
Mexico
Tepat nya di dalam ruang makan kediaman Nyonya Mamoju.
Malam ini aku sangat bahagia, Mommy mulai menyambutku dengan baik, Daddy pun terlihat sangat lega. Mungkin sebab Hazelo menunjukkan kemesraan nya pada mereka tanpa ada kecanggungan sama sekali
Dan artinya mereka tahu jika aku berhasil keluar dari masa lalu.
Terimakasih untuk semua nya tuan muda,
Aku mencintaimu* Gumam Gaby dalam hati mewakili perasaan nya saat ini sambil menoleh pada Hazelo yang menatap nya saat ini.
Sedikit tidak nyaman sebab Hazelo mencium lagi bibir nya lagi sekarang
Dihadapan orang tua nya, di meja makan juga tentu saja di depan Miguel.
"Makan yang banyak ya, Kau terlihat pucat dan tidak berenergi." Ujar Hazelo meletakkan potongan roti di atas piring Gabriella.
"Terimakasih." Tersenyum pada Hazelo.
Cih, Aku pucat sebab kau yang membuatku tidak tidur malam tadi! Gerutu Gaby.
Saat Gaby dan Hazelo mulai menikmati makan malam
Layar ponsel Miguel berkedip, Miguel meraih ponsel itu dari kantong jas nya kemudian membuka ponsel.
Raut wajah nya bereaksi, menggenggam kuat ponsel nya sambil Menarik nafasnya berat.
"Ada apa?." Hazelo yang melihat itu buka suara.
Sontak saja seluruh penghuni meja makan menoleh pada Miguel yang sedang berdiri di belakang di mana Hazelo duduk.
"Aku ijin malam ini kembali ke Brazilia tuan muda."
"Terjadi sesuatu?." Hazelo berkerut dahi.
"Bele," Miguel menggantungkan kalimatnya, menarik nafas nya lagi mengambil Jeda.
"Bele mengalami kecelakaan."
"Apa? Bele kecelakaan? Bagaimana bisa? Apa dia baik baik saja?" Gaby terkejut menimpali.
"Pergilah, Kau urus sendiri semua nya."Balas Hazelo.
"Baik, Tuan muda." Miguel sedikit membungkuk kemudian mundur kebelakang dan berbalik.
"Kembalilah jika sudah kau pastikan tidak terjadi apapun pada nya." Ujar Hazelo.
"Baik tuan muda." Balas nya sebelum Miguel berlalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Tenang lah. Miguel yang akan mengurus semua nya. "Mengusap usap punggung istri nya menenangkan.
"Tapi--" Belum selesai Gaby berkata.
"Jika kau se khawatir itu pada Bele, aku bisa cemburu lho?!."
"Apa!."
Kau bilang apa tadi? Cemburu? Apa aku tidak salah dengar? yang benar saja!
"Kau lupa, Saingan ku itu seorang wanita. Dan Bele itu juga wanita. Kau Fikir aku amnesia bisa lupa begitu saja saat kau berselingkuh dengan wanita itu?."
Kenapa kau masih saja mengungkit itu.
***
Sementara Miguel bergegas keluar dari Mansion melangkah lebar menuju Helicopter.
Sambil melangkah Ia menghubungi seseorang.
"Selidiki yang terjadi dan pastikan Bele mendapatkan pelayanan terbaik."
Ujar Miguel sambil terus melangkah menuju Helicopter yang telah siap mengudara.
Putaran baling baling Helicopter menciptakan angin yang mulai bergemuruh. Wajah tampan Miguel pun Terhempas pula oleh angin tersebut. Sangat terlihat begitu kewibawaan nya pria ini. Menaiki Helicopter disambut sedikit membungkuk dari sang pilot.
"Silahkan tuan."
Helicopter itu mengudara meninggi meninggalkan kota Mexico.
***
Brazilia
Gustav yang terlihat sangat gusar dan frustasi duduk di kursi tunggu sebuah rumah sakit di luar ruang ICU.
Sejak beberapa jam yang lalu Ia mondar mandir dengan gusar terkadang sambil memohon kesembuhan untuk orang yang bagi nya sangat berarti.
Belum ada pemberitahuan dari pihak rumah sakit perihal Bele. Seperti ada unsur kesengajaan agar Gustav tidak bisa menemui nya saat ini.
"Dokter, Dokter bagaimana kondisi calon istri ku?." Tanya Gustav pada dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
Dokter itu hanya memohon maaf menggunakan isyarat tangan nya tanpa bicara apapun. Sudah berkali kali Gustav bertanya pada setiap dokter atau perawat yang keluar masuk tetap saja jawaban mereka sama. Bungkam tanpa bicara apapun.
Malam pun semakin sangat larut,
tidak
bahkan hampir menjelang fajar.
__ADS_1
Tidak jauh dari rumah sakit, deru Helicopter terdengar mendarat, rintik gerimis yang jarang sekali terjadi di musim panas pun turun.
Pria dengan sejuta wibawa nya turun dari Helicopter, melepaskan kaca mata hitam bergegas menuju kedalam rumah sakit.
"Bugh..!! Bugh..!!"
Hant*aman mengenai wajah dan perut Gustav.
Hampir saja Ia tidak sadarkan diri Limpung ambruk di atas lantai dinginnya rumah sakit.
"Ampun, Maaf tuan Miguel." Rintih nya menahan rasa sakit. Menggunakan bahasa yang Formal meskipun diluar jam kerja berusaha meredam amarah Pria ini. Sebab Gustav tahu seperti apa watak Miguel itu.
Bibir nya mengeluarkan darah, Gustav memejam sesaat benar benar tidak mampu untuk berdiri.
"Yang seperti ini kau sebut bisa melindungi Bele?." Miguel meletakkan satu kaki nya di atas punggung Gustav.
"Maaf tuan,"
"BODOH!!."
"Tapi aku mencintai nya Tuan. Aku memohon restu dari mu. Aku ingin menikahinya segera." Dengan sisa tenaga nya Gustav angkat bicara.
Marah lah jika kau ingin marah. Pukul saja jika kau ingin memukul ku.
Miguel terdiam. "Apa yang seperti ini kau masih berani berkata kau mencintai nya?."
"Krek" Miguel menekan kan kaki nya di punggung Gustav hingga terdengar berbunyi tulang punggung nya.
"Ampun tuan" Gustav mendongak. "Setelah hari ini, Tidak akan terulang lagi untuk Bele terluka."
"Kau masih bernyali?! Lalu mengapa kau tidak menjemput nya dan kau biarkan dia celaka!!" Suara Miguel menggema di dalam rumah sakit.
Semua perawat yang berjaga tidak berani menoleh apa lagi bertanya ada apa. Mendengar suara Miguel menggema saja membuat mereka merinding
Seolah tercekik udara yang seketika sesak di dalam ruangan itu
" Aku mencintainya tuan, Ku mohon restu kami."
Lirih Gustav sambil meletakkan kepala di atas lantai tidak lagi berani mendongak.
"Aku mencintainya dan akan terus memperjuangkan nya memohon restu dari anda dan tuan muda Hazelo."
"Maafkan aku tuan, Aku berjanji dengan nyawa ku. Tidak akan ada lagi kejadian seperti ini seumur hidup Bele."
"Cih!!" Miguel menurunkan kaki nya dari atas punggung Gustav kemudian melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Gustav yang masih tersungkur di atas lantai rumah sakit.
Miguel masuk kedalam ruang ICU tempat Bele berada. Sedangkan Gustav hanya bisa melihat punggung pria itu yang perlahan menghilang, seiring dengan meremangnya pengelihatan Gustav yang semakin lama semakin memudar dan gelap.
"Tuan, Tuan." Seorang perawat menolong Gustav yang telah tidak sadarkan diri di atas lantai rumah sakit yang dingin itu.
__ADS_1
-
-Next