Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 88


__ADS_3

Di dalam butik berlogo keluarga Walson.


Persiapan untuk menyambut kelahiran


putra mahkota tidak lepas dari peran designer yang


bekerja di tempat ini.


Para designer yaitu tim Noorin lah yang sudah pada tingkat tertentu yang mengerjakan


setiap helai pakaian bayi khusus untuk putra


mahkota dibawah pengawasan David juga ayah nya.


Malam semakin larut, sudah tengah malam satu lampu di ruangan di lantai dua itu masih menyala.


Butiran bening mulai berjatuhan dari


langit. ya, bahkan gerimis tampak terlihat disana.


Noorin bekerja keras hampir setiap hari nya,


hingga larut.


Ia berusaha menyelesaikan pekerjaan nya sebelum target waktu yang ditentukan.


Tidak ada beban apalagi unsur


keterpaksaan, Ia melakukan pekerjaan ini dengan senang.


Ini pekerjaan nya


ini dunia nya, inilah cita cita Noorin


menjadi seorang designer profesional dan


Dengan bangga hasil karya nya akan di kenakan putra mahkota penerus keluarga Walson.


Menarik bukan?


"Selesai." Ujar nya sambil meregangkan otot otot. "Jam berapa ini, Aku sudah


mengantuk. "


Kemudian bergegas memasukkan barang barang miliknya kedalam tas, meraih


Blazer yang tergantung di sana mengenakan nya


kemudian meraih buku buku di meja dan


Keluar dari ruangan itu setelah mematikan lampu.


Noorin keluar dari butik, mengedarkan pandangan


Sudah larut malam, dan sekeliling jalanan Sudah sangat sepi. Hanya sesekali mobil pribadi melintas


di jalanan tengah kota itu.


Noorin melihat arloji, pukul satu dini hari.


"Ya Tuhan, Aku bekerja hingga lupa waktu. "


Noorin mengeluarkan ponsel yang seharian Ia matikan sebab


Hari ini tidak ingin terganggu


siapapun. Begitu banyak


panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk.

__ADS_1


Tidak lain dari kakak sepupunya Viona.


Ia berjalan sambil mengetik


ponsel memesan taxi online.


Langkah nya terhenti tatkala


ada yang diam diam mengikuti nya.


Noorin menoleh kebelakang.


"Hi Nona, " Seorang pria dengan bau alkohol


berjalan semakin mendekat.


tubuh nya tinggi besar dan tiba tiba menarik tangan Noorin


paksa.


"Siapa Anda?. "


"Lepaskan!!. " Noorin menghempaskan pria itu,


Namun sial nya pria itu jauh lebih kuat.


Menarik paksa Noorin menuju gedung tua yang mangkrak tak berpenghuni. "Kita nikmati dulu malam ini, nona. "


"Apa maksud anda tuan, Lepaskan. "


"Kita bersenang senang dulu baby. "


Tawa pria itu mengudara.


"No, mr. Lepaskan aku. " Noorin terus meronta. "Ku mohon. "


"Tidak, Aku tidak mau?!. " Noorin memekik menampar pria itu.


"Bedebah!!. " Pria itu terus menarik paksa


Noorin.


"Help..!! " "Help.. !! "


Berteriak minta tolong.


Sambil berusaha mencari ponsel,


Namun sial ya lagi ponsel nya terjatuh di jalanan tadi.


"Aww!!. " Pria itu memekik saat Noorin berusaha melawan dan menendang kaki pria asing itu. Noorin berlari, di dalam lantai dasar gedung gelap tak berpenghuni itu,


Suara langkah kaki Noorin yang berlari menggema,


Diikuti pria itu yang terus mengejar.


Noorin terus berteriak minta tolong, sambil berlari ngos ngosan


menghindari pria dibelakang nya terus mengejar.


Noorin menaiki tangga menuju lantai dua. Tas dan buku buku nya pun telah terjatuh entah dimana.


Terus berlari menghindari pria asing itu.


"Aaa.. Help..?! "


Sambil terus berteriak meminta tolong.


Noorin terdongak saat pria itu berhasil menarik penutup kepala nya.

__ADS_1


Hijab nya ditarik paksa dan koyak hingga Noorin pun mendongak tercekik kemudian menghempaskan nya.


Noorin terus berlari dengan ketakutan akan jadi apa nasib nya malam ini jika sampai tertangkap pria asing dan gila itu.


Rambut panjang nya tergerai terus berlari dan soal nya Pria itu berhasil menarik rambut Noorin.


Pria itu menarik paksa


rambut Noorin dan mendorong nya hingga dahi nya terbentur dinding.


Sarung tangan nya tergores besi yang terdapat disana hingga tembus ke dalam tangan dan mengucurkan darah.


"Kau mau lari kemana lagi cantik. " Pria itu mendukung Noorin memepet di dinding.


Noorin tidak bisa bergerak lagi, hanya menggelengkan kepala sambil memohon.


"Lepaskan aku tuan. "


Pria itu malah terbahak sambil terus mendukung memepet dan sangat dekat menempel dan sangat terasa yang dibawah sana sudah


menegang.


Aaaaaaaa........ !!!


***


Di apartement milik Viona, Ia berkali kali menghubungi Noorin namun hanya bunyi tut.. tut... tut.. yang terdengar dan Pesan nya pun telah Noorin baca namun tidak membalas nya.


Viona tahu, Noorin pasti sedang bekerja. Tapi ini sudah tengah malam. Dan


Noorin berangkat pagi pagi sekali tadi.


Viona mengetik ponsel, Ia tujukan pesan itu untuk Miguel.


"Megi, Aku mengerti kau sangat profesional dalam bekerja dan


menghormati tuan muda. Terlebih perihal calon penerus keluarga Walson.


Tapi ku mohon, belajarlah memanusiakan manusia. Noorin bekerja dari pagi dan sampai saat Ia belum juga pulang. Kau tidak memberikan perintah untuk menyusahkan nya bukan?. "


Di tempat lain, Miguel baru saja keluar dari perusahaan. Entah suatu kebetulan atau apa


Miguel melewati butik tempat Noorin bekerja.


Ketika sedang melajukan mobilnya, ponsel nya berkedip.


"Viona? " Miguel berkerut dahi membaca pesan dari Viona. Miguel menghentikan mobilnya tepat di depan butik yang tidak ada lagi tanda tanda kehidupan disana.


Lampu gedung itu telah padam, hanya ada dua security yang terlihat berjaga.


"Huh, menyusahkan saja. " Ujar Miguel yang menyandar pada sandaran.


Menghubungi seseorang perihal rekaman CCTV di butik itu beberapa waktu terahir.


"Segera saya periksa tuan. " Balas seseorang disana.


Tidak membutuhkan waktu lama, dalam lima menit Miguel mendapatkan nya.


Miguel berkerut dahi, Terlihat pada layar CCTV Noorin baru saja keluar dari sana sejak 20 menit yang lalu.


Secepat itu Miguel menyalakan mobil nya, berjalan perlahan menelusuri jalan.


Entah firasat apa membuat nya ingin keluar dari mobil. Berdiri mengedarkan pandangan.


Sudah sangat sepi,


Namun mata nya tertuju pada gedung tua yang mangkrak tidak jauh dari tempat nya berdiri dan


sempat mendengar samar wanita meminta tolong.

__ADS_1


__ADS_2