
"Ih masa Gue menyatakan cinta duluan sih. Gengsilah!" Elva menghendikkan bahunya.
"Gak apa-apa Elva. Ini zamannya emansipasi, gak membedakan cewek atau cowok yang mau nembaak duluan," ucap Stella.
"Nanti Gue bantuin deh," imbuhnya.
Perempuan yang memiliki perasan kepada dosennya itu menggelengkan kepalanya. Menolak mentah-mentah saran dari Stella yang menurutnya tidak masuk akal. Betapa malunya dia menyatakan cinta kepada dosen laki-lakinya.
"Ya udah Gue comblangin mau ya?" tawar Stella cengengesan.
"Apaan sih Lo! Nggak usah!" tolak Elva yang mulai cemberut.
"Kalau cinta itu jangan dipendam nanti kekubur dalam-dalam jadi nyesel lho," goda Stella.
"Kok Lo setelah nikah jadi ngeselin sih Stell?" ucap Elva.
Ini pertama kalinya mereka nongkrong bareng setelah Stella menikah. Menurut Elva, sahabatnya itu menjadi lebih bucin (budak cinta) setelah menikah. Memang benar atau hanya perasan Elva saja?
"Buruan gih kejar pak dosen. Dan buruan nikah, karena nikah itu enak," ucap Stella tersenyum sumringah.
"Eh Lo udah gituan dong. Ih udah nggak p3rawan," ledek Elva.
"Btw gimana rasanya?" sambung Elva bertanya.
__ADS_1
"Pengen tau rasanya?" tanya Stella yang langsung diangguki oleh Elva.
"Rasanya ah mantab!" bisik Stella pada telinga Elva.
Siang semakin terik, kantin pun semakin ramai. Para mahasiswa berlalu-lalang kesana kemari. Sementara dua wanita cantik yang bersahabat itu masih asyik dengan obrolan mereka.
"Aduh kasian banget Pak Arthur," ekspresi Elva ketika mendengar cerita dari Stella.
Ya, saat ini obrolan mereka mengenai perjalanan bisnis Stella di Singapura. Tentu saja membicarakan tentang dia dan Arthur saat disana. Termasuk tentang cerita penculikan dirinya di Singapura.
"Ngeri juga ya. Lo jadi incaran penculik ya sekarang?" tanya Elva.
"Entahlah. Orang iseng paling," jawab Stella santai.
Tak terasa setelah obrolan panjang mereka. Minuman dingin mereka sudah habis tak tersisa di gelas masing-masing. Sementara haus masih melanda, dan obrolan masih akan terus berlanjut.
"Gue mau pesan minum lagi. Lo mau apa?" tanya Stella yang sudah berdiri dari duduknya.
"Gue float coklat aja," balas Elva.
Setelah Stella mengangguk, dia pun membalikkan badan. Tanpa memandang ada orang atau tidak disebalik tubuhnya. Dan ternyata tubuhnya bertubrukan dengan orang lain.
"Aduh maaf ... maaf ... maaf banget," ucap Stella meminta maaf berkali-kali.
__ADS_1
Sembari meminta maaf Stella mencoba mengelap baju laki-laki itu dengan tisu. Baju warna abu-abu muda yang dikenakan laki-laki itu menjadi kekuningan karena ketumpahan jus jeruk yang dipegangnya. Jelas saja karena ditabrak oleh Stella yang berbalik badan.
"Maaf banget ya Aku nggak sengaja," ucap Stella lagi.
"Gak apa-apa kok. Santai saja," jawab laki-laki itu.
"Aduh Aku jadi merasa nggak enak nih sama kamu," ucap Stella.
"Sudah tenang saja, nanti juga kering sendiri kok," balas laki-laki itu.
Kebetulan saat itu laki-laki yang ditabrak Stella, sedang mencari tempat duduk. Karena suasana kantin yang ramai, hampir tidak ada tempat duduk yang kosong. Beruntungnya saat itu pula Stella menawarkan untuk duduk satu meja dengannya dan Elva.
"Oh iya kenalkan Gue Jonathan, panggil saja Nathan," ucap laki-laki itu sembari menyodorkan tangannya kepada Stella.
"Stella."
"Nathan," kemudian menyodorkan tangannya kepada Elva.
Elva menatap aneh pada laki-laki itu. Ada raut mencurigakan dari wajah Nathan. Apakah itu hanya perasan Elva atau memang benar?
Sebelum ke bab selanjutnya jangan lupa klik love (favorit-kan), like bab-nya dan komentar-nya juga ya kakak.
Thankyou 😇
__ADS_1