Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 61


__ADS_3

(Mohon maaf kawan semua, seharusnya Episode 60 tayang malam hari. Namun karena proses review yang panjang malah terbit di siang hari. Sy tidak berniat mengganggu puasa kalian semua kawan... Mohon dimaafkan ya.....")


Selamat Membaca


Satu bulan telah berlalu. Acara pernikahan Bele dan Gustav di laksanakan hari ini.


Dekorasi indah bernuansa putih di dalam maupun luar ruangan besar tempat untuk pelaksanaan terikat nya janji suci. Bunga bunga mawar putih mendominasi menghias indah disana.


Gustav telah siap dengan stelan formal berdiri di sana. Dada berdebar sambil menunggu sang kekasih datang


yang akan segera mengikrarkan janji nya menjadi istri di tempat ini disaksikan semua yang telah hadir di sana.


Para tamu kerabat hingga orang tua Gustav telah duduk di tempat tempat yang telah disediakan. Tidak terkecuali Dokter Faros pun ada di sana, jauh jauh terbang dari Roma hanya untuk menghadiri pernikahan teman lama.


Tidak lama mobil Limousine yang telah di dekorasi bunga bunga datang mendekati.


Saat penjaga membukakan pintu, Bele pun keluar dengan gaun putih indah menawan.


Miguel lah yang menyiapkan gaun itu khusus untuk Bele. Wajah Gustav begitupun Bele nampak berseri. Kecantikan Bele terpancar. Terharu ketika Gustav mengecup jari nya sebelum bergandengan memasuki ruangan besar


disambut berdiri dari para tamu juga seluruh yang hadir.


Taburan bunga bunga berjatuhan saat mereka melintas. "Aku sangat bahagia." Ujar Bele sambil melangkah cantik bergandengan dengan Gustav. Bagaikan sang putri bersama pangeran nya di negeri dongeng.


Di dalam sana pemuka agama telah menunggu.


Gabriella dan Hazelo menyaksikan itu, membuat Gaby menyandar pada lengan Hazelo merasa iri pada mereka.


Iri? Tentu saja, sebab perjodohan yang membuat Gaby muak kala itu bahkan sangat membenci pria yang sekarang menjadi sandaran.


Tangan Hazelo merengkuh bahu Gabriella. "Ada apa,?."


"Maaf, Seharusnya dulu kita seperti mereka." Ujar Gaby sambil mengusap da..da Hazelo.


"Aku bahkan tidak mengingat bagaimana tampan nya wajah mu saat pernikahan."


"Oh ya Tuhan." Rasa bersalah kembali mencuat.


"Sudahlah, yang lalu biarkan saja berlalu. Kita jalani yang sekarang dan selanjutnya. Aku sudah bahagia." Kecup Hazelo pada dahi Gabriella.


"Terimakasih kau tidak lelah dan tidak meninggalkan aku." Gaby menatap lekat mata Hazelo.


Teringat kembali pertengkaran yang setiap hari Gabriella buat, tidak lain karena Gaby sangat membenci Hazelo dan berniat segera bercerai.


Masa masa sulit menjalin hubungan dengan Hazelo di awal pernikahan.


"Dan Kau tetap bertahan dan membuat aku jatuh cinta."


"Terimakasih tuan muda."


"Aku seorang pria, Kata kata ku bisa di pegang dan pantang untuk aku mengingkari janji. Termasuk janji setia ku di awal pernikahan." Mengecup pucuk kepala Gabriella.

__ADS_1


Pemuka agama mulai memberikan beberapa pertanyaan untuk Gustav dan Bele, kemudian Bele dan Gustav mengikrarkan janji pernikahan mereka


diakhiri dengan pemuka agama membacakan Do'a.


Disambut tepuk tangan dari yang hadir di tempat itu sambil bangun dari duduk mereka.


"Bele, aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Gustavano Alpha."


Gustav menyentuh dagu Bele, mendekatkan wajah nya


mencium bibir wanita yang sekarang menjadi istrinya dihadapan semua yang hadir


mereka berciuman di waktu yang cukup lama.


Gabriella yang sekarang duduk di samping Hazelo menyaksikan itu, membuatnya kembali menyandar pada lengan Hazelo suami nya.


"Mereka manis sekali."


"Sssttt...jika kau menginginkan, aku juga bisa melakukan nya seperti mereka sekarang." Berbicara sambil mengusap usap rambut Gabriella.


Apa sih, Kau memang tidak bisa di ajak bicara! Berciuman sekarang? yang benar saja!


"Tidak, jangan sekarang! Kita lakukan di rumah saja."


"Kalau begitu kita pulang sekarang!." Tersenyum penuh arti.


Hazelo tergelak "Kau mudah sekali marah."


"Eh?." sementara ekor mata Gabriella menangkap sosok Miguel yang bangkit berdiri kemudian keluar dari tempat itu.


Seperti biasa, pria ini seperti tidak pernah tertarik dengan hal apapun.


"Apa dia sedang cemburu?." Menatap Miguel yang menjauh, kemudian refleks bibir nya bertanya pada sang suami.


"Hm."


"Miguel, apa dia sedang cemburu sekarang?." Senyum kemenangan terlihat. Rasakan kau Miguel! Bele menjadi milik orang lain. Hahaha


"Sepertinya kau penasaran dengan Miguel ya?."


Menyentuh dagu Gaby mendekatkan wajah nya.


"No sayang, jangan cium aku sekarang." Mendorong wajah Hazelo untuk menjauh.


Sementara di luar ruangan.


Miguel tampak berjalan dengan santai nya sambil keluar dari ruangan itu. Ponsel nya bergetar


kemudian Ia keluarkan dari kantong jas.

__ADS_1


Miguel duduk di hadapan meja di paling ujung bagian depan. Caranya berjalan hingga duduk pun pria ini terlihat menawan dengan sejuta wibawa.


Namun tidak ada seorang pun wanita yang berani jatuh cinta padanya kecuali Dokter Faros. Berkali kali ditolak pun berkali kali Ia berusaha.


Miguel masih fokus dengan ponselnya kemudian sesekali menghubungi seseorang.


Mode kerja terlihat.


Miguel masih fokus dengan layar pipih di tangan nya, tidak mengidahkan para wanita yang berkumpul menunggu tradisi pelemparan bunga.


Gustav dan Bele telah siap di atas panggung yang akan melempar bunga.


Tradisi ini konon jika yang mendapatkan bunga akan segera menyusul menemukan jodoh. Begitu kurang lebih nya.


Para wanita sumringah berteriak, tidak terkecuali Dokter Faros yang tepat berdiri di depan Miguel.


Miguel yang sangat terganggu bangun dari duduk nya berniat meninggalkan tempat itu.


Sementara hitung mundur di mulai, pelemparan bunga siap dilakukan.


3...2...1


Bunga terlempar melambung jauh. Disambut histeris nya para wanita.


Betapa terkejutnya mereka ketika sebaket bunga itu menimpa kepala Miguel kemudian terjatuh di hadapan sepatunya.


Membuat para wanita bungkam merinding seketika. Begitu pun dengan Bele dan Gustav.


"Bagaimana jika dia emosi dan menghancurkan bunga nya" Glek! Batin Bele menelan silva.


Miguel yang awalnya sedang berjalan melewati wanita yang berisik


berhenti ketika sesuatu mengenai kepalanya. Kemudian sebaket bunga itu terjatuh tepat di depan sepatu nya.


Miguel merendahkan tubuh nya, membungkuk meraih sebaket bunga yang teronggok di sana.


Miguel tidak pernah tertarik dengan hal hal yang baginya membuang buang waktu.


Mengulurkan bunga itu ke belakang tanpa menoleh siapa yang menerima.


Para wanita hanya membisu saling pandang. Tidak berani menyentuh baket bunga itu apalagi meraih nya. Membayangkan berpacaran dengan Miguel saja membuat mereka merinding. Apalagi untuk menikah dengan nya sangatlah mustahil. Batin mereka masing masing.


jika masih ada pria lain di dunia ini, lebih baik cari yang lain saja. Batin mereka menguatkan diri.


Dengan girang nya Dokter Faros meraih sebaket bunga itu sambil menatap punggung pria yang menjauh dengan mata yang berbinar. "Sudah kuduga! Kau adalah jodoh ku Miguel." Cium Dokter Faros pada bunga di tangan nya.


-


-


Next

__ADS_1


__ADS_2