
Elva dengan buru-buru bangkit dari duduknya. Matanya tidak beralih dari seorang pria yang mengenakan hoodie berwarna hitam. Kepalanya dia tutup dengan kupluk hoodie yang dia pakai. Berjalan dengan cara menundukkan kepalanya.
"Gue harus berhasil nyusul itu orang," gumam Elva dengan langkah yang cepat.
"Kemana Lo pergi Gue akan kejar Lo. Awas saja sudah buat Gue penasaran," geram Elva.
Mata Elva terus mengawasi kemana perginya orang itu. Dan sialnya memang kafe tersebut amatlah luas. Sehingga membuat ruang gerak orang tersebut lebih leluasa. Belum lagi restoran ramai disaat jam istirahat seperti ini.
Sampai-sampai Elva harus berjinjit agar tetap bisa memantau targetnya. Karena banyak orang yang berlalu lalang dihadapannya. Membuat jarak pandang Elva sedikit terhalang. Namun tidak menyurutkan niat perempuan yang bertubuh mungil itu.
"Kayaknya dia ke toilet nih," ucap Elva.
"Lebih gampang kalau dia ke toilet," imbuhnya segera menyusul orang itu kearah toilet pria.
Sesampainya di toilet yang lumayan ramai itu. Meskipun tidak antre panjang, namun banyak orang keluar masuk toilet silih berganti. Elva menunggu di depan toilet itu. Menyandarkan punggungnya pada dinding. Mengistirahatkan tubuhnya dan mengatur napasnya.
"Capek juga Gue," gumam Elva.
"Demi orang itu Gue lakukan."
Detik demi detik terus berjalan. Elva masih setia menunggu di depan toilet. Hingga kini sudah lebih dari dua puluh menit pria yang dinantinya tidak kunjung keluar. Perempuan itu mondar-mandir tidak jelas di depan toilet pria. Yang membuat orang-orang menatap aneh kepadanya. Namun bukan Elva kalau tidak bersikap bod0h amat.
__ADS_1
"Gue yakin ini orang sengaja sembunyi di dalam toilet," tebak Elva.
"Sengaja lama di toilet untuk menghindari Gue."
"Pinter juga ini orang."
Jika pria misterius itu sengaja bersembunyi di toilet. Berati dia tahu kalau saat ini dia menjadi incaran Elva. Agak sudah bagi Elva untuk menangkap basah orang yang mencurigakan itu.
"Halo?" ucap Elva saat ada panggilan masuk ke ponselnya.
"Iya Gue gak apa-apa. Oke. Gue kesana sekarang," balasnya seraya pergi meninggalkan toilet.
Barusan adalah telepon dari Stella yang menanyakan keberadaan. Pasalnya sudah lebih dari tiga puluh menit Elva izin ke toilet dan belum kembali juga.
"Antri banget tadi di toilet," jawab Elva beralasan.
"Kok Lo kayak ngos-ngosan gitu?" sahut Evan yang mulai menyantap makanannya.
"Hah? Enggak kok," elak Elva.
"Ya sudah mending kita makan dulu," celetuk Andrew menengahi para mahasiswa yang sedang berdebat itu.
__ADS_1
Jika tidak segera ditengahi. Bisa-bisa perdebatan akan terus berlanjut. Dan akhirnya tidak jadi makan siang. Maklum saja mahasiswa yang masih tergolong anak muda. Benar begitu kan pembaca?
"Terima kasih ya Tuan Andrew atas makan siang gratis dan mewahnya," ucap Evan sembari tersenyum. Jujur saja ini makan siang yang paling mewah menurutnya. Apalagi gratis, sungguh senang hati laki-laki itu..
"Santai saja. Sering-seringlah main ke kantor biar bisa makan siang bersama," balas Andrew yang sudah mulai terbiasa dengan sahabat cowok dari istrinya itu.
"Wah memangnya boleh begitu?" Evan memastikan yang langsung mendapat anggukan kepala dari Andrew.
"Wah itu orangnya!" ucap Elva tiba-tiba saat melihat orang yang dia curigai. Dengan langkah cepat, bahkan sedikit berlari. Dia masuk ke dalam mobil dan segara melaju pergi.
"Ada apa El?" tanya Stella bingung.
"Hehe ... nggak apa-apa kok Stell. Cuma salah lihat saja kayaknya Gue," balas Elva.
"Lo harus ceritain semuanya ke Gue!" bisik Evan sangat pelan seraya menyenggol siku Elva.
##
Masih disimpan rapat-rapat siapa orang tersebut ya. Sebentar lagi Elva akan jujur sama Evan biar mereka dapat memecahkan masalah bersama.
⚠️Warning ⚠️
__ADS_1
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.