
"Yah sudah Senin aja nih," keluh Stella saat masuk ke dalam mobil.
"Liburan selesai. Yuk semangat kerja lagi," tambahnya.
Pagi itu Stella dan Andrew akan berangkat ke kantor pusat Dinata Grup. Ini adalah minggu terakhir Stella magang. Jadinya dia ke kantor untuk menyelesaikan laporan magangnya. Dan pagi itu mereka berangkat bersama, tentu saja diantarkan oleh supir pribadi Andrew.
"Yah magangnya udah mau selesai saja nih," kini giliran Andrew yang mengeluh. Karena jika magang telah selesai, itu berarti Stella akan kembali ke kampusnya. Menjalani kuliahnya di semester akhir.
"Pokoknya nanti kalau udah selesai magangnya. Kamu tetep jadi sekertaris pribadi aku ya," pinta Andrew seraya mengecup punggung tangan istrinya. Yang saat ini bertautan dengan jemari tangannya.
"Mau bayar berapa kamu?" tantang Stella.
"Berapa pun maunya kamu sayang," balas Andrew.
Sesampainya di kantor, mereka melakukan pekerjaannya masing-masing. Andrew sibuk dengan rangkaian jadwal meeting-nya. Sedangkan Stella sibuk dengan data laporannya.
*
*
Tiba saatnya waktu istirahat.
__ADS_1
Dua sahabat Stella yaitu Elva dan Evan sudah janjian dengan Stella. Untuk mengunjungi Stella di kantor pusat Dinata Grup. Dan sudah mendapatkan restu dari Andrew juga.
"Aw!" pekik Elva yang bertabrakan dengan seseorang. Hingga membuat beberapa berkas yang ada ditangannya. Berhamburan ke lantai lobby.
"Elva Lo baik-baik saja?" tanya Evan membantu sahabatnya itu untuk berdiri.
"Iya Gue gak apa-apa," jawab Elva dengan mata yang mengikuti arah seseorang yang baru saja menabraknya.
Bukannya meminta maaf, orang yang menabraknya itu melenggang pergi begitu saja. Mata Elva mengikuti arah kepergian orang tersebut. Bagi Elva orang itu tidaklah asing, tapi siapa? Elva terus mengingatnya.
"Apa dia orang itu ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Ya, satu nama menjadi dugaan Elva saat ini. Pikirannya bertanya-tanya kenapa bisa orang tersebut berada disini. Elva yang sejak awal curiga dengan orang tersebut kecurigaannya semakin menjadi-jadi.
"Lo ngelihatin siapa?" lanjutnya.
"Eh eng-enggak kok," jawab Elva terbata.
"Jangan bohong Elva," ucap Evan yang tahu bahwa sahabatnya itu menutupi sesuatu dari dirinya.
Perempuan berambut pendek itu kembali fokus dengan pikirannya. Ingin rasanya Elva menceritakan tentang semua kecurigaannya kepada Evan. Supaya dia mendapatkan masukan atau solusi untuk itu. Namun saat ini dirinya masih belum menemukan bukti-bukti yang membuat orang tersebut harus diwaspadai.
__ADS_1
"Kalau Gue cerita sama Evan sekarang. Gue belum ada bukti apa-apa," ucapnya dalam hati.
"Nanti dikiranya Gue fitnah orang doang lagi," batinnya lagi.
"Sudahlah Gue akan menyelidiki dulu. Baru kalau semua bukti terkumpul Gue akan kasih tau Evan."
Elva segera mengandeng tangan sahabatnya itu masuk ke dalam dan menemui resepsionis. Meminta untuk bertemu dengan Stella si sekertaris presdir di perusahaan itu. Setelah mendapatkan izin, keduanya melangkah ke ruangan Stella.
"Elva Lo kenapa tiba-tiba aneh sih?" Evan mengibaskan tangannya. Melepaskan dari pengangan tangan Elva.
"Tadi aja ngelamun gak jelas. Sekarang buru-buru ngajak masuk ke dalam," gerutunya.
"Tumben aneh banget," imbuhnya.
Saat ini merekam berada di dalam sebuah lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dimana terdapat ruangan presdir dan sekertarisnya. Elva tidak menjawab ucapan dari Evan. Kembali pikirannya fokus pada orang yang menabraknya tadi.
"Tuh kan. Gue bilang juga aneh. Tiba-tiba melamun lagi kan," ucap Evan.
##
Sebenarnya siapa yang dicurigai Elva sih? Sampai-sampai dia kepikiran banget. Ada yang bisa tebak? Kalau bis tebak tulis di kolom komentar ya.
__ADS_1
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.