
Helicopters yang membawa nona Gabriella mendarat di erea taman rumah sakit.
Tim medis yang sebenarnya telah mendapatkan informasi dari dokter pribadi keluarga Walson pun telah bersiap menunggu di sana.
Seketika setelah Helicopter itu mendarat, para perawat siaga mendorong bed rumah sakit tergesa.
"Bantu turun kan pasien, CEPAT"
Salah satu perawat menginstruksikan perawat lain kemudian membantu menurunkan Gabriella dari dalam Helicopter.
Tim perawat itu bergegas mendorong nona Gabriella masuk ke dalam ruang gawat darurat dengan Hazelo pun ikut masuk kedalam.
Tidak ada yang berani mencegah tuan muda Hazelo, Tuan muda Hazelo terlihat sangat murka dan sangat mencemaskan istri nya.
"Selamatkan istri ku, Apapun yang terjadi!!. "
Hazelo menarik krah leher Dokter yang hendak memeriksa keadaan nona Gabriella.
Meninggikan suara di hadapan dokter itu.
Sangat terlihat Aura kemarahan yang mengerikan.
Membuat nyali siapapun menciut bergetar takut."Kami akan berusaha Tuan. "
Ujar Dokter itu berusaha tenang.
"Hazelo." Gaby membuka mata. Merintih merasakan denyutan di perut nya yang rasa sakit nya hampir menusuk di tulang belakang.
"Sayang, mana yang sakit? Mana yang sakit aku akan mengobati mu. " Berlutut di lantai, Ia ciumi tangan istrinya berulang ulang.
Di hadapan dokter dan perawat yang terheran heran atas sikap Hazelo di depan istrinya.
"Hazelo." Merintih lagi.
Denyutan hebat terjadi lagi.
menyentuh tangan Hazelo sambil merintih dan merintih.
"Sayang,bertahan lah. " Hazelo kecupi tangan Gabriella berulang.
Dokter beserta perawat yang sejak tadi terlihat begitu sibuk memeriksa nona Gabriella, memasang alat alat medis, membersihkan darah dan melakukan serangkaian pemeriksaan termasuk denyut jantung sang bayi.
Hazelo berkaca kaca, Ia yang sejak tadi meluapkan emosi di hadapan perawat dan Dokter wanita itu
Seketika terdiam saat denyut jantung putra nya terdengar di sana.
"Nona akan di pindahkan ke ruang bersalin. " Ujar Dokter wanita itu
kemudian bersiap memindahkan nona Gabriella ke ruangan
bersalin.
"Tuan, nona Gabriella mengalami kontraksi. " Dokter pribadi itu menjelaskan dengan hati hati, jika kemungkinan nona Gabriella akan melahirkan sekarang.
"Apa!. "
Hazelo mengusap kasar wajah nya, mendekati istrinya mengecup dahi nya berkali kali.
"Bertahan lah, Kau akan baik baik saja. Aku berjanji. "
"Aku hazelo bersumpah, akan melindungi mu apapun yang terjadi.
Aku mau kau Gabriella, Jangan tinggalkan aku. Ku mohon. "
Tim medis yang ada di ruangan itu terenyuh mendengar tuan Hazelo begitu tulus mencintai istrinya.
Suasana yang awalnya tegang sebab tuan Hazelo melupakan emosi.
Menjadi hening penuh haru.
Tim medis dengan cepat memindahkan nona Gabriella menuju ruang VVIP yang telah di sulap menjadi ruang bersalin.
Darah dari dalam sana tidak henti hentinya mengalir.
Gabriella berkali kali menahan rasa sakit nya tidak lagi merintih, tidak lain sebab agar tidak menyulutkan emosi Hazelo.
Entah sudah berapa kali Dokter dan perawat yang ada di sana mendapatkan bentakkan dari Hazelo.
Hingga tiba tiba tim medis terbaik dari rumah sakit milik group Walson datang kesana.
"Tuan, mohon anda menunggu di luar sebentar."
__ADS_1
Ujar Dokter itu ramah.
"Aku ingin menemani istri ku. "
"Kami akan melakukan tindakan pada pasien, mohon kerja sama nya.
Tuan Hazelo."
Hazelo tidak mampu mengelak lagi.
Ia pun keluar dari ruangan itu.
Saat Hazelo baru saja keluar, Sorot mata nya tertuju pada Miguel yang telah berdiri di depan pintu.
Bugh.!!
Bugh..!!
Bugh..!!
"KENAPA BARU DATANG BODOH!!. "
Tanpa aba aba Hazelo langsung menghajar Miguel.
Meng.. ha--tam perut nya berkali kali melupakan emosi.
*
Miguel hanya diam.
"Apa tangan anda terluka tuan muda?. "
Melirik Hazelo yang duduk di samping nya sekarang.
Duduk berdampingan di kursi tunggu di depan pintu ruangan yang tertutup.
"Gabriella berdarah, Kau kemana saja. Mengapa baru muncul
SIALAN?!. "
"Maaf tuan muda. "
Hingga beberapa waktu terlewat hanya memandangi pintu ruangan di depan nya yang tertutup.
Tuan muda
Miguel melirik pria yang menyandarkan kepala nya di bahu.
Benar, tuan Hazelo menyandar pada bahu Miguel.
Sambil menatap pintu ruangan yang masih tertutup menunggu dengan penuh pengharapan istrinya akan baik baik saja.
Tidak lama puntu ruangan itu terbuka. Perawat itu terkejut sudah ada Miguel di samping Hazelo disana.
Hazelo mengangkat kepala nya, tidak lagi menyandar.
Menoleh pada
Perawat itu yang membeku ragu.
"Ada apa? apa yang terjadi?!Bagaimana istri ku."
Hazelo bangkit berdiri mendekati perawat itu.
Ucapan nya lebih tenang dari sebelumnya
di dalam ruangan tadi.
"Tuan, istri anda akan melahirkan."
"Gaby?. " Hazelo terke siap.
Secepat kilat Hazelo masuk ke dalam.
Semakin membuat perawat itu bergetar saat meliha Miguel bangkit berdiri, berjalan tenang untuk mendekati nya.
"Ceritakan yang terjadi. "
Ucapan datar terdengar.
"Begini......."
__ADS_1
Perawat itu menceritakan yang terjadi pada nona Gabriella, melaporkan pada Miguel.
"Nona mengalami pendarahan, hingga cairan Amnion atau yang biasa di sebut air ketuban sudah pecah. Dan sekarang sedang dilakukan tindakan induksi. Atau yang bisa disebut rangsangan agar lebih cepat untuk nona mengalami kontraksi.
Jika itu tidak berhasil, Kemungkinan Nona Gabriella akan di lakukan tindakan operasi . "
Miguel terdengar menghela.
"Baiklah, Aku mengerti. Lakukan yang memang seharusnya di lakukan. "
"Baik tuan." Membungkuk.
"Saya permisi. " Membungkuk lagi kemudian masuk kedalam.
Miguel masih duduk menunggu, sambil melipat tangan di dada Ia pembenturkan belakang kepala nya di dinding.
Dalam hati nya mencemaskan tuan muda Hazelo, dan nona Gabriella.
Terlebih pada bayi yang seharusnya masih berusia tujuh bulan.
Fikiran nya kacau, " Jika lahir sekarang, maka akan membutuhkan perawatan yang ekstra, Miguel harus segera mempersiapkan jika kemungkinan itu terjadi.
*
Sementara di dalam ruangan
Nur
Nut
Nut
Suara alat alat medis yang telah terpasang. Bahkan alat bantu pernafasan untuk nona Gabriella pun telah terpasang di sana.
Hazelo melihat itu, semakin tersulut Ia pun ambruk berlutut di samping istrinya.
Gabriella yang merasakan sakit yang begitu sangat hebat.
Berusaha menahan agar emosi Hazelo tetap stabil.
Entah sudah berapa kali Hazelo memaki di dalam ruangan itu.
Gabriella berusaha mencegah dengan terus memegangi tangan suami nya bertaut.
Hazelo masih berlutut di samping Bed itu sambil terus menghujani Gabriella dengan ciuman.
Tim medis seketika terlihat sangat sibuk ketika kontraksi nona Gabriella semakin sering dengan rasa sakit semakin hebat.
"Sayang, maafkan aku. maafkan aku. " Mengecup lagi dan lagi.
Gabriella berusaha menahan nya dengan tersenyum.
Tidak ingin Hazelo membuat kekacauan.
Hingga rasa sakit itu semakin menyerang menusuk ulu hati.
"Tuan muda, " Lirih Gabriella.
"Ya sayang. " wajah Hazelo mendekat.
"Apapun yang terjadi, selamat kan anak kita. " Lirih Gabriella tersenyum.
"Kau akan baik baik saja, Aku berjanji.percayalah. "
Air mata Hazelo menetes.
"Tuan muda, dengar kan aku. " Gabriella mengusap pipi Hazelo yang basah.
"Berjanjilah pada ku.
Selamatkan anak kita, apapun yang terjadi. "
Lirih Gabriella sambil tersenyum. "Aku sudah tidak sanggup lagi. "
"Semua akan baik baik saja. Percayalah "
Mengecup tangan istrinya yang terpasang selang infus disana lagi dan lagi.
"Berjanjilah tuan muuda, Selamat kan dia, ku mohon. " Air mata Gabriella menetes.
Mencengkram tangan Hazelo sekuat tenaga.
__ADS_1