
Andrew tersenyum sendiri tatkala membaca pesan WhatsApp di ponselnya. Pesan itu adalah pesan dari Stella yang mengabarkan bahwa nomer itu miliknya. Supaya Andrew dapat menyimpan nomernya dan jika ada kepentingan bisa menghubunginya di nomer tersebut.
"Woi bro. Lo ngapain senyum-senyum sendiri?" ucap Mario datang lalu mengangetkan Andrew.
Benar saja, ucapan Mario itu membuat Andrew tersentak kaget. Sontak menoyor pelan kepala sahabatnya itu. "Ngagetin aja Lo!" protes Andrew.
"Habisnya Lo senyum-senyum sendiri," balas Mario.
Malam itu disebuah kafe, Mario mengajak Andrew ketemuan. Katanya sih Mario ingin membicarakan sesuatu yang penting. Jadilah mereka ketemuan malam ini.
"Lo mau ngomong apa sih?" Andrew membuka pembicaraan.
"Kenapa nggak ngomong tadi siang waktu usai meeting aja?" lanjutnya.
Mario hanya nyengir mendengar pertanyaan Andrew. Kemudian dia duduk tepat dihadapan Andrew.
"Urusannya beda bro. Ini masalah pribadi," jawab Mario.
"Emang apaan?" Andrew penasaran.
"Buruan!" lanjutnya.
"Eits! sabar dulu dong bro," balas Mario.
Kemudian dia menyeruput minuman yang sudah ada dihadapannya. Sengaja Andrew telah memesankan dua kopi untuknya dan sahabatnya.
"Jadi gini nih ..." Mario mulai buka suara mengenai maksud dan tujuannya.
"Niat gue menemui Lo, karena gue sangat amat tertarik sama siapa tadi ... em ... " Mario tampak berpikir.
__ADS_1
"Nah sama si cantik Stella, sekertaris baru Lo itu," ucap Mario blak-blakan.
Mendengar itu, Andrew sempat terkejut. Namun, sebisa mungkin dia mencoba menutupinya dan biasa saja.
"Gue mau minta tolong banget sama Lo. Boleh nggak kalau Stella itu dipindahkan ke kantor perusahaan gue. Ya, bilang saja pertukaran pegawai. Tolong bangetlah, kan dia masih baru nih di perusahaan Lo." Mario memohon.
"Soalnya gue udah jatuh cinta sama si Stella semenjak pandangan pertama. Sumpah gue langsung cinta banget sama dia," imbuhnya.
Sejenak Andrew menghela napasnya agak berat, perlahan dia hembuskan. Memang tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat sekaligus rekan kerjanya yang satu ini. Bisa-bisanya dia meminta Stella untuk dipindahkan ke kantor perusahaan dia.
"Sorry, kalau itu gue gak bisa!" jawab Andrew tegas.
"Kenapa nggak bisa?" balas Mario cepat.
"Ya ... em ... em ..." Andrew bingung hendak menjawab apa.
"Ya, karena Stella sudah menjadi pegawai tetap di perusahaan gue!"
"Itu masalah mudah Andrew, Lo Presdir-nya jadi Lo bebas mau apa aja. Masalah pemindahan Stella itu sangat mudah buat Li lakuin," ujar Mario.
"Please, tolongin gue dong Ndrew. Tolong banget. Untuk kali ini saja. Ya ... ya ..." Mario terus memohon.
Andrew menyeruput kopinya, kemudian memalingkan mukanya dari tatapan Mario. Tampak sekali Andrew kesal dengan permintaan konyol sahabatnya itu.
Setelah lama keduanya terdiam, tak saling bicara.
"Ya kalau Lo nggak bisa turutin permintaan gue. Please, gue minta nomer telepon Stella dong," mohon Mario.
"Sekali enggak ya enggak!" tegas Andrew.
__ADS_1
"Tolonglah Ndrew, sekali ini saja," pintanya lagi.
"Nggak akan!" balas Andrew penuh penekanan.
Setelah mengatakan itu Andrew beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Mario. Melihat itu Mario juga bangkit dari duduknya dan berteriak.
"Coba jelaskan apa alasan Lo nggak mau nolongin gue buat dekat sama Stella!" teriak Mario.
Teriakan itu berhasil menghentikan langkah Andrew. Tanpa menoleh ke belakang, Andrew tersenyum sinis melihat tingkah konyol sahabatnya. Kemudian melanjutkan langkahnya.
"Jangan-jangan Lo juga suka sama itu cewek!" teriak Andrew lagi.
Deg~
Ucapan itu membuat ada perasaan yang berbeda pada diri Andrew.
Wah ada apa ini dengan Andrew?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇
__ADS_1