
Tawa Hazelo yang mengudara bersama Gabriella terdengar hingga keluar. Membuat Miguel mendengkus kesal sebab telah lama menunggu mematung di depan pintu.
"Masuk lah Miguel." Terdengar suara tuan muda Hazelo dari dalam kamar.
Tidak lama pintu kamar terbuka, Miguel masuk kedalam melangkah mendekati Hazelo yang masih ber te..LAN..Jang dada sambil duduk menyandar di sandaran ranjang. Sebagian tubuhnya berada di bawah selimut.
Miguel khafal diluar kepala aktivitas apa yang baru saja terjadi, Namun sedikitpun Ia tidak menghiraukan.
Sedangkan Gabriella telah terlebih dahulu melesat ke kamar mandi sebelum Miguel masuk ke kamar.
"Semua sudah dipersiapkan tuan Muda." Miguel melaporkan sambil berdiri tegap dengan raut datar seperti biasa. Ia berada di hadapan Hazelo sekarang.
"Tunggu 1jam lagi. "
"Baik tuan muda." Miguel mengangguk.
"kau boleh pergi." Pungkas Hazelo.
"Baik tuan muda." Sedikit membungkuk kemudian mundur beberapa langkah kebelakang seketika berbalik untuk melangkah keluar.
"Sampai kapan kau akan sendiri?."
Ucapan tuan muda Hazelo membuat Miguel seketika menghentikan langkahnya.
Sontak saja Miguel diam beberapa saat, entah apa yang ada di benak Miguel, yang pasti tidak pernah menyangka ada pertanyaan seperti ini keluar dari bibir Tuan Muda nya.
Miguel terharu? tentu saja, Sebab Ia merasa Tuan Muda Hazelo memperhatikannya. Tidak pernah Ia menyangka Tuan muda Hazelo perhatikannya bahkan sampai sejauh itu.
Miguel menarik nafas nya panjang sebelum memutar tubuh nya
berbalik menghadap Hazelo. Dengan tenang Ia menjawab
"Sampai aku menemukan seseorang ketika bersama nya Aku berkata
Aku tidak menemukan yang seperti mu dalam versi wanita manapun."
Miguel berlalu setelah mengatakan itu keluar dari kamar utama.
"Kau akan menemukan nya Miguel, wanita istimewa seperti yang kau inginkan." Balas Hazelo setelah Miguel menghilang di balik pintu yang baru saja tertutup.
***
Di dalam ruang kerja Hazelo.
Miguel berdiri menyandar di balik pintu yang tertutup. Sebelumnya Ia benturkan kepala nya cukup keras disana. Ucapan tuan muda Hazelo membuat Miguel cukup bereaksi.
Pria yang selalu terlihat sendiri tanpa pernah berinteraksi dengan wanita manapun selain dua wanita yang memanggilnya dengan sebutan MEGI.
Ya, Hanya Bele dan Viona yang dekat dengan nya bahkan sudah seperti saudara.
Miguel menghelakan nafas nya, menetralkan perasaan. Terbesit rasa sepi dan dingin di dalam renung hati nya. Meskipun seketika Miguel menepis rasa itu.
__ADS_1
Teringat pula ucapan ayah Miguel yang menunggu Ia pulang dengan membawa seorang wanita.
***
Satu jam berlalu.
Gabriella telah selesai memoles wajah cantik nya di depan cermin.
"Sempurna." Selalu seperti itu penampilan wanita ini. Dibalut dress terbaik di kelas nya sambil tersenyum cerah menatap wajah nya di depan cermin.
"Kau terlihat sangat senang." Hazelo berkata sambil mengulurkan dasi pada Gabriella.
Rutinitas yang Gabriella lakukan untuk Hazelo memasangkan dasi disetiap hari nya.
"Tentu saja, itu karena Kau akan mengajak ku berkencan bukan?."
Gabriella memasang kan dasi untuk Hazelo sekarang.
"Maaf, lagi lagi Aku hanya mengajakmu menemani ku dalam hal pekerjaan." Hazelo menyentuh dagu Gabriella.
"Tidak apa, tidak perlu meminta maaf. Aku senang menemani mu, Anggap saja ini bulan madu,
bulan madu kita." Gaby menjinjit mencium dahi Hazelo. "Seharusnya kita lakukan ini sejak dulu."
"Apa kau sedang cemburu dengan Bele?."
Gabriella berkerut dahi "Maksud mu?."
Gabriella menggelengkan kepala. "Tidak sayang. Aku hanya merasa bersalah sebab melukai mu saat itu." Gaby merapikan Jas yang Hazelo kenakan lagi, mengalungkan tangan nya di leher dan mengecup bibir Hazelo kemudian.
"Terimakasih karena kau tidak menyerah dan terus bertahan. Maka aku akan membalasmu dengan memberimu hadiah istimewa kelak."
Hazelo berkerut dahi. "Kau mengandung?."
"Tidak, maksud ku belum. Kita mulai program kehamilan sekarang. Carikan aku tim Dokter terbaik, karena Aku sudah siap." Menggenggam kedua tangan Hazelo erat. "Aku sangat mencintaimu."
Hazelo mengulas senyum. Mengecup dahi Gabriella dalam waktu yang lama, meresapi rasa cinta yang mengalir untuk istrinya. "Aku akan mengabulkan yang kau inginkan."
***
Kedua nya pun keluar dari kamar dengan saling menggenggam. Rona bahagia terlihat, sambil menuruni anak tangga melewati Miguel yang menunduk diikuti para pelayan dan penjaga.
Hingga di dalam mobil pun Gabriella menyandarkan kepalanya di pelukan Hazelo dengan tangan masih terus bertaut seolah enggan untuk saling melepas.
Ada cinta yang bermekaran disana.
Bahkan hingga
Armada besi berlogo keluarga Walson siap menerbangkan mereka, tangan itu masih saling bertaut.
"Genggam Aku tuan muda. Jangan pernah Aku kau tinggalkan. Terimakasih kau tetap bertahan meskipun kau tahu semua hal kelam yang pernah Aku lakukan."
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkan mu. Lupakan yang telah berlalu dan tetaplah disisi ku hingga kita menua bersama." Kecup Hazelo pada dahi Gabriella.
Hazelo dan Gabriella masih saling menggenggam hingga masuk kedalam pesawat, Hingga sambil duduk menyandar di dalam pesawat tangan mereka belum juga terlepas.
Miguel pun memasangkan seat belt sebelum ahir nya pesawat pribadi itu lepas landas pun meninggi mengudara.
"Gaby."
Suara Hazelo memecah keheningan.
"Ya?." Gaby menoleh pada Hazelo. Menunggu apa yang Hazelo ingin katakan.
"Kau tidak bertanya mengapa aku membawa mu?."
"Untuk apa bertanya, kemanapun kau ingin aku mengikuti mu maka akan aku ikuti tanpa perlu bertanya kau akan kemana. Kau selalu berusaha membuat aku senang bukan?, apa perlu lagi di tanyakan?." Berkata sambil melepaskan seat belt kemudian memeluk pinggang Hazelo.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Hazelo mengusap usap rambut Gabriella, mengecup kepala nya lagi.
"Tetaplah disisi ku. Apapun yang terjadi."
"I Promise." Berkata sambil mempererat pelukan.
***
London.
Di gedung hotel berbintang berlogo Keluarga Walson.
Disinilah mereka berada.
Setelah disambut dengan sambutan istimewa di awal memasuki hotel ini.
Karpet merah masih membentang tepat di hadapan Gaby saat pintu mobil Limousine terbuka.
"Silahkan tuan muda, nona." Miguel membukakan pintu, kemudian Gabriella berjalan di atas karpet merah dengan menggandeng Hazelo.
Berpegangan pada lengan Hazelo sambil melangkah dengan elegant disisi nya.
Miguel berjalan di belakang Hazelo dengan gaya angkuh khas nya membuat takut semua orang yang menyambut. Langkah dengan sejuta wibawa, sorot mata tajam yang menusuk ulu hati.
Glek..!!
Para staf dan karyawan yang menyambut pun menelan silva.
Baru bisa bernafas lega setelah sang pemilik hotel melintas dan tuan Miguel pun telah menghilang di balik pintu elevator.
-
Next
__ADS_1