Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 102


__ADS_3

Di dalam rumah sakit.


Hazelo mendorong kursi roda yang membawa istrinya keluar dari ruangan


VVIP itu, menuju ruangan khusus di mana putra nya di rawat.


Kondisi Nona Gabriela membaik,


bahkan alat alat medis tidak terkecuali selang infus tidak lagi terpasang. Semua telah terlepas dan hanya menunggu pemulihan.


"Padahal Aku bisa saja berjalan, kenapa harus begini?."


"Kenapa menggunakan kursi roda"


"Kau mau aku menggendong mu?" Bicara sambil terus mendorong istri nya.


"Tidak, aku tidak mau.""


"Kalau begitu Jangan membantah, duduk saja."


Menurut


Gabriela menghela "Baiklah"


Hingga sampailah di salah satu ruangan besar yang di hadapan nya terdapat dinding kaca transparan.


Gabriela menatap dari kejauhan, pemandangan yang menusuk ulu hati,


putra nya memejam di dalam ruangan khusus berdinding kaca itu.


Dengan alat alat medis masih terpasang di tubuh mungil yang tidak berdaya itu.


Air mata lolos begitu saja menetes di pipi nona Gabriela.


Ia mendekat pada dinding kaca itu, Menodongak menatap nanar pada Hazelo kemudian menyentuhkan tangan nya dan membenturkan kepala di dinding kaca itu.


*Anak ku.


Bangun lah sayang, Ini mommy*.


Gabriela hanya diam dan mengusap dinding kaca itu, air mata nya terus mengalir terenyuh melihat keadaan sang putra.


Hazelo merendahkan tubuh nya, berlutut dengan bertumpu pada satu lutut


"kondisi nya berangsur angsur membaik. jangan cemas."


Hazelo mengusap air mata Gabriela menenangkan.


Kondisi Putra mahkota memang sudah bisa di bilang bagus, bisa menelan air susu meskipun masih menggunakan alat bantu medis. Detak jantung dan cara nya bernafas terbilang sudah mulai normal, Dan Tubuh nya mulai memerah tidak lagi biru ataupun pucat pasi.


Bahkan terkadang sudah mulai ada pergerakan di tangan mungil itu meskipun mata baby boy itu belum juga terbuka.


Gabriela menyentuh dinding kaca itu lagi.


Air mata nya lolos lagi dan seketika Hazelo merengkuh istri nya memeluk nya erat.


"Kau menjadi Ibu, dan Aku menjadi Ayah. Aku sudah lama menantikan nya. Namun Semesta baru mengizinkan sekarang."Mengecup pucuk kepala Gabriela.


"Kita besarkan dia bersama, berjanjilah akan terus hidup dan menemaniku hingga ahir."

__ADS_1


Hazelo semakin mempererat pelukan nya saat Gabriela semakin sesenggukan hingga tubuh nya bergetar dalam dekapan.


"Aku mencintai mu Gaby. Terimakasih kau sudah memperjuangkan anak ku dan melahirkan nya." Kecup lagi Hazelo pada pucuk kepala Gabriela sebelum Ia melepaskan pelukan nya, dan mengusap air mata istri nya lagi.


"Dia baik baik saja, percaya lah."


Gabriela mengangguk. "Selamatkan anak kita sayang. Lakukan apapun, apapun demi putra mu."


Gabriela tersendu.


Tidak lama datang dari kejauhan, terlihat Bele beserta Miguel yang mendekat ke arah mereka.


Seketika Hazelo bangkit berdiri dan Gaby mengusap sisa sisa air mata nya di pipi.


Bele mendekat, menundukr kemudian berlutut.


Bele masih menundukkan kepala.


Ada bekas memar di pipi nya, juga bibir yang terlihat membengkak sepertinya habis di pukul.


Dalam hati Gabriella bertanya tanya. Menerka nerka kemungkinan perbuatan Miguel.


"Maaf kan Aku nona,"


Lirih Bele yang masih menunduk. "Aku bersalah dan Aku menyesal. Aku pantas di hukum dan Aku mohon maafkan Aku nona.


Hazelo melihat itu, Ia tidak berkomentar apapun.


"Tuan muda, maafkan Aku."


Gabriela yang menggunakan kursi roda mendekat pada Bele, Perlahan Gabriela menyentuh dagu nya agar mendongak.


Melihat memar dan lebab di wajah.


"Tidak nona."


Menggelengkan kepala.


Gabriela menoleh pada Miguel, "Apa ini perbuatan mu?!." Hardik Gabriella pada Miguel, namun pria itu masih diam tanpa ekspresi.


"Lalu kenapa kau seperti ini, kau tidak perlu melindungi Miguel. Dia yang memukulmu kan?". Meninggikan suara memaksa untuk bicara.


Tidak membahas maaf ataupun memaafkan lagi.


"Tidak nona, saya yang melakukan nya sendiri." Menggelengkan kepala.


Bele berkata jujur, Ia tidak berbohong, tidak ada gurat kebohongan sama sekali.


Bele memang memu*kul dirinya sendiri. Mengurung diri memberikan hukuman selama dua hari hingga Miguel menghubungi nya jika nona Gabriela sudah sadar barulah Bele menyelesaikan hukuman nya.


Apa itu masuk akal?


Masuk akal untuk seorang Bele yang tidak pernah melakukan kesalahan, Masuk akal untuk Bele yang memegang teguh sumpah setia nya pada kaluarga Walson.


Ia menyadari yang dilakukan nya adalah kesalahan yang tidak pantas di maafkan.


"Apa yang kau lakukan, tidak ada yang menyalahkan mu. Aku yang salah, terlalu bersemangat dan tidak berhati hati."


"Bangun lah Bele." Meraih Bele agar bangun dari Ia berlutut.

__ADS_1


"Maafkan Aku nona." Bele mengusap air mata nya, Ia belum juga berdiri. Menoleh ke arah Miguel yang mengangguk baru Ia bangkit berdiri.


"Bekerjalah dengan benar, tebus kesalahan mu dengan menjaga ku dan putra ku."


Bele mengangguk.


"Baik nona"


"dan jangan pernah buat lagi kesalahan!."


Ujar Miguel sambil menatap dinding kaca yang memperlihatkan ruangan intensif khusus untuk merawat putra mahkota.


"Baik, Baik nona. "


"Aku memaafkan mu." Balas Hazelo tanpa menoleh ke arah Bele.


Ia berdiri di samping Miguel di depan dinding kaca transparan menatap putra mahkota.


"Terimakasih sudah memberiku kesempatan tuan muda"


Ujar Bele sambil mengusap air mata nya.


***


Setelah kondisi nona Gabriela mulai membaik, putra mahkota juga telah mendapatkan perawatan intensif dan kondisi nya berkembang bagus, Tubuh bayi mungil itu mulai normal dan tidak lagi pucat apalagi kebiru an.


Sudah mulai bisa menelan ASI meskipun menggunakan bantuan alat medis.


Dan akan segera di lepaskan alat alat medis nya dan di pindahkan ke ruang perawatan bersama Nona Gabriela.


Penjagaan telah di perketat dan para perawat telah di perintahkan khusus untuk menjaga dan melayani nona Gabriela.


Hazelo masih setia menjaga istri dan putra nya sedangkan


Miguel mendapatkan perintah untuk kembali ke Brazilia.


Kelahiran putra mahkota tentu masih di rahasiakan. Bahkan Tuan dan Nyonya Walson belum mengetahui nya.


Apalagi orang tua Gabriela dan keluarga besar Mamoju tidak juga di beri kabar.


Menunggu waktu yang tepat agar semua nya membaik dan kembali ke Brazilia dengan selamat.


Yang mereka tahu hanya, tuan muda Hazelo dan nona Gabriela sedang pergi untuk berlibur. Tidak ingin di ganggu privasi nya oleh siapapun.


Miguel keluar dari rumah sakit itu.


Langkah lebar pria berstelan Jas itu dengan dengan rahang yang tegas dan pandangan fokus nya menunjukan kewibawaan dan keangkuhan Miguel.


Ia sedang menuju area terbuka, beberapa perawat yang menyapa nya sambil membungkuk satu pun tidak ada yang di hiraukan nya.


Miguel terus melangkah menuju area terbuka yang ng tidak jauh dari gedung rumah sakit itu tempat Halicopter berada.


Baling baling Helocopter itu telah berputar, menunggu Miguel masuk kedalam menaiki nya.


Dengan menggunakan helicopters Miguel mengudara.


Meninggalkan rumah sakit itu menuju kota tujuan yaitu Brazilia ibu kota negara Brazil.


***

__ADS_1


__ADS_2