TAKE DOWN NOVEL INI

TAKE DOWN NOVEL INI
Elva Marah


__ADS_3

"Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa kok Tuan. Cuma buat tanya-tanya seputar perusahaan saja," ucap Rara.


Rara ingin mengurungkan niatnya, melihat perubahan wajah Andrew. Pria tersebut tampak sedikit terkejut tatkala Rara dengan beraninya meminta nomer ponselnya. Padahal hanya orang-orang terdekatnya saja yang memiliki nomer ponselnya.


"Untuk masalah perusahaan kamu bisa hubungi sekertaris atau asisten saya dulu," ungkap Andrew.


"Tetapi untuk kali ini saya kasih nomer pribadi saya," tambahnya.


Tak disangka-sangka Andrew memberikan nomer ponselnya kepada orang yang baru saja dikenalnya. Sebagai imbalan saja karena Rara menjadi teman ngobrolnya sore ini. Dan juga dia merupakan pendengar dan pencerita yang baik. Mungkin lain kali dia bisa mengulangi momen seperti sore ini lagi. Untuk hanya berdiskusi tentang perusahaan atau tentang kehidupan.


"Semoga lain kali kita bisa mengobrol lagi. Saya akan membawa istri saya untuk bertemu dengan kamu," ucap Andrew setelah memberikan nomer ponselnya.


"Kamu mirip sekali dengan istrinya saya kalau diajak ngobrol apa saja selalu nyambung," imbuhnya.


Rara hanya tersenyum malu mendapatkan pujian dari seorang presdir seperti Andrew. Mungkin setelah Stella hanya Rara yang bisa mengajak Andrew mengobrol sampai lupa waktu. Kini sore telah berganti malam, cahaya matahari telah diganti dengan lampu-lampu restoran yang dinyalakan.


Itulah pertanda obrolan kali ini harus dihentikan. Keduanya kembali ke dalam kamar masing-masing. Membersihkan diri dan bersiap untuk menghadiri makan malam bersama rekan-rekan bisnisnya.

__ADS_1


*


*


Kembali ke Jakarta.


Malam ini Elva masih menginap untuk menemani Stella. Perempuan itu menunggu sahabatnya yang belum pulang. Tadi sepulang ujian di kampus, Stella berpamitan ingin ke perpustakaan bersama Nathan. Laki-laki itu beralasan meminta tolong Stella mencarikan sebuah buku.


"Astaga Stella! Kemana aja Lo?" tanya Elva dengan melipat dua tangannya didada. Berdiri di pintu masuk seolah ibu yang memergoki anaknya pulang malam.


"Masuk!" perintah Elva yang sudah menjewer pelan telinga Stella. Persis seperti seorang ibu yang marah kepada anaknya.


"Ampun El. Tapi ini rumah siapa?" protes Stella disela-sela langkah kakinya.


"Eh iya. Ini rumah Lo. Tapi kan gue juga bertanggungjawab kalo Lo kenapa-kenapa," balas Elva.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dua. Terus saja Elva mengomel mengenai tingkah Stella hari ini. Sudah dibilang Elva tidak mau Stella terlalu dekat dengan Nathan. Namun perempuan keras kepala itu tak menghiraukannya.

__ADS_1


"Ih Elva apaan sih. Niat gue cuma mau bantu doang kok. Nganterin dia beli buku. Orang Nathan itu baik-baik aja kok. Lo aja yang parno-an," bela Stella.


"Terus aja Lo bela itu orang ya! Awas nih kalau sampai suami Lo tau Lo deket-deket sama itu orang," ucap Elva menakut-nakuti.


"Awas saja Lo," ancamnya.


Jika sudah membawa-bawa suaminya itulah kelamahan Stella. Benar juga kata sahabatnya itu, jika Andrew tahu hari ini dia pergi berdua dengan Nathan. Stella sudah tidak bisa lagi membayangkan betapa murkanya Andrew nanti. Dia pun bergidik ngeri membayangkan hal itu.


"Mau gue aduin sama suami Lo?" bentak Elva yang langsung dijawab Stella dengan gelengan kepalanya.


##


Cobalah tebak siapa sebenarnya Nathan itu. Kenapa dia ngejar-ngejar Stella mulu. Yuk cus tulis di kolom komentar.


⚠️Warning ⚠️


Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.

__ADS_1


__ADS_2