
Perempuan cantik berambut pendek dengan totebag itu berada didepan sebuah pintu. Tangannya sudah bersiap untuk mengetuk pintu itu. Beberapa kali dia urungkan karena menyelaraskan detak jantungnya dulu.
"Please dong jantungku. Tolong dikondisikan, ini cuma mau bantuin Stella kok," ucap Elva pada dirinya sendiri.
"Tenang Elva ... tenang ..." ucapnya mengusap dada.
Setelah ketukan pintu yang ketiga, Elva dipersilahkan masuk. Di dalamnya Arthur sedang duduk di depan mejanya. Dosen satu ini tampak lebih ganteng ketika sedang fokus pada pekerjaannya.
"Eh Elva. Silahkan duduk," sapa Arthur.
"Ini punya Stella. Tolong sampaikan kepada dia ya," tambahnya yang kini menutup buku yang tadi dia baca.
"Bagaimana kabar dia?"
Sedikit ada rasa kesal pada diri Elva saat menanyakan kabar Stella. Jelas-jelas dirinya yang ada dihadapannya, tetapi kenapa masih tanya saja kabar Stella. Dosen ini benar-benar kurang peka kepada orang.
"Kabar Stella baik-baik saja Pak. Katanya sudah coba buat menyusun skripsi," jawab Elva. Meskipun agak kesal, Elva harus menjawab pertanyaan dari Arthur tersebut.
__ADS_1
Arthur manggut-manggut mendengar itu dari Elva. Rasa senang dirasakan oleh pria itu, mendengar kabar mantan gebetannya baik-baik saja. Dengan senyum manis yang menggoyangkan hati Elva, Arthur berkata, "Semoga pengerjaan skripsinya lancar."
Elva sudah hampir mengerucutkan bibirnya saat mendengar itu. Bukannya dia yang saat ini ada dihadapannya yang didoakan. Eh malahan Stella.
"Dan semoga kamu juga lancar ya El," sambung Arthur yang membuat Elva langsung mengukir senyumannya. Dapat doa singkat begitu saja kalau dari pujaan hati sudah senangnya bukan main. Begitulah yang dirasakan Elva saat ini.
"Bagaimana kabar bapak? Sudah berhasil move on?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Elva tanpa sadar. Langsung perempuan itu menepuk bibirnya sendiri dengan tangan.
"Maafkan saya Pak," lirih Elva merasa bersalah karena terlalu lancang menanyakan itu.
Perubahan raut muka Arthur begitu jelas terjadi. Dari yang awalnya ceria menjadi sedikit datar. Terlihat dari gaya pria itu menghela napasnya dalam-dalam. Seolah-olah pertanyaan itu mengingatkan pada beban pikirannya saat ini.
Setelah mengatakan itu Arthur mengalihkan pandangannya kearah Elva. Kembali senyuman khasnya terukir indah dari bibir itu. Elva mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak salah tingkah dengan dosennya itu.
"Kamu kenapa Elva?" tanya Arthur yang melihat gelagat aneh dari mahasiswi di depannya itu. Ya, saat ini Elva sedang salah tingkah karena terpesona senyuman sang dosen.
"Tidak apa-apa Pak. Cuma rada gerah saja," kata Elva beralasan sembari cengengesan.
__ADS_1
Bola mata Arthur mengarah pada AC di ruangan itu yang menyala. "Padahal AC-nya kencang ya Pak," lanjutnya masih dengan nyengir.
"Tetapi saja sudah berusaha ikhlas. Memang Stella bukan jodoh saya. Dia sudah milik orang lain. Saya harus ikhlas melepaskannya," lanjut Arthur kembali ke obrolan semula.
"Semoga dia bahagia dengan suaminya. Dan semoga saya segera mendapatkan penggantinya," doanya.
"Aamiin Pak. Semangat Pak," sahut Elva menyemangati.
Dirasa sudah cukup keperluan Elva di ruangan itu. Karena percuma lama-lama disitu, Arthur tidak peka sama sekali dengan perasaan Elva. Alangkah baiknya Elva segera pamitan, daripada sakit hati yang berkelanjutan.
"Elva--- tunggu," teriak Arthur saat Elva sudah mencapai ambang pintu. Hendak keluar dari ruangan itu.
Elva pun langsung menoleh, siapa tahu dosennya itu ingin mengajaknya makan siang atau mengantarkannya pulang. Ya, jika tidak dua-duanya, siapa tahu dosennya itu ingin mengatakan hati-hati dijalan. Lumayanlah, begitulah batin Elva.
##
Apakah yang akan dilakukan Arthur sesuai dengan harapan Elva?
__ADS_1
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.