
Miguel kembali melajukan mobil itu hingga mereka sampai di parkiran apartement.
Viona belum juga terbangun, Miguel menunggu nya sambil menyandar di sandaran. Mata nya melihat arloji yang melingkar di tangan. Sambil menghela nafas Ia menyandar.
Viona belum juga terbangun, hanya tarikan nafas yang beraturan terdengar.
"Viona bangun." Ujar Miguel menoleh pada Viona kemudian menatap lagi lurus kedepan.
Namun Viona masih terlelap.
"Viona, kita sudah sampai."
Miguel bersuara lagi, namun Viona masih saja tidak menanggapi, Viona masih tertidur dengan pulas seperti tadi.
Miguel perlahan mendekatkan tangan nya ingin membangunkan, namun sangat ragu sebab Ia tidak pernah menyentuh wanita.
Miguel menghela nafas, Ia mengurungkan niat nya, menarik kembali tangan itu pada posisi semula.
"Viona bangun."
Miguel melihat arloji nya lagi, menghela nafas lagi, Ia bahkan belum mengantarkan tuan muda Hazelo kembali ke rumah. Pekerjaan di kantor juga masih menunggu untuk di selesaikan.
Viona sangat sulit di bangun kan, dengan terpaksa Ia melepaskan seat belt kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Menuju ke arah samping tempat Viona berada kemudian Miguel membuka pintu mobil itu.
Miguel perlahan meraih tubuh Viona menggendong nya, membawa nya keluar dari mobil perlahan, menutup lagi pintu mobil dengan menendang nya menggunakan kaki.
Suara keras pintu mobil tertutup tidak juga membuat Viona terbangun. Malah semakin nyaman di dalam dekapan Miguel yang saat ini tengah menggendongnya membawa tubuh nya masuk kedalam apartment.
Miguel melangkah menuju elevator, menekan tombol meski cukup sulit pun ahir nya pintu kubaikel besi itu terbuka.
Miguel masuk kedalam, Di dalam elevator itu Hanya Miguel dan Viona yang masih memejam di dalam gendongan.
Hingga pintu lift terbuka dan Miguel melangkah keluar dari dalam sana, Sampailah di depan pintu kamar dimana Viona tinggal.
Sangat mengejutkan! Miguel memiliki akses masuk kedalam. Ternyata benar, Miguel lah yang membuat Viona tinggal di tempat ini. Alih alih fasilitas perusahaan tempat Viona bekerja, namun semua itu telah diatur oleh Miguel.
Sebab perusahaan tempat Viona bekerja sekarang adalah partner perusahaan Group Walson.
Miguel mengedarkan pandangan, apartement yang cukup nyaman dan rapih. Bahkan design interior disana Miguel lah yang memilih sebelum Viona tinggal. Tentu saja atas perintah Tuan muda Hazelo.
Miguel membaringkan Viona perlahan. Menarik selimut untuk menutupi.
"Kau tidur atau mati." Ujar nya sebelum berlalu menghilang setelah menutup pintu.
Miguel bergegas kembali menuju mobil nya, memasuki elevator yang mengantarkan nya menuju lantai dasar, bergegas keluar saat pintu kubaikel besi itu dengan tergesa menuju mobil.
Mobil melesat dengan kecepatan tinggi menembus jalanan yang terguyur hujan, jalanan tampak sudah sangat sepi seperti nya jarang ada manusia bepergian di cuaca yang di perkirakan akan datang badai.
Tidak lama mobil sampai di parkiran rumah sakit, telah menunggu Hazelo dan Gabriella disana.
__ADS_1
Miguel membuka pintu mobil sambil melebarkan payung nya, menuju kearah dimana tuan muda Hazelo dan nona Gabriella berdiri.
"Maaf tuan, aku membuatmu menunggu."
Miguel mengulurkan payung hendak memayungi tuan muda nya.
Sorot mata Hazelo menangkap pakaian Miguel tanpa Jas. Bahkan seumur hidupnya Ia tidak pernah menanggalkan Jas nya saat bekerja.
"Ada apa dengan mu?." Melirik Miguel.
"Maaf tuan muda." Hanya itu yang terlontar membuat Hazelo menarik nafas nya panjang.
"Kau meninggalkan Jas mu disana, apa kau akan meninggalkan juga hati mu?." Hazelo menepuk bahu Miguel.
Membuat Miguel sedikit membungkuk. "Tidak tuan muda."
"Ayo Gaby, kita pulang." Hazelo melepaskan Jas nya, Ia pakaikan pada Gabriella. "Pakai ini, udara sangat dingin. Aku tidak ingin kau sakit." Ujar Hazelo kemudian meraih bahu Gabriella menuju mobil bersama Miguel yang memayungi mereka.
"Seperti ini kah yang kau lakukan untuk melindungi nya?." Hazelo melirik Miguel.
"Maaf tuan muda."
"Sayang kau ini bicara apa? Kau terlihat memojokkan Miguel." Gaby menimpali.
"Tidak ada, ayo pulang." Balas Hazelo.
"Kau belum jawab yang aku tanyakan sayang."
"MMM."
"Diam, kita lanjutkan dirumah." usap Hazelo pada bibir Gabriella.
"Silahkan tuan muda, nona."
Miguel membukakan pintu mobilnya.
Hazelo masuk kedalam bersama Gabriella, Miguel pun menuju tempatnya setelah menutup pintu.
Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang menembus deras nya hujan di kota Brazilia.
***
"Sayang, apa yang terjadi di rumah sakit?." Gaby bertanya pada Hazelo sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil usai keluar dari kamar mandi.
"Apa maksud mu?." Hazelo bangun dari duduk nya meraih sisir kemudian menyisir rambut nya yang basah di depan cermin.
"Kau tiba tiba mengusir Miguel, kemudian Miguel kembali tanpa Jas nya. ada sesuatu?." Gaby duduk di tepi ranjang
rasa penasaran membuat nya ingin bertanya.
"Miguel mengantar kan Viona." Pungkas Hazelo sambil melempar sisir kemudian duduk disamping Gaby.
__ADS_1
"Kau bertemu dengan nya? Jangan katakan kau menyuruh Miguel mengantar Viona pulang kerumah." Gaby menoleh pada Hazelo.
"Ya, tebakan mu benar." balas Hazelo datar.
"Wow, perhatian sekali ya?." Gaby bangkit berdiri menjauhi Hazelo menuju sofa.
"Apa maksudmu" Hazelo menoleh pada Gabriella.
"Kau pun terlihat cemburu tadi, saat Miguel datang tanpa memakai Jas nya kan?." Gaby meninggikan suara.
"Kau salah faham Gaby." Hazelo mengherdikan bahu. "Aku tidak cemburu pada Miguel.
"Omong kosong!." Ketus Gaby memalingkan wajah nya kesal. "Seperti nya kau belum bisa melupakan nya ya? Viona, wanita baik lembut dan luar biasa. Sangat jauh jika kau bandingkan dengan istri mu!."
"Kau itu bicara apa?." Hazelo menarik nafas nya panjang.
"Sepertinya aku tidur disini malam ini." Dengan ketus Gaby berkata. Kemudian meringkuk tidur di sofa.
Hazelo men..de..sah kan nafas nya, bangkit berdiri kemudian menuju Gabriella.
Hazelo merebah di belakang punggung Gabriella, memiringkan tubuh memeluk istrinya.
"Itu tidak seperti yang kau bayangkan. Aku tidak sengaja bertemu dengan nya tadi dirumah sakit. Viona sakit dan aku meminta Miguel mengantarkan nya pulang."
Hazelo menjelaskan.
Namun tidak mengatakan jika Ia membelikan apartment itu untuk Viona, Hazelo hanya ingin memastikan Viona hidup dengan baik.
Dan memberikan yang memang seharusnya Viona dapatkan.
Gaby diam, air mata nya mengalir, entah mengapa Ia begitu kesal hingga terlihat sangat cengeng.
"Apa kau sedang cemburu sekarang?." Senyum tipis terlihat di bibir Hazelo sambil menciumi belakang leher Gabriella.
"No! Tidak sama sekali. Aku tidak cemburu!."
"Oh ya?." Hazelo men..de..sahkan nafas nya di telinga, membuat Gabriella merinding seketika berbalik terlentang.
"Hentikan Hazelo, pergilah menjauh dari ku!."
Gaby mendorong Hazelo agar terjatuh dari atas sofa.
Bukan nya menjauh Hazelo malah menindih tu..Bu..h Gabriella. "Kau mudah sekali marah ya?" Hazelo berkata dengan tangan menarik tali kimono tidur yang Gaby kenakan.
"Kau mau apa?."
"Mau ku?" Senyum tipis terlihat
Membuat Gaby meng..ge..liat saat tangan Hazelo me..nyent..uh area bukit paling sensitif.
Next
__ADS_1