
Dua hari kemudian.
Gadis cantik itu menggeliatkan tubuhnya, tatkala dering suara telepon yang mengusik tidurnya. Padahal hari masih gelap, karena bayangan dibalik korden jendela kamarnya belum tampak sinar matahari pagi. Dengan mata yang masih terpejam, tangannya meraba nakas samping tempat tidur.
"Hah? Pak bos?!" Stella tersentak kaget ketika membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Kenapa pagi-pagi udah telepon?" gumamnya seraya bangun dari tidurnya.
Stella berdehem untuk menstabilkan suaranya. Agar tidak kelihatan dengan jelas kalau dirinya baru saja bangun tidur. Kini posisinya sudah duduk di tepi tempat tidurnya.
"Halo ... selamat pagi Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Stella menjawab panggilan telepon bosnya.
Dalam beberapa menit itu terjadilah obrolan melalui telepon antara bos dan sekertarisnya. Sesekali Stella mengangguk patuh menuruti perintah bosnya. Dan sesekali pula Stella menanyakan sesuatu untuk kembali memastikan.
"Baik Tuan. Akan segera saya laksanakan," ucapan terakhir Stella sebelum akhirnya telepon ditutup oleh Andrew.
Segera Stella mengutak-atik ponselnya untuk melaksanakan perintah dari Andrew. Yaitu memesankan tiket pesawat untuk perjalanan bisnis dadakan. Bagaimana tidak dadakan, kalau Andrew bersama Stella akan berangkat sore ini.
"Syukurlah ... untung dapet tiketnya," ucap Stella bernapas lega.
Setelah berhasil memesan tiket pesawat untuk sore ini. Stella bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kemudian perempuan cantik itu mempersiapkan apa saja keperluan pribadinya yang akan dia bawa untuk menemani bosnya dalam perjalanan bisnis.
__ADS_1
"Kemeja, rok, blazer, celana, sepatu, baju ganti, handuk. Semuanya sudah," ucap Stella ketika mengemasi barangnya.
"Apalagi yang kurang ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Merasa keperluan pribadinya sudah lengkap semua dan masuk dalam satu koper. Stella berlanjut mengemasi berkas-berkas yang harus dia bawa untuk perjalanan bisnis. Sebenarnya semua berkas sudah tertata rapi, hanya saja Stella ingin memastikan bahwa tidak ada berkas yang terlewatkan.
"Semua berkas beres!" ucapnya bahagia sembari memasukan laptop ke dalam tas yang nantinya juga akan dia bawa.
Waktu menunjukkan tepat pukul setengah delapan pagi. Kira-kira Stella menghabiskan waktu dua jam untuk membersihkan diri dan mengemasi semua keperluan perjalanan bisnis. Dan kini saatnya dia berangkat ke kantor untuk memeriksa pekerjaan hari ini dan persiapan perjalanan bisnis.
*
*
Stella menghentikan langkahnya pada salah satu kursi yang mengelilingi meja makan di rumahnya.
"Ada perjalanan bisnis kak. Dapet kabarnya dadakan, tadi pagi," ucap Stella.
"Emang gitu ya kak? Pak bos suka dadakan?" tanya Stella pada kakaknya.
Sembari mengambilkan nasi goreng ke piring Stella. Tiara pun menjawab, "Sebenarnya Tuan Andrew tidak suka yang dadakan. Karena semua jadwalnya sudah tertata sejak jauh-jauh hari."
__ADS_1
Ucapan Tiara terjeda saat dia menuangkan susu untuk adiknya itu. Setelah itu dia pun melanjutkan ucapannya tadi.
"Mungkin karena perjalanan bisnis ini sangat penting dan Tuan Andrew juga baru dapat kabar dadakan dari pimpinan proyek. Jadinya ya begitu dadakan," lanjut Tiara.
"Kadang memang kalau proyek besar yang melibatkan banyak perusahaan seperti proyek yang saat ini berlangsung itu. Suka dadakan, karena melibatkan banyak orang." Tiara masih menjelaskan.
Setelah selesai mengambilkan nasi dan menuangkan susu untuk Stella. Tiara kembali melanjutkan sarapannya.
"Memangnya perjalan bisnisnya kemana dek?" tanya Tiara lagi.
##
Udah ah! biar ada penasarannya dikit. Skip ke bab selanjutnya ya.
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
__ADS_1
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇