
Di dalam gedung utama perusahaan Group Walson.
Hazelo masih fokus dengan layar lipat nya, terkadang mengeryit kan dahi ketika membaca kertas kertas diharapkan nya dan kembali fokus dengan yang sedang Ia kerjakan.
Agenda keluar kota tertunda sebab hujan lebat disertai badai yang tak kunjung reda di kota tujuan,
membuat penerbangan ditunda hingga saat ini pun belum ada konfirmasi untuk pesawat pribadi nya bisa take off.
Tok..tok..
"Aku boleh masuk tuan muda?." Terdengar suara Miguel.
Tidak ada sahutan dari dalam, membuat Miguel menunggu di luar
beberapa saat.
Miguel pun ahir nya meraih handle pintu setelah beberapa saat menunggu namun tetap tidak ada jawaban dari tuan muda Hazelo.
Miguel masuk kedalam, menutup pintu perlahan, Ia mendekati Hazelo kemudian.
"Ada apa?." Berkata tanpa melirik Miguel.
Mata nya masih fokus dengan layar lipat dihadapan nya
juga sesekali meraih lembaran kertas yang menumpuk di dalam map map yang menunggu sang pemilik perusahaan melakukan
tanda tangan.
"Nona mengirimkan pesan untuk anda."
Miguel meletakkan ponsel di hadapan Hazelo dengan hati hati.
Dahi tuan muda Hazelo berkerut. bolpoin di tangan nya Ia letakkan di atas kertas itu kemudian mendongak.
"Gaby?."
"Apa dia mencemaskan aku?." masih mendongak menatap Miguel.
Cih! baca saja sendiri tuan muda!
"Iya tuan muda." Miguel mengangguk. Sebab Miguel sudah membaca pesan itu sebelumnya.
Seketika Hazelo membuka ponsel membaca pesan dari Gabriella.
Sayang, apa kau baik baik saja? Kudengar diluar kota sedang badai, Apa kau ada disana?Aku mencemaskan mu.
Kuharap kau menunda perjalanan mu dan segera pulang. Aku merindukan mu. he..
(Emoji tertawa)
Hazelo tidak membalas, Ia mengulas senyum sambil memijat pelipis nya.
Aku jadi ingin segera pulang kan.
Hazelo bangun dari duduk nya, merapihkan Jas kemudian melangkah melewati Miguel.
__ADS_1
"Gaby merindukan ku, Miguel."
Cih! bukan urusan ku tuan muda!.
Miguel memang begitu, tidak pernah tertarik dengan hal apapun.
"Belikan dia sesuatu yang akan membuatnya senang." Berkata sambil melangkah menuju pintu.
"Baik tuan muda." Berkata kemudian meraih handle pintu membuka nya untuk Hazelo.
"Ahir Ahir ini cuaca buruk sering terjadi di sekitar kota terdekat dengan Brazilia. Jika esok masih juga belum reda, perjalanan anda ditunda hingga cuaca kondusif." Miguel berkata sambil mengikuti langkah Hazelo tepat di belakang.
"Ubah jadwal pertemuan, Buat sesingkat mungkin. Aku tidak ingin meninggalkan istri ku terlalu lama." Balas Hazelo.
"Baik tuan muda."
***
Mobil yang Miguel kemudikan dengan kecepatan sedang di bawah hujan yang tidak begitu lebar namun angin lah yang cukup kencang, Wiper bergerak menghibaskan air yang mengenai kaca mengganggu pandangan saat Miguel mengemudi.
Miguel melirik dengan ekor mata nya kebelakang, terlihat Hazelo sedang memandang ke luar kaca sambil men..de..sahkan nafas nya seolah tidak sabar ingin segera sampai di mansion.
Sebaket bunga mawar bertengger di paha Hazelo. Sesekali mencium harum nya membayangkan Gabriella pasti suka.
Ya, Miguel sempat singgah di toko bunga tadi sebelum melanjutkan perjalanan mereka lagi menuju ke Mansion tuan Hazelo Walson.
Mobil terparkir sempurna di depan pintu utama. Seperti biasa Bele menyambut beserta para penjaga. Namun Gabriella tidak ikut serta sebab Ia tidak tahu Hazelo pulang lebih awal kali ini.
Miguel membukakan pintu mobil. Secepat itu Hazelo keluar dengan sebaket bunga bertengger di tangan.
lega.
Para penjaga hanya sedikit membungkuk hormat, saat Hazelo masuk melewati
mereka yang berdiri siaga di depan pintu.
"Dimana Istri ku?." Bertanya sambil melangkah masuk.
"Di atas tuan muda, nona sedang bermain piano." Balas Bele sambil mengikuti Hazelo di belakang. Saat Hazelo menaiki anak tangga, Bele dan Miguel berhenti di sana, tidak naik juga dan mengikuti.
Bele menatap punggung Hazelo yang sekarang sedang bergegas menaiki anak tangga.
" Anda lihat tuan Miguel? Tuan muda sudah bahagia, sudah waktunya kau memikirkan dirimu begitu juga dengan ku."
Kebahagian tuan muda. Itulah tujuan Bele selama ini bekerja. Melihat tuan muda bahagia adalah harapan dan tujuan utama, sebagai balasan atas kebaikan tuan Walson pada keluarga Bele.
Miguel hanya diam tidak menyahuti, sorot mata nya terus mengarah pada tuan muda Hazelo hingga tidak lagi tertangkap pandangan mata.
Terdengar bunyi melodi piano, Hazelo menuju ke ruangan itu. Ruangan luas di lantai dua tempat Gabriella menghabiskan waktu. Memainkan piano untuk menghilangkan rasa sepi jika Hazelo belum kembali.
Dari hati nya Ia berkata, merindukan sosok mahluk kecil yang tangis nya akan meramaikan Mansion yang sepi.
Pintu terbuka, Hazelo melangkah masuk tanpa Gabriella sadari.
Tangan kanan nya Ia sembunyikan di belakang menggenggam sebaket bunga mawar pun juga Ia sembunyikan di belakang punggung.
__ADS_1
"My wife."
Gaby terkejut ketika ada yang memeluk nya dari belakang. "Sayang?!."
"Kau sudah pulang?."
"Kau tidak senang?." Hazelo menjatuhkan kepala nya di bahu Gabriella.
"Bukan begitu, kau bilang pulang larut malam ini. Hingga Aku tidak menyambut mu."
"Aku merindukan mu." Gaby semakin menghangat ketika bibir Hazelo menyentuh pada bahu nya.
Hazelo bangkit kemudian, membuat Gaby juga bangun dari duduknya.
"Eh?." Tangan kanan Hazelo menunjukan sebaket bunga dihadapan Gabriella.
"Ini untuk ku?." Dengan wajah sumringah Gaby menerima.
"Ya, ini untuk mu." Hazelo menggantungkan kalimat.
" Sayang."
Lirih Hazelo Membuat Gabriella tertegun beberapa detik. Wajah merona terlihat, Ia tidak salah dengar kali ini.
Hazelo memanggil ku sayang. Aku tidak salah dengar kali ini*
Getaran di dada terjadi, Terasa teduh dan hangat terdengar, rasanya jadi ingin menangis. "Terimakasih tuan muda Hazelo." Kecup Gaby pada pipi Hazelo.
"Aku mencintaimu." Lirih Hazelo mendekatkan wajah nya.
"Ya? Apa?."
Haze tidak menjawab, tangan nya menyentuh pipi Gabriella, mendekatkan wajah nya hingga dahi mereka bertemu.
"I Love you. My wife." Lirih Hazelo.
Mata Gaby berkaca kaca, Hati nya sungguh mengharu, Dalam khayalan Ia menampar
pipi menyadarkan bahwa ini tidak mimpi. Cinta nya sungguh terbalas, Tuan muda mengakui nya.
Mengakui bahwa Dia mencintai aku, Gabriella Mamoju.*
Air mata menetes, Keharuan yang tidak mampu lagi tertahan,
Hazelo pun mengisap pipi nya dengan Ibu jari,
"Tetaplah disisi ku, kita akan menua bersama." Hazelo menempelkan bibir nya pada bibir Gabriella.
Dan terjadilah, Ciuman hangat dalam waktu yang lama, bertaut sempurna saling meresapi cinta keduanya yang bertaut lembut. Hampir selembut ciuman keduanya yang sedang terjadi.
Sebaket bunga ditangan terjatuh tanpa terasa, saat Gabriella mengalungkan tangan nya di leher Hazelo dan Hazelo pun menahan tangkuk nya.
Di dalam ruangan, di dalam Mansion
Di kota Brazilia.
__ADS_1