
Di dalam rumah sakit.
Bele merasa sangat bosan berbaring terus di atas bed, dengan selang infus masih terpasang di tangan nya serta kepala terbalut kasa.
Tidak terkecuali luka di paha nya yang masih belum mengering.
" Gustav, bawa aku pulang." Menoleh pada Gustav yang juga berbaring di tempat nya.
" Aku akan membawa kau pulang jika sudah sembuh." Bangun dari tidur nya mendekat pada Bele kemudian meraih buah dan mengupas nya.
Bele memperhatikan itu, Gustav yang sedang mengupas buah di hadapannya.
"Makan ya?." Gustav menyuapkan sepotong apel untuk Bele.
"Terimakasih." Bele pun menerima itu, suapan demi suapan buah masuk ke dalam mulut nya.
"Tuan muda akan kemari, mungkin sebaik nya aku meminta restu pada nya nanti." ujar Gustav sambil menyuapkan potongan apel yang terahir.
"Aku tidak yakin tuan muda akan menjenguk ku, Jangan berharap terlalu tinggi." Bele meringsut menatap langit langit kamar. Diam berfikir jauh entah kemana.
"Bele." Menarik nafas nya panjang sebelum Ia mengusap kepala Bele dan mendaratkan kecupan di sana.
***
Sementara di luar rumah sakit,
"Silahkan tuan muda." Miguel membukakan pintu mobil.
Hazelo belum juga keluar dari sana. Miguel tetap pada tempat nya entah apa yang sedang Ia tatap, tidak berani juga tidak tertarik untuk melihat apa yang sedang tuan muda lakukan bersama nona Gabriella.
"Sayang, cukup. Kita sudah sampai." Ujar Gaby yang sekarang berada di atas pangkuan Hazelo dengan tangan masih mengalung di leher.
"Kau sangat menggemaskan, Aku tidak tahan untuk tidak menggoda mu." Berbisik di telinga membuat Gaby merinding. Hazelo mengecup pipi Gabriella lagi dan lagi sebelum Ia menurunkan Gaby dari pangkuan nya kemudian keluar dari mobil setelah merapihkan Jas.
Gaby pun keluar dari mobil mengikuti Hazelo. Di tangan nya sebaket bunga mawar putih.
" Silahkan tuan muda." Berkata setelah meraih paper bag dari dalam mobil dan menutup pintu.
Ponsel Hazelo berdering, Miguel mengeluarkan ponsel itu dari saku jas nya. "Panggilan untuk Anda tuan muda." Miguel menyerahkan ponsel itu pada Hazelo.
"Ini urusan pekerjaan, kau masuk duluan bersama Miguel." Kecup Hazelo pada dahi Gabriella. "Aku segera menyusul."
"Antarkan Gaby kedalam Miguel, aku segera menyusul." Berkata pada Miguel kemudian mengangkat telepon meninggalkan Miguel dan Gabriella.
"Baik, tuan muda." Mengangguk kemudian mempersilahkan Gabriella.
"Mari nona" Miguel mempersilahkan.
__ADS_1
"UM." Gaby mengangguk kemudian meninggalkan area parkir dan mulai berjalan memasuki rumah sakit.
Sementara Hazelo masih terlihat berbicara serius perihal pekerjaan dengan seseorang di melalui ponsel nya. Duduk di kursi taman di depan rumah sakit, di bawah sinar lampu yang menerangi taman yang tamaran
sambil terus membahas kerja sama yang sedang berjalan.
"Baik tuan muda, untuk selanjutnya saya akan menghubungi asisten anda."
Terdengar kata itu sebelum ponsel Hazelo matikan.
Hazelo bangun dari duduk nya kemudian berlalu meninggalkan taman, melangkah santai sambil memperhatikan pesan yang baru saja masuk di ponsel nya.
Pesan dari Gabriella, membuat Hazelo berkerut dahi.
Hazelo mengulas senyum sambil memperhatikan pesan emoji kesal dari Gabriella mewakili rasa kesal nya yang sekarang sedang bersama Miguel. Mengumpati Miguel yang berjalan didepan nya sesuka hati.
Aku ingin meracun asisten mu Hazelo!!
bisa bisa nya berjalan mendahului aku dan menyuruh ku mengekor di belakang.
"Kau mudah sekali marah." Ujar Hazelo sambil memasukkan ponselnya kedalam kantong Jas.
Tiba tiba .
Brraakk..!!
"Aww!."
"Maaf tuan, maaf."
Hazelo terkejut mendengar suara wanita dihadapan nya yang sedang membungkuk meraih ponsel itu di bawah, Rambut panjang nya terurai.
Lebih terkejut lagi wanita itu setelah meraih ponsel dan melihat siapa yang Ia tabrak sambil mengulurkan ponsel milik Hazelo.
"Ini milik anda tu...." Wanita itu tercengang.
Deg
"Tuan muda." Refleks mundur satu langkah, dada nya berdebar. Antara rindu dan sedih terlihat saat sekilas
Ia menatap mata Hazelo namun seketika Ia berpaling.
"Viona." Lirih Hazelo.
"Maaf tu tuan muda, aku tidak sengaja menabrak anda." Suara lembut khas Viona terdengar. Kemudian Sedikit membungkuk sambil mengulurkan ponsel Hazelo lagi berniat bergegas untuk pergi.
*Mengapa harus bertemu dia di sini
__ADS_1
Apa kabar tuan muda? ingin sekali Ia bertanya begitu.
Tuan muda, apa kau masih merindukan aku*? Bodoh Viona, apa yang kau fikirkan?!
"Kau sedang apa disini?." Alih alih menjawab Hazelo malah balik bertanya.
*Aku harus jawab apa? Tidak mungkin kan sakit perut karena kram saat datang bulan,?
Kau bodoh Viona, Kram saja harus kerumah sakit!
Aku jadi ingin menangis, mengapa jadi bertemu dengan mu? Dasar Viona cengeng*!.Umpat Viona pada diri sendiri.
"Ini ponsel anda tuan, maaf aku sedang terburu buru." mundur satu langkah lagi sambil mengulurkan ponsel.
Mencari celah untuk menghindar. Dengan menunduk tidak berani menatap wajah Hazelo.
"Aku sedang bertanya Viona, bukan sedang bernegosiasi."
"Hanya menjenguk teman." Berbohong.
"Aku permisi tuan muda, Selamat malam." Berbicara lembut sambil mengulurkan ponsel.
"Apa kau tahu Bele di rawat di dalam? Miguel memberitahu mu,?." Hazelo berkerut dahi.
"Bele?" Viona terkejut. Mendongak menatap Hazelo.
"Sudah ku duga, kau tidak pandai berbohong."
"Kau masih sering sakit setiap bulan?Pulang lah beristirahat, Miguel yang akan mengantar mu. " Meraih ponsel di tangan Viona.
"Tuan muda."
"Sering lah berolahraga, itu akan mengurangi kram di perut mu."
"Aku--"
Hentikan tuan muda, jangan bersikap baik pada ku.
" Selamat malam, Viona." Hazelo berlalu meninggalkan Viona.
"Tuan muda." Mata Viona berkaca kaca menatap punggung Hazelo yang berlalu menjauh.
"Ya, pada ahir nya aku hanya bisa melihat punggung mu pergi menjauh tuan muda. Tatapan mu berubah, Apa kau sudah melupakan aku? Bodoh! Memang nya apa yang aku harapkan. Memang seharus begitu kan, Tuan muda milik nona. Dan aku tidak pantas untuk mu." Viona menatap punggung Hazelo yang terus menjauh dan mulai menghilang pergi.
"Hiduplah dengan bahagia tuan muda. Aku mencintaimu." Viona mengusap butiran bening yang menetes di pipi.
Berlalu berjalan menuju taman dan duduk di tempat Hazelo tadi.
__ADS_1
Di bawah sinar lampu yang tamaran, di depan rumah sakit kota Brazilia.
***