TAKE DOWN NOVEL INI

TAKE DOWN NOVEL INI
Minta Nomer Telepon


__ADS_3

"Melacak apa? Merencanakan apa?" tanya Stella bingung. Perempuan cantik itu baru saja tiba saat Farhan mengatakan kata-kata terakhir tadi.


Farhan dan Elva menatap kedatangan Stella dengan wajah yang pucat. Lalu mereka harus menjawab apa?


"I-itu no-noa melacak kucing tetangga. Katanya Nona Elva merencanakan ingin memelihara kucing. Nah tetangga sebelah anak kucingnya banyak. Nanti saya akan memintanya untuk dipelihara Nona Elva," jawab Farhan beralasan. Dengan alasan yang tidak masuk akal itu semoga saja nona mudanya itu percaya.


Dilihatnya Stella hanya menganggukkan kepalanya, tanpa protes ataupun curiga. Hal itu membuat Farhan menghela napas lega.


"Elva ke kamar yuk. Gue mau cerita sesuatu," ajak Stella yang langsung dituruti oleh Elva.


Gadis berambut pendek itu mengikuti sahabatnya. Sejenak dia menoleh untuk berpamitan kepada Farhan. Seolah menyampaikan ucapan selamat tinggal dan sampai jumpa besok pagi. Ya, dua orang itu janjian untuk melanjutkan pembahasannya besok pagi.


*


*


Hari kedua Andrew berada di Bali.

__ADS_1


Pria itu memutuskan untuk menikmati sorenya di restoran yang masih satu area tempat meeting-nya. Rasa lelahnya hari ini sudah sedikit mereda dengan pemandangan Pulau Bali di sore hari. Dibawah sana orang-orang berada di pinggir pantai menyaksikan matahari yang hendak tenggelam.


"Stella lagi apa ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Telepon saja lah." Andrew segera merogoh saku celananya untuk mencari ponselnya.


Belum sempat melakukan panggilan kepada istrinya. Pria yang sedang menikmati senja sendirian itu dikagetkan dengan sebuah suara perempuan. Langsung Andrew mendongakkan kepalanya melihat siapa yang baru saja datang.


"Permisi tuan saya boleh ikut bergabung?" tanya perempuan yang masih mengenakan pakaian formal untuk kerja itu.


"E-eh iya silahkan," ucap Andrew terbata karana ragu.


"Saya Rara yang tadi satu ruangan meeting dengan tuan. Saya dari perusahaan X yang bekerjasama dengan Dinata Grup." Rara mengenalkan dirinya.


"O-oh iyakah?" tanya Andrew sedikit ragu.


Segala keraguannya itu seketika sirna tatkala dia mengingat perempuan ini tadi yang menyampaikan presentasi di ruang meeting. Akhirnya mereka menikmati senja itu bersama, mengobrol seputar perusahaan juga hal-hal yang ringan. Ternyata mereka berdua larut dalam obrolan itu.

__ADS_1


"Jadi sekarang kamu tinggal di Jakarta atau Bali?" tanya Andrew yang mulai keranah pribadi.


"Saat ini seringan di Bali. Kadang pulang ke Jakarta satu bulan sekali," jawab Rara.


Awalnya Rara mengira untuk mengajak ngobrol dengan Andrew akan susah. Karena jabatannya sebagai presdir dan dirinya hanya staff biasa. Namun ternyata Andrew merupakan seorang presdir yang ramah. Dan bisa berbaur dengan orang-orang yang ada dibawahnya.


"Ternyata anda tipe presdir yang ramah ya Tuan," puji Stella yang ditanggapi dengan senyuman manis khas Andrew.


Sekilas tentang tipe Andrew jika tentang masalah pertemanan dia memang ramah. Namun di dalam bisnis dan tawar menawar dia termasuk orang yang alot dan jeli. Apalagi ketika dia dikhianati dalam bidang bisnis. Dia akan marah besar bahkan bisa menghancurkan perusahaan yang berbuat licik kepadanya. Seperti apa yang dulu pernah disampaikan Tiara kepada Stella.


"Tuan, apakah saya boleh meminta nomer telepon pribadi anda?" tanya Rara sedikit takut. Namun dengan nyali besarnya dia memberanikan diri untuk menanyakan itu. Karena emang tujuannya sore ini adalah mendapatkan nomer pribadi presdir muda nan tampan itu.


##


Kok datang-datang langsung minta nomer telepon sih. Buat apa woi?


⚠️Warning ⚠️

__ADS_1


Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.


__ADS_2