Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 97


__ADS_3

Weekend,


Pagi yang cerah, beberapa orang terlihat berolah raga di tempat ini.


Di taman pusat kota Brazilia yang dikelilingi apartement mewah dan hotel berbintang.


Tidak terkecuali hotel dan apartement berlogo keluarga Walson pun terdapat di sana.


Noorin duduk di kursi taman yang tidak begitu jauh dari Apartement milik Viona, Ia belum pindah ke Apartement fasilitas dari tempat nya bekerja kendati belum berkemas.


Noorin Duduk menyilangkan kaki dengan satu kertas dan pena di tangan.


Pakaian besar tertutup adalah ciri khas wanita ini.


Sambil menghirup udara di pagi hari yang segar, membawa secarik kertas dan pena berharap mendapatkan inspirasi menggambar mengusir kejenuhan.


Aku tidak salah lihat kan?


Sedikit terkesiap saat Sorot mata nya tertuju


Seorang pria tinggi kekar sedang berlari pagi dengan earphone di telinga.


Tetesan peluh membasahi kaos putih polos yang melekat di tubuh pria itu.


Dan tentu saja Dia sedang berolah raga.


Pria berdarah Roma, berpenampilan tidak seperti biasa. Menanggalkan Jas nya berpakaian casual yang tidak menunjukkan identitas bahwa Ia adalah salah satu petinggi Group Walson.


Dalam moment langka itulah Noorin spontan otak nya bekerja.


Seolah mendapatkan inspirasi.


Ia mulai menggerakkan pena nya, membuat sketsa design sambil sesekali melirik pria yang sedang berlari di sana.


Noorin terus menggambar, tersirat senyum yang samar disana, sedikit demi sedikit gambar stelan tuxedo terbentuk.


Ia terus menggerakkan pena nya, namun seketika pena Noorin terjatuh saat tiba tiba terbesit di fikiran


bayangan Miguel mengenakan tuxedo yang sedang Ia buat design nya itu.


"Tidak, apa yang kau fikiran Noorin. " Mergumam sambil meraih pena yang terjatuh di rumput.


Noorin terkejut saat pria itu melintas membuat nya kemudian mendongak,


saat pria yang sedari tadi Ia perhatikan melintas tepat di hadapan nya.


Dia kemari?


Tuan Miguel.


Terlebih pria itu tiba tiba duduk di kursi taman yang sama.


Seperti nya tidak memperhatikan sedikitpun kalau wanita di sebelahnya adalah Noorin.


Duduk di kursi panjang yang ada di taman itu. Sambil menenggak air mineral.


Kemudian meremas botol air mineral itu dan memasukkan nya ke dalam tong sampah.


Nafas nya terdengar ngos ngosan. Peluh yang mengalir dari dahi menuju pelipis nya Ia lap dengan lengan.


Tampan


Satu kata yang tepat untuk pria yang duduk tidak jauh dari Noorin duduk itu.


Seketika Noorin berpaling berpura-pura tidak melihat, sebelum Miguel menyadari jika Ia diperhatikan sejak tadi.


Menyapa tidak ya?


Melirik.

__ADS_1


Sebenarnya Noorin ingin sekali bicara pada Miguel, namun tentu saja tidak memiliki keberanian.


Tapi disisi lain Ia ingin berterima kasih juga bertanya, Saat Miguel melemparkan pria gila dari gedung, ternyata pria gila itu tewas.


Noorin sempat melihat pemberitaan di televisi.


Namun setelah nya, Noorin tidak menemukan lagi pemberitaan itu, Apa kau menghapus nya


Batin Noorin berkelut dengan fikiran nya sendiri.


Rasa ingin menyapa Miguel semakin kuat, seketika bibir nya pun seolah berucap sendiri.


"Selamat pagi tuan. "


Noorin memberanikan diri, menoleh pada Miguel menyapa nya ramah.


Miguel menoleh sekilas, kemudian meluruskan pandangan nya lagi.


Acuh, Tidak merespon, apa lagi membalas sapaan Noorin.


Sungguh Noorin menyesal menyapa Miguel, yang disapa sedikit pun tidak menghiraukan, Rencana awal ingin berterimakasih pun Ia simpan kata kata nya kembali, Pertanyaan yang sudah disusun pun menghempas seperti butiran debu yang tertiup angin.


Waaa...


*Manusia macam apa dia


Melirik Miguel yang duduk tenang, hembusan nafas nya tidak lagi kentara ngos ngosan.


Keringat yang berada di dahi pun telah mengering.


Sama sekali tidak ada pembicaraan lagi selepas itu,


Kertas yang ada di tangan Noorin pun Ia remas.


Batin yang awalnya ingin membuatkan tuxedo sebagai ucapan terimakasih pun Ia urungkan.


Taman itu mulai sepi, Namun Miguel belum juga beranjak meski Noorin sebenarnya ingin sekali pergi dari sana. Sudah hampir 30 menit Miguel pun belum mengeluarkan suara.


Miguel menghela kan nafas nya, Ia bangkit berdiri kemudian berlalu.


Noorin yang melihat itu seketika berdiri


"Tuan, Terimakasih untuk semua kebaikan anda. "


Apa yang aku katakan


Menutup mulut.


Mulutku sungguh tidak bisa di ajak kompromi!


Miguel berhenti.


"Kau sudah mengatakan nya berulang kali. "


Benar juga


Ucapan ku sungguh tidak penting.


"Jas anda, Sudah aku cuci dan segera aku kembalikan. "


Noorin berkata lagi dengan nada ramah khas nya.


Miguel tidak juga menoleh.


"Aku tidak membutuhkan nya lagi. "


suara datar terdengar.


"Tapi Jas anda sangat mahal tuan, Sayang jika dibuang kan?. "

__ADS_1


"Aku tidak menginginkan lagi barang ku jika di pakai orang lain. " Miguel pergi begitu saja.


Hanya sebuah Jas,membuang waktu saja!


Duar!


Seolah tertampar dengan ucapan datar Miguel.


Noorin menarik nafasnya dalam, menatap punggung pria itu yang pergi menjauh.


Menyesal telah mengajak Miguel bicara,


*Dia dingin sekali.


Entah mengapa Noorin sebenarnya ingin mengajak Miguel bicara dengan nya.


Seperti David seniornya yang selalu menceritakan hal apapun.


Sepertinya aku berharap terlalu jauh.


Sejujurnya Noorin cukup terkesan saat Miguel menolong nya, juga penasaran mengapa Viona selalu menceritakan hal hal baik tentang Miguel.


Rasa penasaran mengapa pria itu begitu acuh dan dingin. Tidak tertarik dengan segala hal selain dunia pekerjaan.


***


"Aku pulang. " Noorin masuk kedalam apartement milik Viona.


Wajah nya kusut, masih merasakan imbas dari kejadian memalukan di taman.


Viona keluar dari kamar, masih dengan piyama lalu menguap.


Viona baru saja bangun tidur.


"Kau dari mana?. " Suara serak khas bangun tidur, Ia menjatuhkan diri nya di sofa.


Berbaring lagi.


"Jalan jalan. " Noorin duduk di samping Viona.


"Ada apa?. "


Noorin menggeleng kan kepala.


"Tidak ada, "


"Wajahmu masam, terjadi sesuatu?. " Viona bangun dari tidur nya mengusap kepala Noorin yang menggunakan penutup.


"Tidak apa apa kak, Aku hanya tidak sengaja bertemu tuan Miguel. "


"Apa dia menyakiti mu?. "


Noorin menggelengkan kepala.


"Aku hanya menyesal menyapa nya tadi "


Viona tertawa.


"Mengapa kau tertawa. "


"Aku bisa menebak, Dia diam saja tidak membalas sapaan mu atau dia langsung pergi menganggap kau tidak pernah ada?. "


"Mungkin kedua nya. " Noorin Mengherdikkan baju kemudian bangkit berdiri hendak meninggalkan Viona.


"Jika Miguel diam, Dia sedang menunggu apa yang ingin kau katakan. "


"Namun jika di pergi begitu saja tanpa menunggu jeda waktu kau bicara, itu artinya dia tidak mau mendengar apapun dan tidak pernah menganggap kau ada. "


Noorin berfikir, tadi tuan Miguel diam. Memberi jeda waktu hampir 30 menit untuk Noorin bicara.

__ADS_1


Namun Noorin tidak mengatakan apapun hingga Miguel bangkit berdiri dan pergi.


"Aku kekamar dulu kak. " Noorin mulai sedikit mengerti, wajah nya tidak lagi terlihat masam kemudian masuk kedalam kamar.


__ADS_2