
Usai sarapan tadi Andrew langsung bergegas ke bandara. Stella tidak diperbolehkan untuk mengantarkan Andrew meskipun ke bandara. Katanya demi keselamatannya dia harus berada di rumah dan selalu dalam pantauan suaminya.
"Telepon Elva dan Evan kali ya biar mereka temenin Gue di rumah," gumam Stella meraih ponselnya.
Menghubungi sahabatnya satu persatu untuk datang kerumahnya. Pastinya dua sahabatnya itu mau untuk datang, karena memang sejak dulu mereka merencanakan untuk ke rumah mewah Stella saat ini. Dan mungkin inilah waktu yang tepat.
"Oke, temen di rumah sudah beres. Sekarang giliran siapin cemilan untuk mereka," ucapnya lagi beranjak menuju dapur.
Guna untuk mengecek persediaan cemilan untuknya. Stella juga membuatkan makanan simpel yang bisa dia masak dengan cepat. Meskipun ada pelayan di rumahnya, Stella tetap ingin memasaknya sendiri.
Disaat sibuk dengan masakan simpelnya itu. Telinganya menangkap suara bel rumah yang berbunyi. Lama terdengar bunyi bel itu, namun tidak segera berhenti. Berati orang yang memencet bel-nya masih disana dan bekum ada yang membukakan pintu.
"Siapa ya? Satpam pada kemana?" gumam Stella pada dirinya sendiri.
Kemudian perempuan itu melepas apron yang ada pada tubuhnya. Bergegas menuju pintu untuk membukanya. Sepertinya tamunya pagi ini tidak sabaran, karena terus-menerus memencet bel.
"Iya sebentar," teriak Stella saat hampir mencapai pintu.
__ADS_1
Mata Stella terbelalak tatkala tidak menemukan siapapun dibalik pintu rumahnya. Dia melangkah keluar, menengok ke kanan dan kiri teras rumah, halaman rumah, taman rumah. Nihil, tidak ada siapapun disana.
Perempuan cantik yang menggunakan selop itu berjalan kearah pos satpam. Disana dia juga tidak menemukan siapapun. Kenapa mendadak rumah besarnya itu kosong melompong.
"Pada kemana sih?" desak Stella seraya menggelengkan kepalanya. Akhirnya dia melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
Langkahnya terhenti tepat sebelum masuk ke dalam rumah. Dibawah kakinya itu ada satu buket bunga mawar biru. Bunga kesukaan Stella dengan warna yang juga menjadi favoritnya. Senyuman manis itu langsung mengembang dari bibirnya.
"Siapa yang kasih bunga?" tanyanya seraya meraih buket bunga mawar biru itu.
"Tau saja bunga kesukaan aku," gumamnya setelah puas menghirup aroma wangi itu.
"Tapi dari siapa bunga ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Suaminya memang orang yang romantis. Tetapi kebetulan Andrew belum tau kalau Stella menyukai bunga mawar biru. Lagian juga Stella lihat pagi ini suaminya berangkat dengan buru-buru. Mana mungkin sempat menyiapkan buket bunga untuknya.
"Kalau dari Andrew pasti juga langsung dikasih. Nggak pakai cara misterius kaya gini. Kenapa harus ditaruh didepan pintu?" Stella memikirkan siapa pengirim bunga ini.
__ADS_1
Dahi perempuan cantik itu sudah berkerut sempurna. Pagi-pagi sudah disuruh mikir yang berat-berat aja nih. Membuat dia penasaran ingin segera menemukan jawaban yang sebenarnya. Daripada menebak-nebak yang tidak jelas seperti ini.
"Ah!" ucapnya seperti mendapatkan sebuah pencerahan.
"Mungkin Andrew menyuruh orang untuk mengirim bunga ini dengan cara misterius. Ala-ala secret admire alis pengagum rahasia," tebak Stella.
Tebakan itu memang yang paling cocok untuk saat ini. Karena suaminya kan orang yang berkuasa, bisa saja menyuruh orang untuk membuat permainan seperti ini. Untuk klarifikasinya, nanti Stella akan menelepon Andrew.
"Terima kasih sayang aku. Kamu sangat romantis," ucapnya sumeringah seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
##
Kalian percaya yang kirim buket bunga itu Andrew atau siapa?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.
__ADS_1