
LONDON CITY
Malam telah berganti pagi, Dan hari hari pun sudah beberapa kali terlewat.
Kondisi Nona Gabriella sudah semakin membaik, hari ini tiba waktunya untuk keluar dari rumah sakit dan kembali ke Brazilia Negara dimana mereka tinggal.
Selang infus tidak lagi terpasang, bekas luka operasi pun kian mengering. Bahkan bekasnya pun kian memudar. Entah obat apa yang digunakan tim Dokter itu, Dokter terpilih yang ditugaskan khusus untuk Nona Gabriella .
Sedangkan Dokter Faros telah kembali ke Roma, Negara asal dimana Ia menjabat sebagai kepala Rumah Sakit berlogo keluarga Walson disana. Sejuta luka yang Miguel goreskan di hati, membuatnya pergi melepaskan harapan dan cinta nya disana.
Meskipun bohong jika Ia mampu melupakan Miguel secepat kilat.
"Seiring berjalannya waktu mungkin semua akan terbiasa." Batin Dokter Faros sambil menyeka air mata nya Ia melangkah memantapkan diri masuk kedalam pesawat meninggalkan kota London.
Nyonya Mamoju beserta suami nya juga telah meninggal kan kota London, kembali ke Sando Paulo menggunakan pesawat pribadi milik Tuan Walson yang juga pergi ke Brazilia bersama istrinya.
Sementara di dalam ruangan VVIP Rumah Sakit ternama di kota London.
Gabriella duduk di atas ranjang sambil menyandar di dada Hazelo yang sekarang mendekapnya erat.
"Kita pulang sekarang, aku bosan disini."
Kata kata yang selalu di ucapkan hampir setiap hari. Mengusap usap pipi Hazelo, tentu saja agar permintaan nya di kabulkan.
"Tunggu lah sebentar lagi, Miguel akan datang menjemput " Mengusap rambut Gabriella mengecupnya kemudian.
"Sayang."
"HM?."
Hazelo menyahut.
"Kau sudah tahu siapa pelakunya? Aku melihat kabar yang beredar di media, berita tentang seseorang yang mencelakai ku berakhir bun..uh diri.
Bahkan pemberitaan selanjutnya seketika menghilang ditelan bumi."
"Semua sudah Miguel bereskan. Kau aman dan tidak ada lagi yang akan melukai mu."
Meraih tangan Gabriella yang berada di pipi Hazelo kemudian mengecupnya.
"Apa kau membu..NU..h nya?" Gabriella merinding sendiri mengucapkan kata itu.
__ADS_1
Ia sangat ingat siapa yang telah menusuk nya , tatapan mata Gabriella bertemu dengan pelaku
kala itu sebelum Gabriella terjatuh tidak sadarkan diri dan pelaku nya pun melesat melarikan diri.
"Kau lihat, Aku tidak melakukan apapun." Mengherdikan bahu.
"Tapi Zoe mati, Mustahil Ia bunuh diri kan?. Ya, Meskipun polisi menyatakan bahwa Ia tewas bunuh diri, Tapi itu omong kosong." Gaby menyandarkan kepalanya di dada Hazelo lagi.
"Aku tidak yakin."
"Aku tahu seperti apa wanita itu." Ujar Gabriella menarik nafas nya dalam.
"Sudah ku katakan, Miguel yang mengurus semuanya. Kau Fikir hukuman apa yang pantas di dapatkan orang yang berani mencelakai mu, hm?"
" Aku hanya ingin tahu." Balas Gabriella.
"Baiklah jika kau penasaran Akan aku beri tahu." Hazelo diam sejenak.
"Mayat nya telah selesai di kremasi, dan orang suruhan Miguel telah mengirimkan abu nya pada keluarga nya."
Glek.
Gaby hanya menelan Silva.
Benar saja, kematian Zoe ada hubungannya dengan Miguel.
"Apa kau masih menyukai nya?." Hazelo semakin mempererat dekapannya, Ia letakkan dagu nya di atas kepala Gabriella sekarang.
"Tidak sayang, tidak sama sekali. Masalalu ku adalah mimpi buruk, maafkan aku."
"Berjanjilah kau tidak akan lagi merengek untuk meminta pergi tanpa pengawalan." Mengecup bahu Gabriella lagi dan lagi.
"Sayang!." Menggeliat sebab Hazelo meremas area sensitif sekarang.
Hazelo malah tertawa, "Menggoda mu itu menyenangkan."
Gabriella menurunkan tangan Hazelo dari dada nya."Bagaimana jika aku menginginkan sesuatu. Berbelanja misalnya?." Mendongak menatap Hazelo.
" Aku akan memenuhi semua yang kau butuhkan tanpa kau meminta. Kemanapun kau ingin pergi, Aku sendiri yang akan mengantar mu."
"Kau sangat sibuk tuan muda." Meringsut berbalik menghadap Hazelo menyentuh pipi nya dengan kedua tangan. "Kau membuang waktu mu jika hanya mengantar kan kemanapun Aku pergi."
__ADS_1
"Kau lebih penting dari apapun"
" Karena Aku tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu lagi dengan mu." Hazelo menyentuh dagu Gabriella. "Aku mencintaimu sayang." mendekatkan wajah nya.
"Aku juga."Gabriella tersenyum dengan tangan nya Ia kalungkan di leher.
Hazelo mendekatkan wajahnya, mencium bibir istri nya kemudian.
Bibir mereka bertaut dalam waktu yang lama, tangan Hazelo me..re..Masi bukit indah favorit nya melepaskan rasa cinta keduanya hingga beberapa menit terlewat.
Sementara Miguel telah dua kali mengetuk pintu ruang perawatan nona Gabriella namun belum juga ada jawaban.
Miguel berdiri mematung di depan pintu, sambil menunggu Tuan Muda nya menyahuti mempersilahkan masuk.
"Masuklah Miguel." Hazelo menyahuti Miguel setelah melepaskan ciumannya.Tangan nya Ia turunkan, sedangkan Gabriella mengancing baju yang terbuka dan merapihkan nya secepat kilat.
Miguel pun meraih handle pintu kemudian membuka nya. Melangkah mendekati Tuan Muda Hazelo dan nona Gabriella.
Gaby berada di pangkuan Hazelo sekarang. Masih dengan posisi nya tidak bergeser se centi pun.
"Semua sudah di persiapkan tuan muda, Anda bisa pulang sekarang."Ujar Miguel.
Hazelo menurunkan Gabriella dari pangkuan nya perlahan. Ia turun dari ranjang kemudian meraih tubuh Gabriella.
"Kau mau apa? Aku bisa jalan sendiri."
Hazelo tidak mengidahkan, Ia menggendong Gabriella membawa nya keluar dari ruangan setelah Miguel membukakan pintu.
"Silahkan tuan muda." sedikit membungkuk saat Hazelo melintas.
"Sayang, turunkan Aku." Gabriella meronta.
"Menurut lah." Berkata sambil melangkah keluar dari ruangan diikuti Miguel.
"Aku sudah sembuh, bisa jalan sendiri."
"Tapi Aku ingin menggendong mu."Berkata sambil terus melangkah melewati perawat dan beberapa kali berpapasan dengan Dokter yang sedikit membungkuk hormat.
Gaby menghelakan nafas nya, pasrah membiarkan Hazelo membawa nya melewati elevator menuju lantai dasar.
"Silahkan tuan muda." Miguel membukakan pintu kemudian Hazelo meletakkan Gabriella perlahan. Hazelo masuk kedalam mobil kemudian Miguel kembali ke tempatnya.
__ADS_1
Mobil pun melesat meninggalkan Rumah Sakit menuju Airport, yang telah menunggu pesawat pribadi berlogo keluarga Walson disana.
Armada besi pun mengudara menerbangkan mereka menuju Negara Brazil.