat di dalam sana.
Demi untuk menyelamatkan tuan muda junior.
Bayi mungil yang masih memejam di dalam incubator dengan beberapa alat medis terpasang di tubuh lemah itu, hingga ibu jari juga tidak tertinggal alat bantu pernafasan melekat di hidung baby boy itu.
Monitor yang stand dan terus mengawasi setiap detak jantung bayi mungil itu.
Berdiri Miguel di sana. Terdapat dinding kaca pembatas atas nya dan putra mahkota
Miguel menempelkan dahi nya menyentuh dinding kaca itu.
Rasanya dada nya seperti tertusuk sesuatu, sesak.
Pria yang tidak pernah tertarik dengan hal apapun ini bahkan bisa tersentuh hati nya melihat keadaan putra mahkota.
"Bangunlah boy, buka mata mu. Lihatlah dunia, lihatlah disini ada yang mengharapkan mu dan mencintai dirimu." Lirih Miguel sambil menyentuh kaca.
Miguel berdiri di tempat ini setelah selesai Ia mendonorkan darah nya tadi.
Hingga larut malam dan hampir menjelang pagi Miguel belum juga beranjak.
Gurat lelah terlihat, namun kehawatiran mengalahkan semuanya.
Meskipun sejak kemarin lusa dia belum juga tidur, namun tidak sedikitpun rasa kantuk terlihat di netra cokelat itu.
Miguel sangat mencemaskan putra mahkota, terlebih pada tuan muda Hazelo. Yang
Sampai saat ini tuan muda belum keluar dari ruangan istri nya, apalagi menjenguk putra nya.
Keadaan nona Gabriela masih kritis.
Alat alat medis telah terpasang. Pendarahan telah berhenti, tansfusi telah di lakukan.
Namun nona Gabriela belum juga sadar dan melewati masa kritis nya.
Sebab itulah tuan muda Hazelo tidak ingin meninggalkan istri nya.
*
Sementara di dalam ruangan VVIP,
Malam telah larut dan hampir berganti pagi.
Hazelo terpejam matanya sambil duduk di kursi di samping Bed tempat istri nya berbaring.
Suara dari monitor itu masih terdengar nyaring.
Tanpa Hazelo sadari, ada gerakan samar dari jari nona Gabriela.
Gerakan itu semakin terlihat, dengan mata nona Gabriela yang masih tertutup.
Hazelo terkesiap dan terbangun.
"Sayang!." Hazelo memperhatikan istri nya.
Menyentuh tangan dingin itu kemudian mengecup nya.
__ADS_1
Hanya mimpi
Hazelo menghela, mengecupi tangan istri nya kemudian mengecup dahi.
"Bangunlah sayang, aku membutuhkan mu.
Bangunlah untuk ku dan anak kita.
Kita besarkan junior bersama," Hazelo menggenggam tangan istri nya lagi.
"Bangunlah Gabriela mamoju. Bangun dan maki maki lah Aku seperti dulu.
Seperti di awal pernikahan kita dulu.
Aku merindukan nya."
"Aku merindukan mu, Aku menginginkan mu, dan Aku mencintai mu
Gaby."
Hazelo menjatuhka kepala nya di samping istri nya, menutup mata nya lagi membiarkan butiran bening itu lolos dari mata nya.
*
Antara mimpi dan tidak, Ada tangan lembut yang menyentuh pipi Hazelo, semakin terasa nyata
Namun rasa kantuk dan lelah membuatnya sulit sekali terjaga.
Hazelo terlonjak membuka mata, Saat bibir lembut itu menyentuh dahi nya.
Tangan lembut itu menyentuh pipi nya.
"Sayang." Gabriela tersenyum samar. Alat bantu pernafasan telah Ia tanggalkan.
Menatap Hazelo yang berkaca kaca tidak percaya.
tubuhnya bergetar antara bahagia dan menangis haru.
" Aku hampir gila.
Aku hampir gila karena takut kehilangan mu." Mempererat pelukan nya.
"Tuan muda.."
"Maaf...
Aku tidak sanggup melihat keadaan mu hampir kehilangan nyawa sebab melahirkan anak ku." Kecupan Hazelo mendarat di dahi Gabriela dalam waktu yang lama.
Terdengar suara pintu di ketuk perlahan. Hazelo membiarkan itu, menoleh pada pintu saat handle pintu itu di buka.
"Selamat pagi tuan muda."
Miguel masuk membawa nampan. diatas nya secangkir sereal dan satu piring kecil berisi potongan cake.
Memang benar, belum ada apapun yang masuk kedalam perut tuan muda Hazelo sejak kejadian itu.
"Miguel?."
Eh kenapa aku tidak mual lagi melihat wajah nya? bahkan bau nya saja sudah tidak lagi tercium.
"Nona, bagaimana keadaan anda?." Miguel meletakkan nampan di meja perlahan, kemudian mendekat dan berdiri di samping Hazelo duduk.
"Terimakasih Miguel." Lirih Hazelo tanpa melihat wajah nya.
__ADS_1
Miguel sedikit bereaksi, sangat jarang dan hampir tidak pernah tuan muda berterimakasih pada nya.
Entah apapun yang dilakukan, semua terlihat biasa saja.
Namun kali ini, ucapan terimakasih yang terdengar sangat tulus keluar dari bibir tuan Hazelo.
Miguel hanya sedikit membungkuk merasa tersanjung. Gabriela yang mendengar itu hanya bertanya dalam hati
Apa yang telah Miguel lakukan.
"Miguel menggunakan darah nya untuk menyelamatkan mu. Hal yang bahkan tidak mampu aku lakukan." Meraih tangan Gaby lalu mengecupnya lagi.
"Miguel kau?." Gaby terdiam.
Sekelebat ingatan Ia sering sekali membuat Miguel susah, terlebih saat kehamilan nona Gabriela yang entah mengapa sangat membenci pria itu. Tidak jarang kelakuan Gabriela menjatuhkan keangkuhan Miguel.
"Maafkan aku."
"Anyway Terimakasih." Tersenyum pada Miguel.
Cih anda sudah bisa tersenyum rupa nya
Miguel menarik nafas nya lega sebelum berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.
"Anda tidak lagi mual melihat wajah ku nona?." Miguel melirik Gabriela sebelum meraih handle pintu.
Sindiran yang menusuk urat malu Gabriela.
"Kau selalu saja menyebalkan Miguel?! Aku menarik kata kata ku tadi. Tidak ada terimakasih, tidak ada kata Maaf!!." Setengah berteriak sebab yang diajak bicara tidak menanggapi dan keluar menghilang dibalik pintu yang tertutup.
"Menyebalkan!!."
umpat Gabriela.
Hazelo tergelak, bergetar menahan tawa.
"Kenapa kau tertawa? Apa sedang menertawakan aku?."
Melengos.
Hazelo semakin tergelak.
"Dengan begini, Aku yakin ini bukan mimpi dan kau selamat." Mengecup dahi istrinya secepat kilat.
"Aku menyukai mu. Kau pemarah dan selalu menggemaskan." Menyentuh dagu kemudian mengecup bibir sebelum beranjak dari sana menuju sofa.
"Sayang, apa kau mau makan? Aku suapi."
Hazelo mendekati meja melihat apa yang Miguel bawa.
Gaby menggelengkan kepala. "Aku tidak mau. Kau makan saja."
"Kau sudah menyiksa tubuh mu, tidak makan hingga dua hari. Apa itu masuk akal." Lirih Gabriela sambil meringsut menatap Hazelo yang kini duduk di sofa.
"Aku tidak menyiksa, hanya saja Aku menghawatirkan mu hingga melupakan segala nya."
"Kedepan nya, bersikap baik lah pada Miguel. Dia terlalu setia untuk kau benci." Berkata kemudian meminum secangkir sereal.
Gabriela hanya diam, netra nya memperhatikan setiap gerakan Hazelo.
Untuk pertama kali nya melihat Hazelo sangat berantakan,
Bahkan jika diingat ingat, Hazelo masih menggunakan pakaian yang sama saat terahir Gabriela sadar.
__ADS_1
Sangat terlihat seperti apa kehawatiran Hazelo pada nya, hingga melupakan semua hanya untuk menjaga nya.
"Maafkan aku." lirih Gabriela