
Ini adalah hari kedua Stella pulang dari rumah sakit. Sesuai permintaan Andrew yaitu mengajak Stella untuk tinggal di rumah Keluarga Martadinata. Karena rumah itu kosong, hanya ada dirinya saja sendirian. Tidak lama lagi mama dan papanya akan kembali ke Singapura.
"Apakah kamu nyaman tinggal disini sayang?" tanya Andrew saat menemani Stella makan malam di kamar.
Stella menganggukkan kepalanya sembari menikmati makanannya. Dia sama sekali tidak merasa kesepian karena orang tuanya sering mengunjungi Stella di rumah Keluarga Martadinata. Tak jarang juga ibunya membawakan masakannya untuk Stella. Jadi untuk saat ini tidak ada yang berubah dari kehidupan Stella.
"Sayang aku besok mau mulai masuk kampus ya." Stella meminta izin kepada Andrew dan keduanya sepakat saling memanggil dengan sebutan 'sayang'.
"Lho kok sudah masuk kampus aja? Memang sudah benar-benar sehat? Memang magangnya sudah selesai?" Stella diberondong pertanyaan dari Andrew.
"Aku udah sehat kok," jawab Stella penuh semangat sembari terus menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Entah kenapa usai pulang dari rumah sakit. Napsu makannya semakin bertambah.
Rasanya sudah sangat cukup istirahat di rumah sakit dan berlanjut di rumah. Stella tidak merasakan pusing ataupun sakit pada bagian tubuhnya. Perempuan itu sudah benar-benar merasa sehat. Wajahnya pun kembali berseri tidak pucat seperti tempo hari.
"Kalau untuk magang, sebenarnya belum selesai. Tapi kata dosen aku, setelah satu bulan full magang. Nah bulan keduanya masuk magang di pagi hari. Sore harinya masuk kuliah." Stella menjelaskan.
"Yakin kamu mau masuk kuliah besok?" Andrew meyakinkan dan langsung disambut anggukan kepala semangat dari Stella.
__ADS_1
Baiklah Andrew akan menuruti permintaan istrinya itu. Karena Andrew sendiri menyadari betapa bosannya berada di rumah selama penyembuhan Stella itu. Tetapi pria yang sudah menjadi kepala rumah tangga itu terus mewanti-wanti istrinya untuk tetap hati-hati dan jangan terlalu kelelahan.
"Besok aku mau ke kampus pagi ya sayang. Mau ada perlu sama dosen dan teman sekelas," pinta Stella lagi.
"Magangnya izin dulu sama bosnya," imbuhnya seraya nyengir menunjukkan deretan gigi rapihnya.
"Oh jadi sekarang kaya gitu ya? Mentang-mentang sudah jadi nyonya bos Dinata Grup," ledek Andrew sembari menyentil hidung mancung Stella.
Stella pun mengusap hidungnya yang terkena sentilan nakal suaminya itu. Sedikit menunjukkan wajah cemberutnya.
"Oke deh. Besok pagi aku anterin, nanti pulangnya aku jemput," tegas Andrew tak mau dibantah.
"Saya tidak menerima penolakan," ucapnya lagi.
Biasalah si keras kepala memang begitu. Selalu menyela ucapan lawan bicaranya ketika lawan bicaranya hendak mengucapkan penolakan. Suatu kebiasaan buruh Andrew yang harus dirubah. Dan tampaknya Stella harus lebih bersabar dengan sifat keras kepalanya Andrew.
"Jam berapa kamu pulangnya?" tanya Andrew sembari membantu Stella membereskan sisa makan malamnya.
__ADS_1
"Aku kurang tau, soalnya mau ketemu teman satu kelompok dulu," jawab Stella.
"Bagaimana kalau aku pulangnya naik taksi saja sayang?" usul Stella yang langsung mendapat penolakan dari Andrew.
Ya baiklah, tampaknya memang Stella harus menuruti apa yang telah menjadi keputusan suaminya. Toh lumayan juga kan punya supir tampan dan gratis pula. Pasti teman-temannya pada iri. Begitulah sekiranya apa yang dipikirkan Stella.
##
Tahan belum ada adegan mesra atau kejadian yang bikin deg-degan. Tetep ke next bab ya!
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
__ADS_1
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇