
Pesawat pribadi berlogo keluarga Walson baru saja lepas landas. Terbang mengudara dengan membawa tuan muda dan nona dalam nya.
Miguel dari kejauhan melihat itu, pesawat yang terbang tinggi membawa tuan muda.
"Hati hatilah tuan muda, jaga diri anda. "
Miguel terlihat menghela setelah mengetik pesan untuk tuan Hazelo di ponsel.
Ia masukan ponsel nya kemudian
ke dalam kantong Jas.
Baru kali ini Ia berpisah dengan tuan muda
Hazelo meski hanya untuk beberapa hari. Rasanya cukup aneh, sebab belum pernah tuan muda Hazelo pergi tanpa dia di sisi nya.
Biasanya, kemanapun Hazelo pergi, pasti ada Miguel yang selalu menemani dan menjaga.
Yang ada Miguel lah yang meninggalkan Hazelo jika ada sesuatu mendesak.
Namun ini untuk pertama kalinya Hazelo pergi tanpa Miguel.
Di dalam pesawat.
"Kita mau kemana sebenarnya?. " Tanya Gaby sambil melepaskan seat belt.
"Jalan jalan. "
Mengecup pucuk kepala.
"Kau sudah mengatakan itu berulang ulang. Sebenarnya kita mau kemana?. " Memajukan bibir.
"Kau juga terus menanyakan pertanyaan yang sama sejak tadi kan?. " Tersenyum sambil mencubit pipi istrinya.
*Apa harus dirahasiakan.
"Sayang."
"Hm?." Hazelo menoleh.
"Apa Kau mau mengajak ku ke sando paulo?" Tanya Gaby bersemangat.
"Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan mu sebelum dia lahir. " Mengusap usap perut Gabriella. "Setelah itu baru kita ke Sando paulo mengunjungi orang tua mu.".
" Sungguh??. "
Sumringah.
Hazelo mengangguk.
" Sayang, Aku merindukan mommy. " Menoleh pada Hazelo.
"Kita akan kesana sepulang liburan. " Hazelo mengecup pucuk kepala istri nya lagi.
"Kita juga akan menginap di Sando paulo. "
"Kita pergi tanpa asisten mu?. "
Hazelo mengangguk.
*Pantas saja, aku tidak menghendus bau nya sama sekali.
Gumam Gumam.
"Bagaimana bisa? Bagaimana jika terjadi sesuatu disana?. " Khawatir, teringat kejadian saat di London beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Tidak akan terjadi apapun dengan mu. " Tegas Hazelo.
"Atau Kau ingin dia ikut? " Hazelo melirik Gaby.
"Tidak!! Aku benci asisten mu. Mendengar nama nya saja membuatku mual. "
Kesal.
"Aku tahu itu."
"Sebab itulah dia tetap tinggal. "
Hazelo melepaskan seat belt kemudian bangkit berdiri.
Meraih tangan Gabriella membawanya menuju ranjang yang ada di dalam pesawat itu.
"Perjalanan kita masih jauh. Kau baring saja disini. " Menyiapkan bantal membantu Gabriella berbaring.
Hazelo pun naik ke atas ranjang. Menyandar pada sandaran ranjang dengan tangan nya yang mengusap usap kepala Gabriella agar tertidur.
Gaby menatap Hazelo, terus memandang hingga beberapa saat.
Tangan Hazelo masih berada di atas kepala nya.
"Ada apa?. " Merasa diperhatikan Ia pun bertanya.
"Terimakasih." Lirih Gabriella.
"Untuk?. " Hazelo berkerut dahi.
"Untuk semua nya." Gaby tersenyum.
Tidak, bahkan mata nya sudah berkaca kaca.
"Kau kenapa? Apa Aku menyakiti mu?. " Meringsut membaringkan tubuh. Miring menghadap Gabriella.
Gaby mengeleng. "Kau tidak pernah menyakiti ku. "
"Lalu?"
Gaby menyentuh pipi Hazelo.
"Terimakasih untuk semua nya. Untuk hal hal yang sudah kita lalui.
Terimakasih kau tidak pernah menyerah dan tidak meninggalkan aku. "
"Maaf untuk semua hal yang sudah aku lakukan dulu.
Aku yang sering memarahi mu, membentak mu dan bahkan aku melampaui batas
dengan berselingkuh dengan Zoe. Aku sering pulang malam untuk pergi ke Club bersama komunitas ku.
Kau tahu masa lalu ku, wanita menyedihkan penyuka se.. sa.. ma jenis.
Tapi Kau juga tetap bertahan. Kau mengulurkan tangan pada ku, Kau tidak jijik dan tidak menjauh.
Terimakasih. "
"Terimakasih Kau membuka hati mu untuk mencintai ku
Walaupun aku tahu
itu tidak lah mudah. Kau melepaskan cinta Viona yang begitu tulus hanya untuk wanita seperti aku. "
"Terimakasih tuan muda Hazelo. "
__ADS_1
"Sudah lah sayang, Aku Hazelo yang pantang untuk mengingkari janji.
Seperti janji ku untuk menikahi mu dan hidup bersama sampai ahir. "
Kecup Hazelo pada dahi Gabriella.
"Aku bahagia nona Gabriella Mamoju. Tetaplah disisi ku, kita besarkan junior bersama. "
Gabriella mengganguk. Ia usap air mata nya sambil bergumam dalam hati.
*Kau tahu tuan muda, saat pertama kali kau menciumku di kolam renang. Saat itu lah ada getaran hebat yang membuatku mulai menyukai nya.
Aroma mu yang selalu menjadi candu meskipun aku mendustakan nya. " Batin Gabriella yang sekarang berada dalam dekapan.
***
Di sebuah pulau.
Adalah tempat ter indah yang pernah Gabriella temui.
Dinasti wisata yang khusus untuk orang orang tertentu yang mampu kemari.
Sebab membutuhkan alat transportasi udara pribadi jika ingin datang ke pulau ini.
Hamparan pasir terterjang Ombak yang syahdu, sinar matahari yang indah berkilauan saat akan terbenam. Semakin mempercantik pemandangan di pulau itu.
Tidak jauh dari bibir pantai, terdapat Villa diatas nya berlogo keluarga Walson.
Tempat yang telah di sterilkan dari para pengunjung.
Hanya ada karyawan penjaga Villa beserta Manager disana.
Juga para pelayan dan penjaga kiriman dari Miguel.
Di dalam kamar VVIP yang jendela nya mengarah pada pantai itu terbuka lebar.
Angin berhembus kencang meniup menggerakkan tirai tirai.
Gabriella duduk di bibir kolam renang dengan kakinya Ia masukkan ke dalam air.
"Tidak ingin berenang?. " Hazelo masuk kedalam air.
"Tidak, disini saja. " Berkata sambil menggerak-gerakkan kaki di dalam air.
"Kalau begitu, temani aku. " Hazelo mendekat.
"Itu sama saja, Aku tidak mau. "
"Please."
Gaby menggeleng.
Hazelo pun naik ke tepian kolam tepat di samping Gabriella.
"Cium aku. "
"Apa?!. "
"Cium Aku, aku keinginan. " Me dekatkan wajah nya.
Gaby menutup bibirnya sendiri. "Tidak mau. "
Hazelo menyentuh dagu Gabriella. Menatapnya dalam mencium bibir Gabriella kemudian.
Dan terjadilah.
__ADS_1
Ciuman hangat di tepian kolam dalam waktu yang lama