Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.

Tak Kusangka Bisa Mencintaimu.
Episode 81


__ADS_3

"Sudah pagi " Gabriella meraih bathrobe yang teronggok di lantai dengan tangan nya. Menggeser tubuh nya perlahan tidak ingin membangunkan Hazelo yang sekarang menangkub di dada nya di bawah selimut.


Kulit mereka bertemu, mendekap tanpa pembatas.


"Berat sekali."


Gabriella menggeser pelan pelan, Hazelo sempat menggeliat namun tertidur lagi.


"Huih."Gaby menghela, duduk menyandar pada sandaran sambil mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuh nya yang polos.


Ia melesat menuju kamar mandi, Ia tanggalkan lagi bathrobe itu membiarkan nya teronggok di lantai, kemudian menjulurkan kaki nya masuk kedalam tempat berendam.


"Hangat nya."


Berendam air hangat disertai harumnya aroma terapi dari sabun cair yang ia gunakan.


Gaby mengusap seluruh tubuh, tidak terkecuali mengusap perut nya yang kian membesar.


"Lucu nya." Gaby senyum senyum sendiri sambil terus mengusap perut nya. "Tumbuhlah dengan sehat, Mom mulai bisa merasakan getaran mu."


"Tidak disangka, Aku mengandung. Aku wanita normal seperti pada umumnya. Menikah dan memiliki anak." mengingat seperti apa kebencian nya pada Hazelo saat itu, merasa geli ketika mengingat Ia pernah menyukai wanita.


Bahkan kejadian malam itu, dimana pertama kali nya Ia melakukan itu bersama Hazelo dan terus menginginkan nya hampir setiap malam.


"Aku benar benar kecanduan." Batin Gaby sambil menutup wajah nya yang memerah dengan kedua tangan, wajahnya memanas mengingat kejadian semalam di kolam renang.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunan. "Eh?"Gaby menoleh ke belakang, "Kau sudah bangun?."


Hazelo masuk kedalam kamar mandi.


"Aku terkejut saat membuka mata kau tidak ada." Hazelo melemparkan handuk nya kemudian mendekati Gaby dan


masuk ke dalam tempat berendam.


"Aku mau lagi."


Berbisik sambil memeluk Gaby dari belakang, tangan iseng nya me..re..mas bu--kit yang kenyal di sana


"Hentikan, semalam kan sudah." Suara parau terdengar saat tangan itu mulai meraja lela dan lidah ikut menelusuri.


"Semalam aku hanya mengabulkan yang kau inginkan, dan sekarang Aku yang mau."


Gaby menggeliat saat Hazelo menggigil lembut puncak bukit nya.


"Jangan berdalih."


"Itu fakta." Berkata sambil menelusuri telinga dan le..her.


"Kau yang menggoda ku kan?!." Suara disertai de..sa..Han terdengar. Tangan Gaby mencakar rambut Hazelo sekarang.


"Jangan pura pura amnesia. Kau menggodaku, kau mengajak berenang dan sesuka hati kau menikmati tu..bu..h ku!." Berbicara dengan mengambil jeda saat Li..dah nya menjilat..i bukit yang indah.


Kenapa jadi aku?..


aaa..hhh....


"Tapi.mmm----" Gaby tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, bibir nya tertutup bibir Hazelo dengan lidah yang mengajak nya bermain.

__ADS_1


Tangan tangan lincah dan nakal nya telah berada pada atas bukit indah yang menjulang Ken..yal dan semakin menantang.


bibir Hazelo menelusuri telinga hingga ke le..her, terus turun kebawah membuat Gaby mencakar rambut Hazelo yang berada di da..da nya sekarang.


Hoeeekkk...


Hoeeekkk....


Gabriella mual tiba tiba, mendorong Hazelo kemudian naik ke atas menuju wastafel.


"Ada apa sayang." Hazelo panik


Dan benar saja, Gabriella mengeluarkan isi perut nya di sana. "Aku mencium bau Asisten mu! Menyebalkan."


"Tidak ada Miguel disini." Hazelo mengherdikan bahu.


Hoeeekkk..!!


"Jangan menyebutkan nama nya! Aku semakin mual Astaga!!."


Hoeeekkk...!!


Hazelo mendengkus sambil menahan sesuatu, bahkan yang di bawah sana awal nya telah menegang sekarang lemas kembali.


Secepat kilat Hazelo menyelesaikan mandi nya, meraih handuk kemudian Ia lilitkan di pinggang. Juga meraih bathrobe untuk menutupi tubuh Gabriella.


Hazello menggendong nya keluar dari kamar mandi kemudian, membaringkan nya di atas ranjang.


"Istirahat lah." Berkata sambil menarik selimut untuk Gabriella.


"Maaf." Menahan tangan Hazelo ketika hendak pergi.


Masih dengan penampilan seperti tadi, bertelan..Jang dada dan handuk melilit di pinggang, bahkan sisa air di rambut nya belum Hazelo keringkan.


Pintu kamar terbuka, semakin membuat Hazelo terlihat kesal sebab Miguel sudah berdiri tepat di depan pintu kamar.


"Selamat pagi tuan." Sedikit membungkuk menyapa.


(Mimik wajah yang polos tanpa dosa.)


"Enyahlah dari sini Brengs*k..,!!"


Brrugg..!!


Hazelo membanting pintu kamar melampiaskan emosi. "Pantas saja Istri ku mual, Aku saja mulai mual melihat wajah mu."


Mendengkus di balik pintu yang tertutup.


.Apa salah ku tuan muda.


Batin Miguel sambil menuruni anak tangga, Bele yang melihat itu melangkah mendekat.


"Aku ingin bicara Megi."


Miguel menoleh, Ia naikkan tangan nya melihat arloji.


Menunjukan tanpa bicara bahwa ini jam kerja.

__ADS_1


"Oh, maaf tuan Miguel." Sedikit membungkuk sopan. "Bisakan kita bicara tuan, Ada hal yang harus di laporkan."


Miguel diam, Tapi langkah nya menuju rumah belakang. Bele sudah faham, jika Miguel akan mendengarkan yang ingin Bele katakan.


Bele mengikuti langkah Miguel tepat di belakang nya menuju rumah belakang, tepat nya menuju ruang rapat. Tempat di mana Bele selalu melaporkan pekerjaan nya, juga tentang diterima nya pelayan baru pasti akan masuk ke ruangan ini terlebih dahulu sebelum bekerja.


Miguel meraih handle pintu pun masuk kedalam. Menarik kursi kemudian duduk di sana.


Menunggu.


Bele duduk di hadapan Miguel, hanya ada sekat meja diantara mereka.


Bele menarik nafas nya panjang kemudian tersenyum sebelum mulai bicara "Nona Sedang mengandung, Kau tidak memahami jika wanita hamil itu terkadang sangat unik." Bele tidak menggunakan bahasa formal sekarang.


Sebab Ia berbicara sebagai seorang kakak menasehati adiknya.


"Aku sudah mempelajari nya di internet." Jawabnya singkat.


"Kau masih perlu banyak belajar, bukan hanya di internet?!."


Miguel diam, menunggu kelanjutan ucapan Bele.


"Jika wanita sedang hamil, dia berubah manja. Cengeng, menginginkan ini dan itu. Tidak menyukai ini dan itu.


Semua itu sangat normal."


Bele berbicara dengan tersenyum dan sangat lembut.


"Nona hanya mual jika mendengkus bau mu, apalagi melihat wajah mu. Kau tahu?"


Miguel diam.


"Semua orang, ya semua orang kecuali Tuan Muda, Aku dan Viona. Mereka bukan hanya mendengkus bau mu, tapi membayangkan wajah mu tanpa melihat mu langsung


saja mereka sudah MUAL !!." Bele meninggikan suara.


Miguel menghela. "Semenyeramkan itu kah?."


"Kalau sudah tahu untuk apa bertanya."


"Jadi, bersabarlah sebentar. Akan hadir penerus Keluarga Walson dari rahim nona yang akan membawa perubahan besar untuk keluarga Walson." Mata Bele berbinar.


"Tuan muda, tuan besar nona dan juga Nyonya. Tidak terkecuali dirimu akan sangat bahagia. Tugas kita berjalan dengan baik, tidak tugas kita berakhir dengan indah Megi."


Ujar Bele sambil mengusap air mata nya penuh haru.


"Terimakasih kau telah bekerja dengan baik, hasil kerja keras mu menjaga kami. Menjaga tuan muda."


Miguel diam, Ia bangkit berdiri tanpa bicara. Memang selalu seperti itu, Miguel tidak tahu cara mengekspresikan diri nya.


Saat Ia hendak pergi dan meraih handle pintu, langkahnya terhenti.


"Megi, bukalah hati mu untuk wanita. Berbahagialah dengan nya, dengan siapapun wanita yang mampu menaklukkan hati mu, Aku akan mendukungnya." Berkata tanpa menoleh pada Miguel. Masih duduk di meja menatap kursi yang telah kosong dihadapan nya.


"Ya, setidaknya aku tidak perlu lagi repot repot mengurus mu di waktu jam makan. hahaha." Ujar Bele sambil tertawa, namun tawa Bele terdengar sangat berat. Entah mengapa Bele malah ingin menangis.


Miguel diam, kemudian kembali meraih handle pintu dan membukanya. Pergi dari sana menghilang di di balik pintu yang tertutup.

__ADS_1


"Dimanakah hati mu akan berlabuh Megi."


__ADS_2