Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 29


__ADS_3

Berbekal surat cuti Bele menggenggam nya erat sambil mencengkram kemudi. Dadanya berdebar sejak saat masih di dalam Mansion hingga detik ini semakin Bertalu. Tidak lain sebab mendapat notifikasi di ponsel nya jika seseorang yang Ia tunggu kembali ke negara nya.


Bele mengendarai mobil fasilitas dari Nyonya Walson melesat jauh meninggalkan mansion menuju pinggiran kota dimana tempat tinggalnya berada. Hamparan rumput yang hijau dan Hembusan angin laut begitu terasa di sekitar tempat tinggal Bele yang tidak jauh dari pelabuhan.


Sejak beberapa jam yang lalu, Ia telah merias diri dibantu perias pribadi nyonya Walson. Rambutnya di buat blow bergelombang. Wajah khas wanita Italia terlihat semakin cantik berbeda dari biasanya. mengenakan Dress tanpa lengan dan Blazer selutut menutup di bagian luar dengan High heels menghiasi kaki jenjang nya. Bahkan kuku kuku yang tadinya natural dibuatnya berwarna.


Bele memarkirkan mobil di depan bangunan klasik dua lantai tempat tinggal nya itu. Diatas rerumputan hijau itu Bele melepas seat belt membuka pintu mobilnya kemudian. Bele keluar dari mobil, menginjakkan kaki diatas rerumputan itu setelah cukup lama Ia tidak kembali. Melangkah dengan perlahan kemudian mengetuk pintu.


"Mamma, sono a casa"


(Ibu, aku pulang.)


"Mammae" Bele meninggikan suara sambil mengetuk pintu.


Belum ada jawaban dari dalam sana. Tidak ada bell yang bisa digunakan untuk memanggil sang pemilik rumah agar tidak perlu bersusah payah mengetuk pintu begini. Gerutu Bele sambil terus memanggil ibu nya.


"Bele." Seorang pria yang suaranya sangat tidak asing bagi nya memanggil Bele


menyebut nama.


Bele menjatuhkan tangan nya dari, berbalik. Menoleh pada sumber suara, terkejut melihat siapa yang sedang melangkah menuju kearah Dia berdiri.


" Gustav." Bele berkaca kaca saat menyebut nama itu. Menatap nanar kedepan bahkan tas yang sejak tadi bertengger di tangan nya terjatuh tanpa terasa. Pria itu tersenyum terlihat dari kejauhan, membuat Bele tidak mampu lagi menahan nya seketika berlari menuju pria disana.


"Gustav?!" Bele meninggikan suara nya sambil menghambur memeluk pria yang begitu sangat Ia rindukan.


Gustavano Alpha kekasih Bele sejak 6 tahun yang lalu. Menjalin hubungan sejak masih sama sama mengenyam pendidikan di Prancis. Satu Almamater ketika Bele sedang menyelesaikan program Megister nya disana.


Bagaimana bisa? Bele? Ya, Tuan Walson memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak anak dibawah naungan nya. Bele memilih menjadi kepala pelayan untuk mengurus semua yang Tuan muda Hazelo butuhkan bersama Miguel. Pekerjaan yang membuatnya bangga dan suatu Kedudukan yang bagi Bele lebih terhormat dari pada seorang General manager di kantor utama tuan Walson.


Gustav, pria baik yang sekarang mendekapnya erat. Bekerja pada Tuan Walson mengurus perusahaan di luar negeri yang membuat mereka berhubungan jarak jauh.


"Aku merindukan mu." Kecupan itu mendarat di dahi.


Membuat Bele semakin mengharu biru semakin lama semakin sesenggukan.


"Jangan menangis." Gustav mengusap rambut nya.


"Aku sudah sangat ingin menikah dengan mu, namun kau selalu saja memintaku menunggu." mengusap rambut Bele lagi dan lagi.

__ADS_1


Bele semakin sesenggukan. Membuat Gustav menarik nafas nya panjang kemudian melepaskan pelukannya.


Mengusap air mata nya kemudian mengecupnya disana. "Aku mencintaimu Bele. Sampai kapan lagi aku harus menunggu mu. Tuan Walson merestui kita bahkan Tuan muda Hazelo juga Miguel sekalipun.


"Aku akan menikah jika tuan muda telah bahagia. Kita sudah sering membahas nya dan jawabanku tetaplah sama."Bicara kemudian menangis lagi.


Tidak ada yang bisa merubah pendiriannya jika berhubungan dengan tuan muda Hazelo dan keluarga Walson.


Gustav menyentuh pipi Bele, mengusap air mata nya lagi. Kemudian sedikit menunduk mendekatkan wajah nya, wajah mereka semakin dekat kemudian dan terjadilah bibir mereka bertemu, Berciuman melepas rindu hingga waktu yang lama. Tangan Bele Ia kalungkan di leher Gustav dengan Gustav semakin mendekap nya erat. Di bawah tamaran senja, didepan Villa berlogo keluarga Walson yang sekarang menjadi kediaman orang tua Bele.


Ibu Bele berdiri di depan pintu, entah sejak kapan Ia disana. Memalingkan wajah nya melihar apa yang sedang terjadi di sana, Kemudian menutup pintunya lagi membiarkan mereka melepas rindu.


"Aku mencintaimu Gustavano Alpha." Ujar Bele Kemudian menautkan bibir nya lagi dan lagi.


***


Di dalam Mansion tepat nya di dalam kamar Hazelo.


Gaby sedang mengeringkan rambut nya yang masih basah. Sedangkan Hazelo baru saja keluar dari walk in Closet berganti pakaian.


Gaby melirik Hazelo, tidak seperti biasa Ia mengenakan pakaian Casual namun tidak sedikitpun mengurangi ketampanan khas Hazelo.


"Ku dengar kau suka berkuda." Hazelo berkata sambil mengambil alih Hairdryer yang berada di tangan Gaby kemudian membantu mengeringkan rambut Gabriella.


" Kau mau apa. Aku bisa sendiri Hazelo" Alih alih menjawab, malah merebut Hairdryer yang ada di tangan Hazelo. Gaby merasa semakin menggila jika Hazelo terus melakukan itu pada nya. Sebab bohong jika tengkuk nya tidak merinding.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku." Hazelo menepis tangan Gaby perlahan. "Biar aku bantu kau mengerjakan ini."


"Aku memang suka berkuda. Ada apa? Apa kau ingin menantang ku?." Mendongak menatap pada Hazelo.


O..****!!


Umpat Hazelo saat wajah mereka menjadi sangat dekat.


Seketika Hazelo memalingkan wajah.


"Kenapa marah?. Aku hanya bertanya." Gerutu Gaby.


"Itu yang aku maksud. Aku menunggumu di taman belakang." Hazelo berbisik di telinga.

__ADS_1


"Kita berpacu. Jika kau kalah kau turuti apapun yang aku inginkan. Kemudian berbalik meninggalkan Gaby setelah Hairdryer di tangan nya Ia lemparkan keatas ranjang dan Hazelo keluar sambil menutup pintu.


"Cih! Selalu saja bertingkah semaunya. Tidak bisa kah kau tidak mengerjaiku sehari saja." Gerutu Gaby kesal sambil keluar dari kamar mengikuti Hazelo.


Gaby menyentuh rambut yang tadi Hazelo keringkan, sambil menuruni tangga Ia tersenyum sendiri.


"Jika terus melamun, dengan mudahnya aku mengalahkan mu." Suara Hazelo membuyarkan lamunan.


" Baik tuan muda." Kesal Gaby sambil meninggikan intonase bicara nya.


Gaby setengah berlari mengikuti langkah Hazelo. Ngos ngosan sebab jarak antara kamar Hazelo dan taman di belakang cukup jauh.


"Eh?." Gaby terkejut ketika Hazelo sudah berada di atas kuda tepat di hadapan nya. Lebih membuat Gabriella terkesiap ketika Hazelo mengulurkan tangan.


"Naik lah."


Deg. Deg. Deg


Hanya begini saja dadaku menggila.


gumam Gaby dalam hati.


"Ayo."


Hazelo mengulangi ajakan nya.


Seketika Gabriella meraih tangan Hazelo, dengan Hazelo menarik Gaby membantunya naik keatas kuda tepat di hadapan nya.


"Kau bilang berpacu, kenapa jadi begini sih?!." Teriak Gaby dalam hati.


Lebih sangat terkejut ketika Hazelo meletakkan dagu nya di bahu Gabriella. Mau tidak mau Gabriella pasrah meski harus membeku ketika Hazelo memeluknya dari belakang.


-


-


Vote...Vote...Vote...


Next

__ADS_1


__ADS_2