
Brazilia
Beberapa jam yang lalu...
Miguel baru saja melihat dari kejauhan pesawat yang membawa tuan Hazelo dan nona Gabriella lemas landas.
Miguel memasukkan ponsel nya kedalam kantung Jas setelah mengirim pesan singkat untuk tuan muda Hazelo.
Satu jam sebelumnya Bele beserta dokter kandungan dan beberapa pengawal telah menuju ke suatu Pulau tempat tujuan tuan muda Hazelo sekarang.
Semua itu adalah perintah Miguel, memperketat penjagaan di sekitar pulau tanpa nona Gabriella sadari.
Miguel melesatkan mobil nya, melewati kota Brazilia menuju Mansion tuan muda Hazelo.
Pintu gerbang Mansion itu terbuka, Miguel masuk kedalam disambut dia security yang membungkuk hormat.
Melewati taman depan menuju depan pintu utama.
Hanya ada dua pengawal yang berjaga disini. Dan beberapa pelayan yang bertugas untuk bersih bersih dan
Beberapa pria yang sedang membersihkan kebun merawat bunga bunga.
Miguel masuk melewati pintu utama, beberapa pelayan yang berpapasan membungkuk hormat menyapa.
Ia kemudian duduk di sofa, melihat arloji sepertinya sedang menunggu seseorang.
Tidak lama mobil khusus yang terbiasa di gunakan para designer untuk mengantar pakaian tiba di depan pintu utama terparkir.
Sopir yang membawa mobil itu menelan silva.
*Tuan Miguel sudah datang. Batin nya sambil tertegun menatap mobil milik tuan Hazelo terparkir.
Beberapa menit kemudian dia mobil datang menyusul.
Di dalam nya adalah tim designer dari Noorin dan David,
Keluar dari mobil.
Noorin mengedarkan pandangan. Ini pertama kali nya Ia masuk kedalam kediaman tuan Hazelo.
Rumah yang megah melebihi istana negri dongeng.
Ternyata memang ada rumah seperti itu di dunia nyata.
tidak hanya di buku cerita, komik bahkan novel.
Batin Noorin sambil melangkah memasuki pintu utama mengikuti David yang berada tepat di depan.
Sedangkan karyawan butik yang lain menurunkan barang barang barang, pakaian serta perlengkapan untuk tuan muda junior yang belum lahir.
"Selamat siang tuan,maaf membuat Anda menunggu. " Noorin sedikit membungkuk menyapa.
Miguel diam, sorot mata nya tertuju pada tangan yang terbungkus sarung tangan putih dan sepertinya balutan perban di dalam telah menghilang.
Itu artinya Noorin sudah tidak apa apa, terlebih dahi Noorin pun tidak lagi terlihat ada balutan perban melekat.
David duduk di sofa, tepat di hadapan Miguel.
Sedangkan Noorin masih berdiri di samping David.
Miguel mengulurkan tangan, yang artinya mem persilahkan Noorin untuk duduk.
Noorin pun mengantuk, Ia pun duduk di sofa.
Suasana sangat kaku, formal dan dingin.
Masih hening, belum ada pembicaraan di sana.
Sedangkan para karyawan lain lalu lalang menurunkan barang masukkan nya kedalam kamar putra mahkota di lantai dua.
"Kau sudah melewati masa percobaan mu. "
__ADS_1
Miguel mulai bersuara.
Dada Noorin berdetub takut jika hasil karya nya mengecewakan.
David mengeluarkan map berisi kertas kertas yang semalam Miguel berikan.
"Itu kontrak kerja dengan Group Walson. Baca dengan teliti sebelum kau tanda tangani. "
Mode kerja di mulai.
"Baik." Noorin meraih map itu di atas meja, membuka isi nya berisi kertas kertas bertuliskan kontrak kerja.
Ia pun membaca nya.
Raut wajah nya sedikit berubah, dahi nya berkerut hingga membaca nya berulang ulang takut kalau kalau salah baca.
Nominal gaji yang baginya adalah fantastis.
Juga tertegun saat membaca fasilitas lain terutama sebuah apartement yang tidak jauh dari butik itu.
*Ya Tuhan, apa ini sungguhan? Batin Noorin.
"Selamat ya, kau memang hebat. Aku mendukung mu. " Bisik David seniornya.
Noorin mengangguk.
"Bekerjalah dengan baik. Tuhan memberkati mu. " Berbisik lagi.
Noorin mengangguk lagi.
Dengan tersenyum pun Noorin menandatangani kontrak kerja itu.
"Terimakasih tuan, " Noorin meletakkan bolpoin di atas map yang Ia letakkan dengan hati hati.
"Jangan lakukan kesalahan." Miguel bangkit dari duduknya, melangkah menaiki anak tangga.
Glek
David menelan silva.
David dan Noorin mengikuti Miguel dari belakang.
Miguel terus melangkah menuju kamar baru yang belum lama ini jadi.
Ya, kamar khusus untuk putra mahkota.
Para karyawan butik beserta para pelayan yang baru saja merapihkan pakaian putra mahkota membungkuk hormat.
"Kami permisi tuan. "
Membungkuk lagi kemudian berlalu pergi.
Sangat terlihat oleh Noorin, betapa terhormat nya pria itu dilingkungan keluarga Walson.
Noorin pun memasuki kamar itu, Miguel diam saja, tidak mengusir Noorin artinya diizinkan.
"Kamar indah menarik khas baby boy. "
Batin Noorin sambil mengulas senyum.
***
"Gila!! Kau hebat, cemerlang, genius, berbakat! Kau luar biasa!!. "
Memuji memuji dan terus memuji
Itulah yang sepanjang perjalanan sepulang dari Mansion sambil memukul mukul kemudi.
Bersemangat.
"Anda berlebihan tuan David. " Balas Noorin yang sekarang duduk di samping nya di dalam mobil.
__ADS_1
"Kau tidak mengenal Miguel, Dia tidak akan pernah segan untuk menghancurkan karya mu jika tidak sesuai eksplorasi dan fikiran nya! . " Meninggikan suara.
"Aku tidak mengerti. " Memalingkan wajah menatap kaca di samping.
"Kau sangat polos. Tidak akan faham. "
David menatap jalanan.
"Maksudnya?! "
Noorin menoleh.
"Kau tahu? Miguel itu selalu menuntut kesempurnaan. Dia tidak akan memberi fasilitas dan gaji yang tidak sesuai dengan kinerja karyawan, tidak terkecuali kinerja mu.
Dan Aku. "
Menjelaskan.
"Dan sebaliknya, jika bekerja tidak sesuai dengan keinginan nya Miguel tidak segan segan menghancurkan nya, menghukum bahkan memecat seketika jika membuat kesalahan. "
Menjelaskan tanpa jeda.
"Miguel tidak berkomentar apapun, itu berarti dia menyukai kinerja mu. Tidak ada lagi yang perlu untuk di kritik dan di komentari oleh nya. "
Noorin manggut manggut mulai mengerti.
"Kau tahu Noorin?. "
Melirik Noorin.
"Apa?. "
"Gaun buatan ku saja dua kali dihancurkan oleh nya. Dan sejak itu Aku tidak lagi membuat gaun, Hanya Dress dan Jas yang aku rancang.
Kecuali ada permintaan khusus dari klien tuan Hazelo untuk aku membuatnya. "
"Tapi ini rahasia ya, Noorin. " Berbisik.
Noorin mengangguk mengerti.
"Mengapa Anda ceritakan itu pada ku. Anda sedih dan kecewa saat itu kan?. " Noorin tersenyum ramah.
"Kau sangat polos dan terlihat jujur. Aku rasa kau bisa di percaya. "
tersenyum memperlihatkan gigi gigi nya.
Noorin pun tergelak.
David memperhatikan sekeliling.
"Ini di mobil, Miguel tidak akan dengar kita membicarakan nya. "
Noorin pun tertawa, Ia tutupi tawa nya dengan tangan.
"Coba kau tebak, wanita seperti apa yang pantas mendampingi pria seperti itu?"
Yang dimaksud adalah Miguel.
"Aku tidak tahu. "
Dia menyeramkan. Batin Noorin.
"Dia tidak pantas untuk semua wanita. " Hahaha... Tertawa
Noorin pun ikut tertawa, Bagi nya David adalah seniornya itu orang yang baik dan menyenangkan.
"Noorin"
"Ya?. "
"Semalam Kencan ku batal. Miguel menghancurkan nya. "
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya dengan ku?. "
"Tidak ada, Kau cukup mendengarkan saja aku bercerita. " Berkata dengan masih fokus mengemudi. Sambil terus mengoceh ini dan itu, hingga terkadang tawa mereka mengudara.