
Setelah berbagai cara Stella lakukan untuk mengalihkan pembicaraan. Akhirnya mereka terbebas dari jeratan pertanyaan itu. Ayah dan ibunya Stella sudah melupakan itu semua. Saat ini mereka telah berkumpul di halaman rumah.
"Stella ... ini bawa sosisnya ke depan," teriak ibunya Stella dari dapur.
Di malam minggu kali ini, mereka mengadakan barbeque-an di halaman rumah. Menyiapkan tempat pembakaran beserta bahan makanan yang akan dibakar. Diantaranya ada daging sapi, sosis, jagung, dan lainnya.
"Sayang ini sosisnya," ucap Stella kepada Andrew.
Saat itu Andrew dan Boy yang sedang membakar jagung. Meskipun ini adalah pengalaman pertamanya barbeque-an sendiri. Biasanya dia menyuruh pelayan rumah dan tinggal menikmati makanan saja. Berhubung ini di rumah mertua, Andrew harus terlihat mandiri dan serba bisa. Hayo begitu juga kah kalian kalau lagi di rumah mertua?
"Taruh situ aja sayang," perintah Andrew sembari mengarahkan dagunya pada sebuah meja.
"Yah, tuh kan gara-gara kamu ganggu jadi gosong," ucap Andrew kesal. Memperlihatkan jagung yang warnanya sudah berubah menjadi hitam, seperti arang.
"Lho kok aku? Kan aku baru saja datang," protes Stella yang sudah mengerucutkan bibirnya.
"Yah gimana dong ini?" Andrew menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu harus tanggung jawab sayang," ucap Stella seraya meninggalkan suaminya untuk masuk ke rumah.
__ADS_1
Boy yang berada disamping Andrew sibuk membakar daging hanya tertawa menyaksikan perdebatan itu. Dia juga menertawakan Andrew yang membuat jagungnya menjadi gosong. Namun dia memaklumi sang tuan presdir itu. Dia pun juga tahu selama ini hidupnya selalu enak, tidak mungkin melakukan pekerjaan seperti ini.
"Sudahlah kalian jangan ribut," ucap Boy.
"Sini aku ajarin membakar jagung," sambungnya yang sudah beraksi membakar jagung itu.
Pria yang umurnya berbeda sekitar lima tahun dengan Andrew dan sepuluh tahun dari Stella itu terlihat ahli dalam membakar jagung. Tangannya membolak-balikkan jagung seraya mengoleskan bumbu.
"Saya tahu kamu tidak pernah melakukan pekerjaan seperti ini," ucap Boy.
"Jadi saya memaklumi. Dan beginilah caranya membakar jagung," tambahnya.
"Gimana sudah bisa?" tanya Boy.
"Iya seperti sudah Kak," jawab Andrew tersenyum.
Mereka berdua melanjutkan aktivitas membakarnya. Para perempuan menyiapkan makanan lainnya. Ayahnya Stella sedang bermain bersama sang cucu.
"Bagaimana rasanya menikah?" tanya Boy kepada Andrew.
__ADS_1
"Rasanya tidak ingin jauh dari Stella Kak. Merasa Stella sudah sepenuhnya milik aku. Tidak laki-laki yang bisa dekat dengannya selain aku. Jadi kemarin waktu kejadian di restoran itu aku marah," jelas Andrew yang diakhiri dengan nyengir.
Mendengar perkataan Andrew itu, Boy membalasnya dengan senyuman. Dia pun juga menggelangkan kepalanya. Heran dengan pengantin baru itu, jelas saja itu terlalu posesif.
"Apa dasarnya pengantin baru terlalu posesif ya?" Boy menoleh kearah Andrew.
Andrew mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan itu. "Entahlah Kak, itulah yang aku rasakan," ucapnya.
"Saran dari aku sih, coba belajarlah untuk mengurangi sifat posesif itu," ucap Boy menasehati.
"Memang ada baiknya posesif itu. Tapi jangan terlalu berlebih. Masa sama kakak sepupu sendiri sampai cemburu sih?" tambahnya.
"Eh ngomong-ngomong Stella sudah isi belum?" tanya Boy.
Orang yang ditanya bingung hendak menjawab apa. Selama ini saja mereka bermain aman, lagian Stella juga belum siap untuk hamil. Haruskah dia jujur atau beralasan saja?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.
__ADS_1