
Sebenarnya Stella takut menanyakan perihal kiriman-kiriman yang dia terima hari ini. Takutnya suaminya itu akan salah paham dan malah sifat posesif-nya kambuh. Maka dari itu Stella sangat hati-hati menyusun kata-katanya.
"Hari ini disana kamu makan apa sayang?" tanya Stella.
"Aku tadi makan sirloin steak," imbuhnya memberikan sebuah kode.
Obrolan melalui video call itu terus berlangsung dengan menceritakan kegiatan mereka hari ini. Stella juga sempat mengkaitkan mengenai sirloin steak juga mawar biru.
"Sayang nanti kalau pulang dari Bali beliin aku mawar warna biru ya," pinta Stella.
"Lho kamu suka mawar biru? Sejak kapan sayang? Biasanya cewek-cewek suka mawar merah atau kalau enggak mawar putih," tanya Andrew.
Deg.
Jantung Stella tersentak kaget saat Andrew baru tahu dirinya menyukai mawar biru. Berarti sudah jelas kalau kiriman-kiriman yang dia dapatkan hari ini bukanlah dari suaminya. Karena Andrew sama sekali tidak peka dengan kode yang diberikan Stella.
"Oh iya. Aku lupa ngasih tahu kamu kalau aku suka mawar biru karena warna biru memang warna kesukaan aku sayang," jelas Stella memberitahu.
__ADS_1
"Apalagi lagi warna biru muda. Memang kamu nggak lihat apa kalau aku suka beli barang warna biru muda?" tanya Stella yang sudah mulai mengerucutkan bibirnya.
Biasanya memang perempuan kalau cowoknya nggak peka dengan apa yang disukai dia. Perempuan itu bakalan tiba-tiba cemberut. Sama kaya pembaca yang punya pasangan kurang peka pasti kaya gitu. Hayo ngaku!
"Ah begitu ya sayang. Maafkan aku yang kurang memperhatikan kamu ini ya sayang," rayu Andrew agar istrinya tidak berlanjut marah.
"Janji deh habis ini aku akan lebih peka lagi sama apapun yang kamu suka. Janji," ungkapnya sambil menunjukkan dua jarinya.
Tanpa terasa waktu video call-an mereka sudah hampir tiga jam lamanya. Stella menyuruh Andrew untuk segera tidur karena besok suaminya itu harus kembali meeting. Meskipun tidak ikhlas, Andrew menuruti saja perintah istrinya itu. Padahal sejujurnya Andrew masih kangen sama Stella. Apalagi malam ini dia harus tidur tanpa istrinya itu. Bisa enggak ya?
"Fix bukan Andrew yang kirim buket bunga sama sirloin steak," gumam Stella yang mondar-mandir di balkon kamarnya.
Daripada pusing sendiri, Stella berniat berbagi pusing sama sahabatnya. Biasanya memang Elva adalah andalannya dalam menguak suatu permasalahan. Elva adalah tipe teman yang bijaksana dan dewasa. Tepat yang sangat cocok untuk berkeluh kesah.
"Dimana Elva?" gumamnya.
Matanya mencari-cari keberadaan sahabatnya itu. Dan ternyata dia sedang berada di kolam renang. Kebetulan dari balkon kamarnya itu, pemandangan kolam renang terlihat jelas.
__ADS_1
"Lho ngapain dia sama Farhan?" tanya Stella yang langsung menuruni anak tangga. Berjalan menuju arah kolam renang untuk menghampiri Elva.
Malam itu kebetulan sekali ada Farhan yang datang kepada Elva. Bertepatan Elva yang akan meminta bantuan kepada Farhan. Jadinya Elva menceritakan awal mula kecurigaan pada Nathan.
"Nah begitulah Bang ceritanya," ucap Elva kepada Farhan. Tadinya Elva memanggil Farhan dengan sebutan tuan. Namun Farhan meminta dirinya dipanggil abang atau bang saja. Dan itu disetujui oleh Elva, katanya supaya lebih akrab.
"Baiklah kita harus bekerjasama. Saya akan segera melacak orang itu dan kita akan menyusun rencana untuk mengungkap semuanya," tegas Farhan.
"Melacak apa? Merencanakan apa?" tanya Stella bingung. Perempuan cantik itu baru saja tiba saat Farhan mengatakan kata-kata terakhir tadi.
##
Apa yang harus menjadi alasan Farhan dan Elva agar Stella jangan mengetahui hal ini dulu.
Dan apa rencana Farhan untuk mengungkapkan semuanya.
⚠️Warning ⚠️
__ADS_1
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.