
Penerbangan keluar kota telah ditentukan, Jadwal yang sempat tertunda kali ini bisa terlaksana.
"Tenang lah tuan muda, ini hanya beberapa jam anda meninggalkan Brazilia." ujar Miguel yang sedang mengenakan seat belt untuk tuan muda nya di dalam pesawat pribadi itu di sana.
"Pastikan Gabriella menikmati hari nya dengan baik." Pungkas Hazelo.
"Baik tuan muda." Balas Miguel yang sekarang duduk di tempat nya, mengenakan seat belt sambil menunggu pesawat lepas landas.
Beberapa jam yang lalu.
Gabriella tiba tiba duduk di pangkuan Hazelo yang telah rapih dengan pakaian formal nya sambil menyandar di sofa di dalam kamar. Tubuh Gabriella terlilit selimut tebal, tentu saja polos tanpa sehelaipun di dalam nya. Apa lagi kalau bukan efek dari semalam.
Hazelo bangun lebih awal sebab akan ada agenda keluar kota, sejak semalam membujuk Gabriella ikut serta namun Gaby menolak.
"Katakan jika kau melarang ku pergi, maka aku tidak akan pergi." Usap Hazelo pada rambut Gabriella yang masih berantakan.
"Aku ingin ber belanja." Dengan manja Ia mengecup pipi Hazelo.
"Aku tidak pernah melarang mu. Beli apapun yang kau inginkan." Meraih ponsel menyodorkan pada Gabriella.
"Aku tidak ingin melalui aplikasi, Aku juga tidak mau menghubungi designer mu." Menjauhkan ponsel dengan tangan nya.
"Lalu?." Hazelo berkerut dahi.
"Aku ingin berputar putar di pusat perbelanjaan. Memilih pernak pernik seperti rakyat biasa dan---" menggantungkan kalimat.
" Menonton Film dan makan pop corn" Menyengir kuda.
"Itu konyol sekali." Hazelo men..de..sahkan nafas nya.
"Ayolah sayang. please..." membujuk.
"Aku tahu, semua yang aku butuhkan telah kau siap kan. Bahkan semua yang aku kenakan tidak dimiliki wanita lain di dunia, termasuk harga ce..la..na dalan yang seharga dua rumah untuk manusia normal."
Gaby menghela mengambil jeda nafas. "Tapi aku ingin keluar untuk menikmati udara segar, melihat lihat pernak pernik dan ramainya para pengunjung."
" Oh ya, Aku juga melewatkan beberapa Film setelah menikah dengan mu." Gabriella memajukan bibirnya.
"Mengapa tidak kau lihat disini."
"Di sini?." Gaby berfikir senak, kemudian menutup mulut nya.
"Di mansion ini ada bioskop? Seperti gedung bioskop yang di sana?." Dengan polos nya Gaby bertanya.
"Panggil Bele, dia akan mengantar kan mu."
Tentu saja, aku tidak heran jika kau memiliki segalanya.
"Tapi, aku ingin pergi bersenang senang, aku akan mengajak Bele dan para pelayan wanita." Antusias.
__ADS_1
"Wanita?!." Hazelo terlihat tidak senang. Ambigu masa lalu mencuat. "Tidak!."
"Sayang, apa yang kau fikirkan?."
"Kau pernah menyukai wanita, apa kau amnesia?." Batin Gaby pada diri sendiri.
"Sayang, aku tidak seperti dulu lagi. Ku mohon."
Hazelo menghela nafas nya panjang. "Mau bagaimana lagi, pergilah bodyguard akan menjaga kalian." Hazelo melihat arloji yang melingkar di tangan. Menandakan sudah waktunya Ia pergi.
"Aku tidak mau ada pengawalan, Aku pergi bersama Bele dan pelayan wanita." Merengek.
"Kembali lah sebelum aku datang. " kecup Hazelo pada pucuk kepala Gabriella, perlahan menurunkan Gabriella dari pangkuan nya kemudian bangkit berdiri merapihkan Jas.
"kau mengijinkan? Terimakasih sayang." Senyum mengembang mengalahkan matahari pagi.
"Kau belum mengenakan dasi untuk ku." Tunjuk Hazelo pada dasi yang masih tergantung rapih.
Gabriella mengherdikan bahu, mengintip kedalam selimut, bahkan Ia belum berpakaian.
"Tunggu sebentar" Gaby bangun dari duduknya berniat mendekati lemari mengambil bathrobe.
"Lepaskan saja." Tarik Hazelo pada selimut yang menutupi tubuh Gabriella.
"Sayang, Aku tidak berpakaian?!." Gaby menarik selimutnya lagi.
"Aku sudah melihat semuanya kan?Bahkan hafal di luar kepala setiap inci nya." Seringai muncul disana, menarik selimut kemudian melempar nya jauh ke atas ranjang.
Alhasil Gabriella pasrah, mengenakan dasi untuk Hazelo tanpa Bu..sana. Membuat Hazelo tergelak pun menggoda. Mere..mas area bukit sensitif favoritnya.
"Aww!!."
Hazelo tertawa, kemudian me..re..mas lagi.
"Sayang, Hentikan!." pukul Gaby pada dada Hazelo yang semakin terbahak.
Me..re..mas lagi dan lagi hingga terdengar suara Miguel mengetuk pintu.
***
Gabriella telah bersiap, para pelayan wanita telah berdiri menunggu di bawah tangga. Berpakaian Casual dengan wajah sumringah berseri. Sebab sejak tadi mendapatkan pemberitahuan jika hari ini diliburkan, mewajibkan untuk mereka ikut serta bersenang senang dengan nona Gabriella.
Tidak lama yang ditunggu tunggu muncul, menuruni anak tangga dengan gaya elegant seperti biasa.
"Selamat siang nona." Sapa mereka serempak.
"Kalian siap?." Tanya Bele.
"Siap nona." Balas mereka.
__ADS_1
Gabriella keluar melewati pintu utama, telah menunggu dua mobil Limosine yang siap mengantarkan mereka.
Wajah gembira mereka terpancar, awal nya sedikit canggung namun lama lama mencair.
Tertawa di dalam mobil bercerita ini dan itu, bahkan mereka lebih fokus untuk menggoda Bele.
"Bele, sebentar lagi kau menikah. Aku beri selamat dari sekarang ya " ujar salah satu pelayan. Bele hanya tersenyum, namun tidak bisa menutupi rona bahagia di wajah nya.
"Selamat masuk di dunia kenikmatan Bele."
Hahaha mereka tertawa.
"Kau bicara seolah sudah berpengalaman." Balas Bele.
"Sebab aku sudah menikah." Tersenyum malu malu.
"Oh ya?." Bele menimpali.
Rekan nya mengangguk mantap. " Aku sudah menikah dan kami bahagia dengan pernikahan kami. Juga bangga sebab masih diijinkan bekerja pada tuan muda." Berbangga diri.
"Oh ya? Aku baru mendengar nya." Balas rekan nya lagi.
"Acara pernikahan nya sederhana, dan aku juga telah mengandung." Mengusap pada perut nya. " Aku akan memohon cuti jika nanti melahirkan." Ujar nya lagi.
"Eh?." Perlahan Gabriella menyentuh perut pelayan itu, membuat pelayan merasa tidak enak hati,
tidak!! Bahkan hampir menangis ketika Gabriella terus mengusap perut wanita itu.
"Aku juga menginginkan nya. Semoga segera menyusul ya." Mata Gabriella berkaca kaca.
Seketika suasana di dalam mobil menjadi haru, wanita hamil muda itu pun malah terisak. " Bolehkah aku memfoto tangan anda nona, akan aku tunjukan pada suami ku jika perutku pernah nona Gabriella sentuh." ujar nya sambil menangis.
"Tentu saja, bahkan aku akan mencium perutmu." Gabriella mengusap lagi.
"Jangan nona, sungguh aku tidak pantas." wanita itu pun semakin histeris saat mengabadikan moment nona Gabriella mengecup perut pelayan itu.
"Sudah jangan menangis terus." rekan nya menenangkan.
"Nona mencium perutku, istri tuan muda Hazelo Walson mencium perut ku. Istri Pengusaha paling terhormat di belahan dunia bagian barat. Bahkan nama nya tersohor hingga mendunia. Orang ternama di negara ini melebihi seorang presiden."
Huuaaaa.....
Menangis sejadi nya penuh haru dan rasa bangga.
"Sudah diam." Balas Bele yang akhirnya buka suara.
"Katakan jika Kau iri Bele!." Huaaa.. menangis lagi.
Semua orang di dalam mobil itu malah tertawa, menertawakan rekan nya juga Bele. tidak terkecuali nona Gabriella.
__ADS_1
Suasana di dalam mobil kembali ceria hingga mobil terparkir sempur di depan tempat tujuan.
Di pusat perbelanjaan yang berlogo keluarga Walson, di kota Brazilia.