Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 80


__ADS_3

Siang telah berganti malam, bintang bintang nampak berkelip kelip di atas langit kota Brazilia.


Para manusia lalu lalang menikmati ahir pekan di sekitar taman kota yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan.


Disinilah satu pria yang selalu terlihat angkuh itu berada.


Sejak tiga puluh menit yang lalu Ia masih duduk tenang menyandar pada sandaran sambil menyentuh kemudi.


Menunggu perintah selanjutnya sambil mengawasi tuan muda Hazelo dan nona Gabriella yang sedang berada di dalam restoran sederhana di pinggir jalan.


Sebab Nona Gabriella yang tiba tiba ingin makam Moqueca sebelum tidur.


Para koki dengan segera membuatkan special untuk nona namun nona Gabriella menginginkan Moqueca yang berada di pinggir jalan.


Moqueca adalah makanan bersantan disertai hidangan laut.


Tuan muda Hazelo segera menghubungi Miguel, Tidak membutuhkan waktu lama Miguel pun sampai di dalam Mansion.


Sejenak lupa akan Nona Gabriella yang akan memuntahkan isi perutnya jika melihat Miguel dan mendengkus bau nya.


Dan benar saja, hoooeekk...!!!


"Mengapa kau kemari Miguel?! Aku tidak suka melihat mu!!."


"Kau bau sekali Miguel, Aku tidak suka. Menjauhlah."


Sejak kehamilan nona Gabriella, entah sudah berapa puluh parfum yang Miguel buang dan mengganti nya dengan yang baru. Namun Nona Gabriella tetap tidak menyukai wajah bahkan aroma Miguel.


Alhasil Miguel tidak pernah lagi mengantarkan nona Gabriella meskipun hanya pemeriksaan kandungan.


Tuan muda sendiri lah yang sekarang mengantarkan nona Gabriella kemanamun nona Gabriella ingin pergi.


Miguel hanya mengawasi langsung dari kejauhan.


Di dalam restoran yang sebelumnya telah di steril kan dari pengunjung.


"Sayang, tempat ini sepi sekali." Bertanya dengan mulut yang masih mengunyah.


Hazelo tidak menjawab hanya mengherdikan bahu.


"Kau mau?." Menyodorkan sendok menyuapi.


"Makan lah yang banyak, Aku tidak terbiasa makan di tempat seperti ini."


"Ini enak sekali." Mengunyah tanpa jeda.


" Kedai ini sangat sederhana, bisakah kau membuatnya lebih besar?"


Hazelo mengangguk.


Menoleh pada sang pemilik untuk mendekat.


"Anda memerlukan sesuatu tuan Muda." Ujarnya sopan.


"Istri ku menyukai makanan di sini.,"


"Terimakasih tuan, saya sangat tersanjung. Suatu kehormatan yang luar biasa anda berkunjung kemari."


Membungkuk hormat.


Hazelo mengeluarkan semua lembaran uang yang ada di dompet nya meletakkan di meja kemudian bangkit berdiri setelah istri nya selesai.


"Terimakasih tuan muda, nona, terimakasih."


membungkuk berkali kali dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Ayo sayang." Hazelo mengulurkan tangan.


Gabriella meraihnya. Menggandeng tangan suami nya melangkah keluar dari restoran yang sangat sederhana itu.


Miguel keluar dari mobil setelah memastikan mobil tuan muda Hazelo telah pergi menjauh dari tempat parkir.


Pintu restoran terbuka, sang pemilik terkejut melihat siapa yang datang.


"Selamat malam tuan. Tuan muda telah pergi dan saya menjalankan yang anda perintah kan." Membungkuk lagi.


Miguel menarik kursi kemudian duduk disana.


Membuat sang pemilik restoran semakin berdebar, perlahan mendekati Miguel.


Apa aku membuat kesalahan?.


Tanpa bicara Miguel mengeluarkan cek dan meletakkan nya di meja. "gunakan ini untuk memperbaiki tempat ini."


Bangkit berdiri dan berlalu begitu saja setelah mengatakan itu.


Pemilih restoran meraih selembar cek yang jumlahnya fantastis sambil menyeka air mata yang tiba tiba menetes penuh haru.


Sambil menatap punggung pria yang berlalu dan menghilang di balik pintu, hati nya bergumam.


"Semoga Tuhan merahmati mu tuan. "


***


Mobil sport melaju melewati kota Brazilia. Sambil menyentuh kemudi dan memfokuskan pandangannya kedepan, Hazelo Kemudian menoleh pada istrinya yang tiba tiba menyandar di bahu.


"Ada apa." Kecup Hazelo pada pucuk kepala Gabriella.


Gabriella menggelengkan kepala.


"Jika mengantuk, tidur lah. Aku akan membangunkan mu kalau sudah sampai."


"Lalu?." Hazelo berkerut dahi.


"Apa aku menyusahkan mu?." Menoleh pada Hazelo yang fokus dengan kemudi.


"Kau itu bicara apa. Kau tidak menyusahkan ku tapi menyusahkan Miguel. Aku tidak mengerti sebenci itu kah kau dengan nya?."


"Entahlah, Dia membuat aku muak." Gaby mengusap usap perut nya yang mulai membesar.


Raut wajah nya berubah kesal jika membahas tentang Miguel.


"Baiklah baiklah lupakan." Mungkin anak kita yang membenci Miguel. Hazelo tergelak.


Mobil terus melaju hingga sampai ke dalam Mansion.


"Kita sudah sampai." Hazelo melepaskan seat belt kemudian keluar dari mobil. Belum sempat Ia menutup pintu mobil, Ia mendengar rengekan istri nya.


"Gendong!."


"What?!." Hazelo berkerut dahi.


"Gendong."


"Baiklah My Queen." Hazelo menutup pintu mobil kemudian menuju Gabriella berada dan menggendong nya. Menghelakan nafas nya sebab kesabaran nya sedang di uji.


Senyum kemenangan mengembang. Gabriella kalungkan tangan nya di leher suami nya sekarang.


"Wanita hamil, ada aja alasan agak kemauan nya di penuhi."


Gabriella hanya tergelak.

__ADS_1


Hazelo menggendong nya keluar dari mobil, membawa nya masuk kedalam melewati pintu utama di sambut Bele dan dua pelayan sedikit membungkuk sopan.


"Selamat malam tuan muda."


Bele yang dengan sigap membantu menutup pintu mobil yang masih terbuka.


"Aku ingin berenang."


"Apa!." Hazelo Menghentikan langkah nya saat akan menaiki anak tangga.


"Apa?." Memastikan yang Hazelo dengar barusan.


"Aku ingin berenang."


"Ini sudah malam, kau bisa sakit."


"Air nya hangat bukan?. Aku ingin berenang sekarang."


"Sayang---."


Belum selesai Hazelo bicara, Gaby mengecup bibir Hazelo.


"Aku ingin berenang bersama mu. Tidak, Aku merindukan mu, Aku juga menginginkan mu."


Menatap serius Hazelo. kedua tangan Gaby berada di pipi Hazelo menatapnya lekat.


Hazelo mengulas senyum samar, berbalik menuruni anak tangga kemudian melewati Bele menuju arah kolam renang berada. "Matikan semua akses cctv." Haze Berkata saat melewati Bele.


"Baik tuan."


Hazelo membawa istrinya menuju tepian kolam kemudian menurunkan nya. "Hati hati, lantai nya sangat licin." Ujar Hazelo sambil menurunkan istri nya perlahan.


Bele yang selalu bisa membaca situasi, Ia kemudian berlalu menyiapkan bathrobe kembali dengan membawa nya dan meletakkan nya di atas meja di samping kolam renang.


"Selamat bersenang senang tuan muda." Ujar Bele sambil menggeser pintu kemudian menutup nya, lampu kolam renang di buat remang remang, beserta tirai yang kemudian Ia tutup rapat.


Para pelayan Bele bubarkan untuk memasuki kamar mereka masing masing. Sedangkan seluruh anggota keluarga Hazelo telah kembali ke Roma tidak terkecuali Tuan dan Nyonya Walson.


Orang tua Gaby juga telah kembali ke Sando Paulo sore tadi.


Tidak ada siapapun di Rumah yang utama, hanya dua manusia yang sedang menikmati panas nya adegan yang sedang terjadi di tepian kolam.


Dingin nya udara yang berhembus dan air kolam yang hangat mendominasi setiap hentakan yang sedang terjadi.


Da..da yang semakin membesar dan pin..ggul yang semakin berisi membuat ga..i..tahu malam ini semakin menguat. Suara laknat mengudara, meskipun sudah berusaha menahan namun tetap saja mencuat.


Dibawah gemerlapnya bintang, di dalam Mansion, di Kota Brazilia.


********


Miguel keluar dari mobil menuju elevator yang akan mengantarkannya menuju rumah dingin nya yang sepi.


Lantai tertinggi di Apartement mewah inilah Ia memejam dan meregangkan otot otot nya di malam yang sudah larut.


Klik..


pintu apartement terbuka, Ia meraba dinding menyalakan lampu. Miguel masuk kedalam menuju dapur. Miguel menyalakan lampu, sorot mata nya tertuju pada meja makan dengan di atasnya terdapat tudung saji putih yang tertutup.


Miguel membuka nya. Meraih memo yang tergeletak di sana.


"Makanlah selagi hangat."


Itulah catatan yang tergores di kertas.


Ya, Bele yang selalu mengirimkan ini semua setiap malam, dan selalu memastikan untuk Miguel makan dengan baik.

__ADS_1


"Terimakasih kak." Batin Miguel sambil mencicipi sup dengan sendok.


__ADS_2