
"Maaf, maaf nih! Pak Arthur nggak mungkin curhat sama orang yang baru dikenalnya. Nggak mungkin!" tegas Elva dengan nada tinggi. Membuat sebagian besar orang yang berada di kantin menoleh kearahnya.
"Ngaku aja Lo! Tau darimana?" Elva terus memaksa Nathan untuk mengaku. Dia tidak percaya akan jawaban dari Nathan.
"Hehe ... sebenarnya aku tau itu dari teman aku yang lain," jawab Nathan akhirnya.
"Teman? Siapa?" tanya Elva.
"Adalah teman aku," balas Nathan.
"Siapa?!" bentak Elva.
Merasa terintimidasi dengan beragam pertanyaan Elva. Laki-laki tersebut memutuskan untuk pergi dari kantin. Dengan alasan akan masuk kelas lima menit lagi.
"Terima kasih atas tumpangannya ya. Aku harus ke kelas," pamitnya yang hanya diangguki oleh Stella. Sementara Elva menunjukan wajah judesnya.
"Sok asyik banget jadi orang," gerutu Elva saat Nathan sudah benar-benar pergi.
"Lo jangan terlalu baik sama itu orang," sambungnya.
Stella yang baru saja menyedot minuman dingin miliknya. Mengerutkan alisnya, perasaan Stella juga biasa saja kepada Nathan. Lalu kenapa sahabatnya itu katanya dia terlalu baik.
"Gue biasa saja kok sama dia. Terlalu baik dari mananya?" protes Stella.
__ADS_1
"Kalau Lo ngasih tahu nomer telepon ke orang yang baru pertama kali Lo kenal. Apa itu tidak terlalu baik?" tanya Elva mengingat kejadian tempo hari saat pertama kali bertemu.
Istri dari Andrew itu mengibaskan satu tangannya. Seolah menyangkal pernyataan Elva kalau dia terlalu baik dengan hanya memberikan nomer teleponnya.
"Cuma nomer telepon aja kali. Biasa saja itu tidak terlalu baik," sangkal Stella.
"Elva ... Lo jangan terlalu berprasangka buruk sama Nathan. Dia nggak salah apa-apa sama Lo kan?" ucap Stella.
"Lalu kenapa Lo kelihatannya dendam banget sama dia?" sambungnya.
Selama ini bukannya Stella tidak tahu tentang respon Elva terhadap Nathan. Bahkan sejak pertama kali bertemu Nathan, Stella sudah mengetahui itu. Cuma karena Stella malas saja untuk menanyakan. Jadilah selama ini dia diam saja.
"Lo benar-benar nggak ada kecurigaan sama dia sama sekali gitu?" Elva berucap dengan penuh penekanan. Stella hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Dan Lo tahu sendiri kan, kalau firasat Gue selalu tepat?" lanjutnya.
Kepala perempuan yang duduk di depan Elva itu hanya manggut-manggut. Mengiyakan bahwa pernyataan jika firasat Elva memang selalu benar.
"Tapi Gue merasa dia orangnya baik kok. Nggak macam-macam," ucap Stella.
"Bisa saja firasat Lo kali ini salah. Soalnya Gue memang biasa saja sama dia. Gak ada rasa curiga sama sekali," sambungnya.
"Orang kita ketemu juga palingan pas di kampus. Lagian ke kampus juga seminggu dua kali doang. Mau berbuat jahat juga susah."
__ADS_1
Elva merasa gerah dengan pernyataan dari Stella. Perempuan itu pun menyisir rambut pendeknya dengan jemari tangannya. Capek rasanya membicarakan Nathan dengan Stella.
"Baiklah. Kalau nanti ada apa-apa, Gue sudah peringatkan sejak awal ya." Elva memperingati.
"Ah ngomong apaan sih Lo El? Semua baik-baik saja kok," balas Stella acuh.
Saat dua perempuan itu saling bete, karena tidak sependapat. Akhirnya Evan datang sebagai penengah. Langsung duduk satu meja dengan dua sahabatnya itu.
"Ada apa nih Gue lihat-lihat ramai kayaknya," sapa Evan.
"Sudahlah Gue balik duluan," pamit Stella langsung beranjak dari duduknya.
Percayalah meskipun di dalam persahabatan mereka. Sering terjadi keributan kecil macam ini. Tetapi tidak akan berlangsung lama. Palingan nanti malam mereka sudah baikan lagi. Ada yang seperti itu dengan sahabatnya?
"Ada apa?" tanya Evan kepada Elva.
"Oke. Gue mau ceritain semuanya ke Lo," balas Elva yang bersiap menceritakan tentang Nathan dan segala kecurigaannya.
##
Kira-kira Evan bisa memberikan solusi enggak ya?
⚠️Warning ⚠️
__ADS_1
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.